Al-Quds, Purna Warta – Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (World Food Programme/WFP) terpaksa memangkas bantuan pangan bagi 500.000 warga Palestina di Jalur Gaza dan 200.000 warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki akibat kekurangan dana yang parah. Pelaksana tugas pimpinan badan tersebut memperingatkan bahwa kehidupan di Gaza masih “sangat brutal”.
Carl Skau, pelaksana tugas direktur eksekutif WFP, mengatakan bahwa jumlah penerima bantuan di Gaza pada bulan ini telah dikurangi dari 1,6 juta menjadi 1,1 juta orang. Sementara itu, di Tepi Barat, jumlah penerima bantuan dipangkas hingga separuhnya, dari 400.000 menjadi 200.000 orang.
Ia mendesak masyarakat internasional untuk segera menyediakan dana sebesar 450 juta dolar AS agar badan tersebut dapat memulihkan bantuan yang telah dipangkas serta mempertahankan penyediaan makanan siap santap dan paket pangan di kedua wilayah tersebut selama enam bulan ke depan.
Menurut WFP, jatah bantuan pangan di Gaza telah dipangkas hingga separuhnya. Keluarga yang masih menerima bantuan hanya akan memperoleh satu paket pangan, bukan dua paket seperti sebelumnya, serta kantong tepung terigu dengan ukuran yang lebih kecil.
Jumlah makanan siap santap yang didistribusikan setiap hari juga turun dari 250.000 menjadi 150.000 porsi. Sementara itu, penduduk yang tinggal di daerah-daerah yang sulit dijangkau, terutama di dekat apa yang disebut sebagai “garis kuning”, kini hanya menerima makanan setiap dua hari sekali. Bantuan tunai juga telah dikurangi bagi 75.000 keluarga.
Badan tersebut menyatakan bahwa mereka masih mampu mendukung operasional toko-toko roti yang memenuhi sekitar sepertiga kebutuhan roti di Gaza, memberikan bantuan gizi kepada sekitar 300.000 perempuan dan anak-anak, serta menyediakan makanan ringan untuk 200.000 anak sekolah. Namun, seluruh upaya tersebut kini berada di bawah tekanan yang sangat berat.
Skau, yang baru saja mengunjungi kedua wilayah tersebut, mengatakan kepada para koresponden PBB dalam sebuah pengarahan dari Yerusalem yang diduduki bahwa tim-tim PBB mencatat sekitar 50 serangan setiap hari di Gaza selama sepekan terakhir.
Meskipun WFP berhasil menekan risiko kelaparan ekstrem sejak gencatan senjata pada Oktober 2025, diperkirakan 1,4 juta orang, atau 67 persen dari total penduduk Gaza, masih menghadapi kerawanan pangan akut pada tingkat krisis atau lebih parah. Sekitar 200.000 orang membutuhkan bantuan pangan segera untuk mencegah kematian akibat kelaparan.
Ia menegaskan bahwa pemangkasan bantuan tersebut bukan disebabkan oleh berkurangnya kebutuhan maupun terbatasnya akses ke wilayah terdampak, melainkan semata-mata akibat kekurangan dana. Pada 2026, WFP menerima dana untuk operasinya di Palestina dalam jumlah kurang dari separuh dana yang diterima pada tahun-tahun sebelumnya.
Situasi ini semakin diperburuk oleh pembatasan yang diberlakukan Israel. Pekan lalu, militer Israel menghentikan sementara masuknya barang-barang komersial, termasuk bahan pangan, ke Gaza. Meskipun kemudian menyatakan akan kembali mengoordinasikan masuknya truk-truk pengangkut barang komersial, militer Israel memperingatkan bahwa laporan mengenai para pedagang yang membayar pajak kepada otoritas Palestina dapat mengakibatkan pencabutan izin usaha mereka.
Skau menyatakan bahwa dalam program bantuan yang telah dikurangi tersebut, prioritas akan diberikan kepada penduduk yang tinggal paling dekat dengan garis kuning, serta orang-orang sakit, para ibu, dan anak-anak yang berisiko mengalami kekurangan gizi.
Di Tepi Barat yang diduduki, Skau mengatakan bahwa meningkatnya serangan oleh para pemukim Israel telah mengubah krisis hak asasi manusia dan perlindungan yang telah berlangsung lama menjadi krisis kelaparan. Kerawanan pangan telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir, dan kini hampir satu juta warga Palestina membutuhkan bantuan pangan.
Selama kunjungannya, ia menyaksikan lahan perkebunan zaitun, kamp-kamp, dan desa-desa yang terbakar.
“Serangan para pemukim selama dua pekan pertama musim panen ini saja telah melampaui jumlah seluruh serangan sepanjang tahun lalu,” ujarnya.
Pemangkasan bantuan WFP terjadi menjelang datangnya musim dingin, di tengah blokade Israel yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, pembatasan berulang terhadap bantuan kemanusiaan dan pasokan komersial, serta operasi militer berkelanjutan yang telah menghancurkan infrastruktur, sektor pertanian, dan sumber penghidupan masyarakat Gaza.
Berbagai tindakan Israel baru-baru ini telah menguras persediaan pangan, memaksa badan-badan bantuan menghentikan operasional mereka, serta menjadikan kelaparan sebagai senjata perang. Kondisi ini berlangsung ketika sekitar 2,1 juta penduduk Gaza masih berada dalam situasi pengungsian, dengan sebagian besar dari mereka kehilangan tempat tinggal.
Skau memperingatkan bahwa “ketika kelaparan menyebar, ketidakstabilan akan mengikutinya”. Ia menambahkan bahwa pangan merupakan “batas yang tidak boleh kita biarkan terlampaui”.
Kekurangan dana dan berlanjutnya kendali Israel semakin menegaskan rapuhnya setiap kemajuan yang dicapai sejak gencatan senjata. Situasi ini memperlihatkan mendesaknya kebutuhan akan akses kemanusiaan tanpa hambatan, diakhirinya blokade dan kekerasan oleh para pemukim, serta penegakan akuntabilitas internasional yang nyata atas bencana kemanusiaan akibat ulah manusia di wilayah Palestina yang diduduki.


