Blokade Rezim Israel Membuat 22 Stasiun Oksigen Gaza Tidak Berfungsi

Gaza, Purna Warta – Setidaknya 22 dari 34 stasiun oksigen di Jalur Gaza terpaksa tidak berfungsi di tengah blokade rezim Israel dan kekurangan suku cadang yang parah, Kementerian Kesehatan Palestina memperingatkan pada hari Sabtu, dengan mengatakan fasilitas yang tersisa juga berisiko ditutup.

Kementerian mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa 12 stasiun yang masih beroperasi berfungsi dalam “kondisi teknis dan mekanis yang sangat kompleks,” sehingga semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan oksigen di fasilitas kesehatan dan penyedia layanan medis.

Ia menambahkan bahwa kapasitas operasional stasiun-stasiun tersebut telah “benar-benar habis” dan beroperasi melebihi kapasitas maksimum di tengah semakin seringnya kerusakan.

Sementara itu, hanya empat dari 30 perangkat yang digunakan untuk mengisi tabung oksigen yang masih beroperasi, kata kementerian tersebut, seraya memperingatkan bahwa perangkat tersebut “dapat berhenti kapan saja” karena tim teknik tidak dapat melakukan pemeliharaan darurat.

“Ketersediaan oksigen bukanlah sebuah kemewahan medis; ini adalah penyelamat bagi banyak departemen penting dan penyelamat jiwa,” tegasnya.

Kementerian memperingatkan bahwa stasiun-stasiun yang tersisa menghadapi “kelumpuhan total,” yang mengancam pasokan oksigen ke rumah sakit dan pasien yang menerima perawatan di rumah.

Mereka menyerukan “pembukaan saluran segera dan langsung” untuk mendatangkan suku cadang dan peralatan teknis yang diperlukan untuk memperbaiki stasiun, serta pengiriman segera stasiun oksigen baru.

Peringatan itu muncul setelah Doctors Without Borders (MSF) mengatakan pada 12 Agustus bahwa pemerintah Israel terus membatasi masuknya oli mesin dan suku cadang yang diperlukan untuk mengoperasikan generator rumah sakit, ambulans, dan fasilitas vital lainnya, sehingga membahayakan ribuan nyawa.

Secara terpisah, Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB mengatakan dalam laporan terbarunya pada hari Jumat bahwa penyeberangan Kerem Shalom tetap menjadi satu-satunya titik masuk operasional barang ke Gaza, sementara pembatasan terhadap beberapa pasokan dan jenis peralatan penting terus berlanjut.

Data terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang diterbitkan pada 11 Agustus dan mencakup periode hingga 31 Juli, juga menunjukkan kesenjangan besar dalam ketersediaan sumber daya dan layanan kesehatan di seluruh fasilitas medis di Gaza.

Gencatan senjata telah diberlakukan di Gaza sejak 10 Oktober 2025, menyusul perang genosida Israel yang menyebabkan kerusakan luas pada sistem kesehatan dan infrastruktur di wilayah tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *