Teheran, Purna Warta – Seorang analis terkemuka dunia Arab menyebut gencatan senjata di Jalur Gaza masih sangat rapuh, serta menegaskan bahwa Amerika Serikat dan Israel menjadi faktor utama yang menyalakan kembali api perang di kawasan.
Baca juga: Ribuan Warga Palestina yang Terluka di Gaza Berjuang Antara Hidup dan Mati
Gencatan senjata rapuh di Gaza kembali menarik perhatian dunia terhadap akar mendalam konflik antara Palestina dan rezim Zionis, serta perebutan kekuasaan geopolitik di kawasan.
Meskipun gencatan senjata sementara ini telah berhasil menghentikan pertumpahan darah untuk sementara waktu, pertanyaan tentang ketahanannya, proses rekonstruksi Gaza, dan pertanggungjawaban pelaku kejahatan perang masih menjadi fokus perdebatan di tingkat regional.
Dalam wawancara dengan Kantor Berita di Iran, Abdel Bari Atwan, pemimpin redaksi surat kabar Rai al-Youm, menggambarkan gencatan senjata yang sedang berlangsung sebagai “sangat rapuh”, dengan menyoroti rekam jejak panjang Israel dalam melanggar kesepakatan sebelumnya dan menggambarkan prospek perdamaian abadi sebagai “sangat suram.”
Atwan juga menyoroti aspek politik, ekonomi, dan geopolitik dari kebijakan Israel, mulai dari penghancuran besar-besaran infrastruktur Gaza hingga ambisi Tel Aviv untuk mewujudkan rencana “Israel Raya” — hal-hal yang menurutnya menjadi penghalang bagi setiap inisiatif perdamaian sejati di kawasan.
Gencatan Senjata Gaza Sangat Rapuh
Menjawab pertanyaan tentang keberlanjutan gencatan senjata di Gaza, Atwan mengatakan:
“Gencatan senjata ini sangat rapuh, karena rezim Zionis tidak pernah dapat dipercaya. Sebelumnya, banyak perjanjian mengenai gencatan senjata dan pertukaran tahanan telah disepakati, namun tak satu pun benar-benar terwujud. Lihat saja Lebanon — setelah delapan bulan gencatan senjata, Israel telah melanggarnya lebih dari 5.000 kali dan terus menyerang Lebanon hampir setiap hari, menewaskan warga sipil. Hal yang sama bisa terulang di Gaza. Bahkan sekarang, meski ada gencatan senjata, warga sipil masih menjadi korban serangan Israel. Rezim ini tidak pernah menepati komitmennya — tidak di Lebanon, tidak di Yaman, tidak di Gaza, dan tidak pula di Tepi Barat. Karena itu, saya tidak optimis.”
Rekonstruksi Gaza: Janji yang Tak Dapat Dipercaya
Terkait proses rekonstruksi Gaza, Atwan menjelaskan bahwa pemulihan Gaza akan menjadi tahap yang sangat kompleks, karena hampir seluruh wilayah tersebut telah rata dengan tanah.
“Israel telah menghancurkan sekitar 95 persen rumah dan gedung bertingkat di Gaza, membuat lebih dari dua juta orang kehilangan tempat tinggal. Pertanyaannya: apakah Israel akan mengizinkan rekonstruksi dilakukan? Dan jika ya, siapa yang akan menanggung biayanya?”
Baca juga: Dua Tahun Berlalu, Israel Gagal Capai Tujuan Militer Sementara Menghadapi Isolasi Global
Ia menambahkan bahwa meskipun Israel adalah pihak yang menghancurkan Gaza, Tel Aviv justru meminta negara-negara Arab menanggung biaya rekonstruksi yang diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar.
Atwan mengkritik keras dukungan Washington terhadap Tel Aviv, dengan mengatakan:
“Pemerintah Amerika memberi lampu hijau kepada Israel untuk menghancurkan Gaza. Selama AS mendukung rezim Zionis, kejahatan ini akan terus berlanjut, dan rekonstruksi hanya akan menjadi slogan kosong. Prioritas saat ini haruslah menyelamatkan warga Gaza dari genosida, kelaparan, dan kehancuran, serta memastikan bantuan kemanusiaan masuk. Orang-orang benar-benar sekarat karena kelaparan. Kita harus menjaga mereka tetap hidup terlebih dahulu, baru kemudian membicarakan rekonstruksi.”
Rencana Israel untuk Mendominasi Kawasan
Mengenai pengakuan beberapa negara terhadap negara Palestina, Atwan mengatakan:
“Dalam situasi saat ini, hal yang paling penting adalah menjaga gencatan senjata. Membicarakan solusi dua negara atau pembentukan negara Palestina merdeka sudah tidak relevan, karena bahkan Amerika Serikat — yang mengaku pendukung perdamaian — tidak mengakuinya. Trump telah berulang kali menegaskan penolakannya terhadap negara Palestina dan menentang setiap upaya menuju solusi yang berkelanjutan.”
Analis tersebut menegaskan bahwa rakyat Palestina menginginkan negara merdeka di seluruh tanah Palestina, bukan hanya di Gaza dan Tepi Barat. Namun, ia memperingatkan bahwa Israel tidak bermaksud mempertahankan batas wilayah pendudukan tahun 1948, melainkan berupaya mewujudkan “Israel Raya” — yang mencakup wilayah Palestina dan bagian dari Suriah, Lebanon, Arab Saudi, Irak, serta Mesir.
“Rezim Zionis berupaya menguasai seluruh kawasan dan mendesain ulang tatanan geopolitik Timur Tengah,” ujar Atwan.
Agenda Tersembunyi Tel Aviv dan Washington di Gaza
Terkait kemungkinan pengadilan bagi para pemimpin Israel atas kejahatan perang, Atwan menyatakan bahwa para pejabat Tel Aviv berupaya melenyapkan seluruh rakyat Palestina.
Ia menambahkan bahwa, seperti yang pernah dikatakan Trump, tujuan mereka adalah mengubah Gaza menjadi ‘Riviera Timur Tengah’ — wilayah pengungsian yang menguntungkan secara ekonomi.
“Gaza memiliki sumber daya minyak dan gas yang melimpah, dan Israel bersama tim Trump berencana meraup keuntungan ratusan miliar dolar darinya. Untuk mencapai itu, mereka ingin secara bertahap mengusir penduduk Gaza,” jelasnya.
Menurut Atwan, Israel akan menjalankan rencana ini secara bertahap — mulai dari mengumumkan gencatan senjata, kemudian melanggarnya dengan berbagai dalih, hingga menggunakan narasi tersebut untuk keluar dari isolasi internasional.
“Trump melihat Gaza sebagai peluang bisnis, bahkan jika harga yang harus dibayar adalah penderitaan rakyat Palestina,” katanya.
Kawasan di Ambang Perang Baru
Sebagai penutup, Atwan memperingatkan bahwa Timur Tengah berada di ambang perang baru.
“Presiden AS saat ini bukanlah presiden perdamaian, melainkan presiden perang. Ia berkuasa untuk memperkuat rezim Zionis, dan dengan memberikan bantuan sebesar 26 miliar dolar kepada Tel Aviv, ia telah membuka jalan bagi perang-perang mendatang. Selama tidak ada kekuatan regional yang mampu menandingi Amerika dan Israel, kawasan ini akan tetap tidak stabil — mungkin selama puluhan tahun, bahkan berabad-abad,” tegasnya.


