Al-Quds, Purna Warta – Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan kanan ekstrem, Itamar Ben-Gvir, mengatakan bahwa perempuan dan pemuda Lebanon harus diculik sebagai sarana untuk memberikan tekanan kepada kelompok perlawanan Hizbullah.
Pernyataan tersebut disampaikannya dalam rapat kabinet keamanan pada Selasa, ketika ia mendesak para pejabat untuk mengadopsi langkah-langkah yang lebih agresif terhadap Hizbullah di tengah pembahasan mengenai perluasan invasi militer Israel ke Lebanon.
“Mari mulai berpikir di luar kebiasaan mengenai Hizbullah,” kata Ben-Gvir. Ia menambahkan bahwa selain merebut wilayah dan membunuh banyak pejuang Hizbullah, penculikan perempuan dan pemuda mereka serta membawa mereka ke penjara merupakan tindakan yang “paling menyakitkan bagi mereka.”
Pasukan Israel terus mengalami korban jiwa dan kehilangan peralatan militer di wilayah Lebanon selatan.
Sejumlah anggota kabinet dilaporkan turut mendukung peningkatan operasi militer di Lebanon meskipun gencatan senjata yang diumumkan Amerika Serikat pada awal tahun ini masih berlaku.
Pasukan Israel sebelumnya juga telah menculik sejumlah warga sipil Lebanon selama agresi berlangsung, meskipun jumlah pastinya belum diketahui.
Para tahanan tersebut diyakini termasuk dalam kelompok 1.316 orang yang saat ini ditahan berdasarkan undang-undang Israel tentang “kombatan tidak sah” (unlawful combatant), yang juga mencakup warga Palestina dari Gaza dan warga negara Suriah.
Undang-undang yang pertama kali diberlakukan pada tahun 2002 itu memungkinkan pihak berwenang menahan seseorang tanpa dakwaan resmi untuk jangka waktu yang tidak terbatas dan dapat terus diperpanjang.
Berbagai organisasi hak asasi manusia berulang kali mengkritik undang-undang tersebut karena dinilai melanggar standar hukum internasional, dengan mengizinkan penahanan tanpa perintah pengadilan, membatasi akses terhadap penasihat hukum, serta menutup informasi mengenai lokasi dan kondisi para tahanan.
Seruan untuk meningkatkan eskalasi juga disampaikan oleh pejabat Israel lainnya dalam rapat kabinet tersebut. Menteri Yitzhak Wasserlauf mendesak Menteri Keuangan Bezalel Smotrich agar meningkatkan anggaran militer dengan mengatakan bahwa ia harus “membuka kantongnya” untuk angkatan bersenjata dan unit-unit artileri.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, juga mendukung perluasan operasi militer dengan menyatakan bahwa “perdana menteri telah mengambil keputusan penting untuk menyerang, dan kita harus memperluas persenjataan lebih jauh lagi.”
Pembahasan tersebut berlangsung di tengah berlanjutnya serangan Israel terhadap Lebanon meskipun terdapat gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat.
Menteri Pertahanan Lebanon, Michel Menassa, awal pekan ini mengatakan bahwa pasukan Israel telah melakukan sekitar 3.500 serangan serta ratusan ledakan terkontrol sejak gencatan senjata diumumkan pada 17 April.
Menurut otoritas Lebanon, sekitar 1,2 juta orang telah mengungsi di seluruh negeri akibat permusuhan yang masih berlangsung.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan bahwa sedikitnya 3.637 orang telah tewas sejak fase terbaru konflik dimulai pada bulan Maret, termasuk lebih dari 800 korban jiwa yang tercatat setelah pengumuman gencatan senjata pada April.
Para pejabat Israel menyatakan bahwa serangan Hizbullah juga telah menimbulkan korban di pihak Israel. Sedikitnya 34 warga Israel, sebagian besar merupakan tentara, telah tewas sejak Maret, termasuk 18 korban jiwa yang dilaporkan sejak 17 April.


