Madrid, Purna Warta – Menteri Luar Negeri Spanyol, sebagai reaksi atas beredarnya gambar-gambar perlakuan tidak manusiawi Menteri Keamanan Dalam Negeri Israel terhadap para aktivis Armada Sumud yang ditahan, menyatakan bahwa “Ben-Gvir” dilarang memasuki Spanyol.
Menurut laporan jaringan Al-Mayadeen, José Manuel Albares, Menteri Luar Negeri Spanyol, pada hari Kamis menyatakan: “Kami telah menyerahkan nota protes kepada kuasa usaha Israel terkait penahanan para aktivis Armada Sumud.”
Menteri Luar Negeri Spanyol melanjutkan: “Kami menuntut pembebasan segera para aktivis yang ditahan. Menteri Israel (Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Dalam Negeri Israel) yang muncul dalam video brutal tersebut dilarang memasuki negara kami.”
José Manuel Albares, dalam menyinggung ancaman Amerika Serikat terhadap Havana, juga mengatakan: “Hanya rakyat Kuba yang berhak menentukan nasib mereka sendiri. Kami sedang berupaya mengirim bantuan ke Kuba.”
Sementara itu, Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, beberapa jam sebelumnya juga mengecam tindakan Itamar Ben-Gvir terhadap para penumpang Armada Global Sumud yang ditahan dan menyatakan: “Gambar-gambar yang memperlihatkan Ben-Gvir menghina dan tidak menghormati anggota armada bantuan menuju Gaza sama sekali tidak dapat diterima.”
Ketegangan diplomatik antara sejumlah negara Eropa dan Israel meningkat setelah beredarnya video yang menampilkan perlakuan keras terhadap para aktivis internasional yang terlibat dalam misi kemanusiaan menuju Gaza. Dalam beberapa hari terakhir, negara-negara seperti Prancis, Italia, Spanyol, Kanada, Irlandia, dan Portugal dilaporkan mengambil langkah diplomatik, mulai dari pemanggilan duta besar Israel hingga penyampaian nota protes resmi.
Nama Itamar Ben-Gvir selama ini memang menjadi salah satu figur paling kontroversial dalam politik Israel. Sebagai Menteri Keamanan Nasional/Dalam Negeri, ia kerap menuai kritik dari organisasi hak asasi manusia dan sejumlah pemerintah Barat karena sikap garis kerasnya terhadap warga Palestina, aktivis internasional, serta kebijakan keamanan yang dianggap agresif. Beberapa negara Eropa dan kelompok masyarakat sipil juga pernah menyerukan pembatasan diplomatik terhadap dirinya.
Insiden Armada Sumud sendiri kembali menyoroti isu blokade Gaza dan keselamatan aktivis internasional di kawasan tersebut. Berbagai organisasi HAM internasional berulang kali menekankan pentingnya perlindungan terhadap warga sipil dan relawan kemanusiaan berdasarkan hukum internasional. Di sisi lain, pemerintah Israel biasanya menyatakan bahwa tindakan penahanan dilakukan atas dasar keamanan dan pencegahan pelanggaran terhadap blokade maritim yang diberlakukan di sekitar Gaza.
Dalam beberapa tahun terakhir, misi flotilla internasional menuju Gaza sering memicu ketegangan internasional. Banyak aktivis dari berbagai negara Eropa, Amerika Latin, dan Timur Tengah ikut bergabung dalam misi-misi tersebut untuk membawa bantuan atau menarik perhatian dunia terhadap situasi kemanusiaan di Gaza. Beberapa operasi sebelumnya juga berujung pada penahanan peserta oleh otoritas Israel dan memicu kecaman diplomatik global.


