‘Gencatan Senjata Hanya Lelucon’: Tentara Israel Ceritakan Pembunuhan di Gaza Berdasarkan ‘Dugaan Semata’

Joke

Al-Quds, Purna Warta – Pasukan pendudukan Israel yang ditempatkan di Gaza menggambarkan situasi di wilayah tersebut sebagai kacau dan mematikan. Sejumlah tentara menyatakan bahwa agresi militer yang terus berlanjut serta aturan pelibatan yang tidak jelas telah membuat gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada praktiknya menjadi tidak berarti.

“Menyebutnya sebagai gencatan senjata adalah sebuah lelucon,” kata seorang tentara cadangan Israel kepada Associated Press (AP), saat menceritakan operasi di dekat apa yang disebut sebagai “garis kuning” yang memisahkan wilayah yang dikuasai Israel dengan bagian lain Jalur Gaza.

Tentara tersebut mengatakan bahwa ia menyaksikan pasukan Israel merayakan serangan terhadap sebuah kendaraan yang membawa warga Palestina di dekat garis kuning, yang mengakibatkan seluruh penumpangnya tewas.

Ia dan sejumlah tentara lainnya menyatakan bahwa insiden semacam itu menjadi kejadian yang sering terjadi sejak gencatan senjata yang rapuh mulai berlaku pada Oktober lalu.

Menurut kesaksian tiga tentara, pasukan Israel beroperasi dalam kondisi yang tidak jelas di sepanjang garis pemisah tersebut, di mana warga sipil terkadang mendekati atau melintasi zona yang dibatasi.

Salah seorang tentara mengatakan bahwa pasukan sering kali diperintahkan untuk melepaskan tembakan terhadap siapa pun yang melintasi garis tersebut.

“Setelah gencatan senjata berlaku, perintahnya adalah: jika seseorang melintasi garis itu, tembak dia,” ujarnya.

Kesaksian yang diberikan dengan syarat anonimitas tersebut menggambarkan adanya kebingungan di kalangan pasukan Israel terkait identifikasi target serta perubahan keputusan operasional yang berlangsung sangat cepat di lapangan.

Seorang tentara mengatakan bahwa serangan terkadang dilakukan hanya berdasarkan informasi yang terbatas atau “dugaan semata”, khususnya dalam situasi yang berkembang cepat di sekitar garis kuning.

Meskipun terdapat perjanjian gencatan senjata, lebih dari 900 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, dilaporkan tewas di Gaza sejak kesepakatan tersebut mulai berlaku, menurut otoritas kesehatan setempat.

Pemantau bantuan kemanusiaan dan kelompok hak asasi manusia juga melaporkan terus berlanjutnya kekerasan di dekat garis pemisah, yang batas-batasnya disebut tidak jelas atau tidak konsisten di beberapa wilayah.

Para tentara tersebut mengatakan bahwa ketidakjelasan itu telah berkontribusi pada berulangnya insiden penembakan terhadap individu yang mendekati perbatasan, sementara para komandan sering kali lebih mengutamakan respons cepat dibandingkan identifikasi target secara menyeluruh.

Seorang tentara cadangan menyatakan bahwa sebagian perwira menganggap gencatan senjata hanya bersifat sementara.

“Terdapat perasaan umum bahwa nyawa manusia tidak memiliki nilai,” katanya.

“Kita perlu berhenti menggunakan istilah ini,” ujar tentara lainnya. “Istilah itu tidak membantu orang-orang yang ingin menghentikan perang.”

Laporan militer Israel dan data pemantauan yang ditinjau oleh sejumlah kelompok bantuan menunjukkan bahwa insiden mematikan di dekat garis batas meningkat dalam beberapa bulan terakhir, bahkan ketika kerangka gencatan senjata masih berlaku.

Perdana Menteri rezim Israel, Benjamin Netanyahu, mengklaim bahwa Israel mengendalikan sekitar 60 persen wilayah Gaza dan bahwa perluasan lebih lanjut masih dimungkinkan.

“Garis kuning” yang disepakati dalam gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat awalnya dimaksudkan sebagai batas sementara sambil menunggu penarikan pasukan Israel lebih lanjut.

Namun sejak itu, garis demarkasi tersebut telah bergeser ke depan di sejumlah wilayah, sehingga memperluas zona yang dikuasai Israel melampaui 53 persen wilayah Gaza sebagaimana tercantum dalam peta gencatan senjata awal.

Menurut Forensic Architecture, pada Desember lalu Israel menguasai sekitar 58 persen wilayah Palestina di Gaza dan terus memperluas kehadirannya.

Di beberapa lokasi, garis tersebut ditandai dengan balok-balok beton berwarna kuning yang dilaporkan dipindahkan selama Desember dan Januari seiring kemajuan pasukan Israel, terutama di kawasan perkotaan.

Warga di berbagai daerah melaporkan bahwa mereka terbangun dan mendapati batas tersebut telah bergeser dalam semalam, sehingga lingkungan tempat tinggal mereka masuk ke dalam zona yang baru dibatasi atau berisiko tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *