Washington, Purna Warta – Dua aktivis pro-Palestina asal Amerika Serikat telah menerima surat panggilan untuk memberikan kesaksian di hadapan dewan juri agung (grand jury) dengan alasan yang belum jelas, meskipun keduanya telah menjalani hukuman penjara atas aksi protes terhadap sebuah perusahaan senjata Israel. Demikian dilaporkan oleh The Grayzone.
Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menerbitkan surat panggilan tertanggal 5 Oktober yang mewajibkan Bridget Shergalis dan Sophie Ross hadir di hadapan dewan juri agung di New Hampshire pada 21 Oktober. Namun, kedua perempuan tersebut baru menerima surat panggilan itu pada 16 Oktober, hanya lima hari sebelum jadwal kesaksian mereka.
“Ini terjadi dua tahun setelah berakhirnya perkara di tingkat negara bagian terhadap kami dan dua terdakwa lainnya terkait aksi terhadap pabrik senjata Elbit di Merrimack, New Hampshire. Meskipun kami belum menerima informasi apa pun mengenai pokok penyelidikan dewan juri agung ini, kami tahu bahwa penyelidikan tersebut pasti menargetkan setidaknya satu orang, dengan tujuan mendakwanya dan pada akhirnya memenjarakannya,” kata keduanya kepada The Grayzone.
Shergalis, Ross, dan seorang aktivis lainnya, Calla Walsh, sebelumnya menghadapi ancaman hukuman penjara hingga 37 tahun masing-masing atas keterlibatan mereka dalam aksi protes pada 20 November 2023. Aksi tersebut mencakup pencoretan bagian luar fasilitas dan penggunaan kunci sepeda untuk memblokir sementara akses ke pintu masuk utamanya.
Kedua perempuan itu kemudian mengakui kesalahan atas dakwaan yang lebih ringan dan dijatuhi hukuman penjara selama 60 hari. Mereka mengakui bahwa tindakan tersebut bertujuan mencegah pabrik itu memproduksi senjata yang akan digunakan untuk mendukung perang genosida Israel di kawasan Asia Barat.
Elbit Systems merupakan perusahaan persenjataan yang berbasis di wilayah Palestina yang diduduki dan menjadi salah satu pemasok utama persenjataan bagi pasukan Israel. Perusahaan tersebut telah menghadapi berbagai aksi protes karena perannya dalam perang genosida terhadap rakyat Palestina.
Sasaran penyelidikan dewan juri agung tersebut masih belum jelas. Namun, terdapat dugaan bahwa para penyelidik mungkin sedang berupaya memperoleh kesaksian untuk menjerat Fergie Chambers, seorang aktivis Amerika yang kaya raya dan telah mendanai berbagai proyek di Asia Barat, termasuk pembangunan toko roti dan fasilitas layanan kesehatan di Gaza.
Chambers saat ini ditahan di Spanyol sambil menunggu proses hukum terkait permintaan ekstradisi dari Amerika Serikat. Otoritas AS menuduhnya terlibat dalam terorisme dan aksi terhadap fasilitas Elbit di Merrimack.
Rincian lengkap tuduhan terhadap Chambers belum diungkapkan kepada publik. Namun, tim pengacaranya menggambarkan perkara tersebut sebagai kasus yang “bermotif politik”.
Shergalis dan Ross mengecam surat panggilan tersebut sebagai upaya penyelidikan hukum yang mencari-cari kemungkinan pelanggaran tanpa sasaran yang jelas. Keduanya mengatakan bahwa mereka tidak dapat mempersiapkan diri secara memadai tanpa mengetahui apa yang akan dihadapi dalam pemeriksaan tersebut.
Pemerintahan Trump semakin meningkatkan penuntutan terhadap para demonstran pro-Palestina dan kelompok-kelompok yang dikaitkannya dengan apa yang disebut sebagai “terorisme politik sayap kiri ekstrem lintas negara”. Istilah tersebut mencakup aktivis lingkungan, kelompok antifasis, jaringan solidaritas Kuba, serta aktivis pro-Palestina.


