Washington, Purna Warta – Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan menolak permintaan resmi Israel untuk meninjau ulang nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang baru diumumkan antara Washington dan Teheran, menurut laporan sejumlah media Israel.
Menurut koresponden Channel 12 Israel, Yaron Avraham, pemerintah Israel telah mengajukan permintaan resmi kepada Washington agar MoU tersebut ditinjau kembali. Namun, permintaan itu ditolak, sementara para pejabat Israel dilaporkan masih belum mengetahui secara lengkap rincian isi kesepakatan tersebut.
Penolakan Amerika Serikat itu terjadi di tengah meningkatnya kritik dari para pejabat Israel terhadap MoU tersebut. Sejumlah pejabat secara terbuka mempertanyakan isi kesepakatan dan menegaskan bahwa perjanjian itu tidak mengubah sikap Tel Aviv terhadap Teheran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dalam konferensi pers pada Senin bahwa dirinya “tidak yakin mengenai rincian” MoU tersebut.
Media berbahasa Ibrani juga melaporkan adanya “kekecewaan mendalam” dan penolakan terhadap kesepahaman tersebut di kalangan otoritas Israel.
Menurut saluran televisi Israel i24NEWS, para pejabat Israel memandang MoU itu secara negatif, terutama ketentuan yang berkaitan dengan penarikan pasukan dari Lebanon dan penghentian serangan terhadap negara tersebut.
Seorang sumber yang tidak disebutkan namanya dan dikutip oleh i24 bahkan menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai “sebuah penghinaan.”
Sementara itu, para pejabat Israel dilaporkan telah menyampaikan kepada Washington bahwa Israel tidak menganggap dirinya terikat oleh kesepahaman tersebut.
“Kesepakatan dengan Iran dibuat oleh Trump, dan itu adalah keputusannya. Kami memiliki kepentingan kami sendiri,” kata Netanyahu.
Presiden Amerika Serikat sebelumnya mengumumkan gencatan senjata dalam putaran terbaru konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada 7 April.
Pengumuman tersebut muncul di tengah serangan balasan Iran terhadap berbagai kepentingan pihak lawan di kawasan serta setelah Teheran menutup Strait of Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sangat penting bagi perdagangan energi dunia.
Selain melancarkan serangan balasan, Iran juga menyatakan telah merespons pelanggaran terhadap pengaturan gencatan senjata di Lebanon.
Republik Islam Iran secara konsisten menegaskan bahwa penghentian agresi harus mencakup seluruh front, termasuk Lebanon. Teheran juga menyatakan bahwa setiap serangan Israel di masa mendatang terhadap Lebanon atau kelanjutan pendudukan atas wilayah yang baru dikuasai di negara tersebut akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap nota kesepahaman yang telah disepakati.


