Brigade Givati Menjadi Sasaran Serangan, Kelompok Garis Keras Desak Peningkatan Serangan terhadap Lebanon

Serangan 1

Al-Quds, Purna Warta – Media-media yang berafiliasi dengan Israel melaporkan bahwa Brigade Givati yang merupakan bagian dari tentara Israel di Lebanon selatan telah menjadi sasaran serangan.

Media Israel, mengutip sumber-sumber militer, menyatakan bahwa sebuah objek mencurigakan menyerang sebuah tank yang tergabung dalam Batalion ke-52 dari Brigade elit “Givati”. Hingga saat ini, penyelidikan masih berlangsung untuk menentukan jenis objek tersebut dan memastikan apakah itu merupakan pesawat nirawak (drone) atau rudal berpemandu.

Menyusul tewas dan terlukanya sejumlah personel militer Israel, sejumlah menteri garis keras dalam pemerintahan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyampaikan sikap yang tegas dengan menyerukan peningkatan serangan terhadap Lebanon serta eskalasi pendekatan militer.

Sebuah laporan yang dimuat surat kabar Israel, Haaretz, juga menyoroti adanya perbedaan pandangan di dalam pemerintahan Israel. Laporan tersebut menyebutkan bahwa Netanyahu berupaya meningkatkan ketegangan dengan Iran dan Lebanon demi mencapai tujuan-tujuan politik domestiknya serta menghindari tekanan hukum yang dihadapinya.

Fakta dan Laporan Terkait dari Media Internasional

Sejumlah media internasional melaporkan bahwa pertempuran di Lebanon selatan kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir. Reuters melaporkan bahwa sedikitnya empat tentara Israel tewas dalam serangan yang diklaim oleh Hizbullah terhadap pasukan Israel di Lebanon selatan, sementara Israel melanjutkan serangan udara dan operasi militernya di wilayah tersebut.

Menurut laporan Reuters, sejumlah tokoh politik sayap kanan Israel menyerukan respons militer yang lebih keras terhadap Lebanon setelah jatuhnya korban di pihak Israel. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, juga menyatakan bahwa operasi militer Israel di Lebanon akan tetap berlanjut meskipun terdapat berbagai upaya diplomatik internasional.

Dalam beberapa pekan terakhir, Netanyahu beberapa kali memerintahkan perluasan operasi militer di Lebanon selatan dan serangan terhadap kawasan selatan Beirut yang dikenal sebagai basis utama Hezbollah. Langkah tersebut dinilai sejumlah pengamat berpotensi mempersulit berbagai upaya diplomatik yang sedang berlangsung di kawasan.

Laporan Reuters lainnya juga menunjukkan adanya ketegangan antara pemerintah Israel dan pemerintahan Presiden AS, Donald Trump, terkait kesepakatan diplomatik terbaru yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Washington disebut mendorong deeskalasi konflik regional, sementara sejumlah pejabat Israel tetap mendukung kelanjutan operasi militer terhadap Hizbullah di Lebanon.

Selain itu, berbagai laporan media internasional mencatat bahwa pertempuran yang berlanjut sejak Maret 2026 telah menyebabkan ribuan korban jiwa di Lebanon dan memaksa ratusan ribu warga meninggalkan tempat tinggal mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *