Al-Quds, Purna Warta – Seorang analis Zionis merekomendasikan kepada para pejabat rezim Zionis agar mereka bersiap menghadapi hari ketika Amerika Serikat tidak lagi berada di kawasan.
Menurut analis Israel Alex Nahumson dalam sebuah artikel yang diterbitkan hari ini di surat kabar Maariv menyatakan bahwa warga Israel harus mempersiapkan diri menghadapi hari ketika Amerika Serikat tidak lagi berada di kawasan.
Ia mengakui bahwa aliansi Israel dengan Amerika Serikat merupakan dukungan strategis bagi Israel. Namun, menurutnya, hal tersebut bukan berarti Israel tidak perlu mempersiapkan diri menghadapi hari ketika mereka terpaksa melanjutkan perang sendirian, khususnya dalam menghadapi Iran.
Analis Zionis tersebut menulis:
“Ada sebuah kenyataan sederhana yang harus dipahami Israel: suatu entitas yang tidak mampu mempertahankan dirinya sendiri pada hakikatnya tidaklah mandiri. Hal ini tidak mengurangi pentingnya aliansi dengan Amerika Serikat—yang merupakan salah satu pilar terpenting keamanan Israel. Namun, aliansi merupakan ‘pengganda kekuatan’, bukan pengganti kekuatan mandiri.”
Menurutnya, perilaku Amerika Serikat dalam perang melawan Iran menjadi bukti yang jelas atas hal tersebut. Sebuah perang bersama dapat dimulai dan berbagai pihak dapat bergerak untuk mencapai tujuan bersama. Namun, kemudian dapat tiba pada titik balik ketika kepentingan politik berubah. Dalam kondisi seperti itu, perang dihentikan, upaya untuk mencapai kesepakatan dengan cara apa pun dilakukan, dan musuh diberi kesempatan untuk memulihkan kekuatannya.
Analis Zionis tersebut kemudian menyinggung sejumlah kelemahan rezim Zionis dan menulis bahwa Israel harus membebaskan diri dari ketergantungan sepenuhnya dalam bidang energi, bahkan dalam kondisi perang berkepanjangan.
Menurut pengakuannya, saat ini Israel dalam hal listrik, bahan bakar, gas, dan sumber energi harus mencari alternatif. Hal ini membutuhkan cadangan strategis, desentralisasi, penyimpanan, serta perlindungan infrastruktur, karena energi merupakan aset keamanan, bukan sekadar persoalan ekonomi.
Perang menghabiskan amunisi dengan kecepatan yang sangat tinggi. Rudal, rudal pencegat, bom, peluru, drone, suku cadang, dan komponen elektronik semuanya merupakan persediaan yang dapat habis (yang tanpa Amerika Serikat akan membuat persediaan Israel dengan cepat menipis dan kosong).
Israel tidak boleh sampai berada dalam kondisi ketika, tepat pada saat perang berlangsung, mereka bergantung pada pabrik-pabrik dan keputusan pemerintah asing. Oleh karena itu, Israel harus memikirkan solusi untuk membangun cadangan strategisnya sendiri.
Setelah membahas sejumlah contoh lain terkait persoalan tersebut, penulis kemudian sampai pada persoalan utama dan mimpi buruk yang saat ini dihadapi kaum Zionis. Ia menyatakan:
“Dalam setiap perencanaan strategis, Israel harus mengajukan satu pertanyaan sederhana: jika sekutu terpenting kita besok pagi memutuskan untuk tidak memberikan bantuan yang efektif dalam menangkal ancaman, (dan melarikan diri dari kawasan), bagaimana kondisi kita?
“Jika jawabannya adalah bahwa Israel akan sendirian tanpa kemampuan untuk melancarkan perang yang efektif, maka keamanannya dibangun di atas fondasi yang rapuh dan rentan.”
Menurutnya, bantuan Amerika Serikat, kerja sama intelijen, dan penguatan aliansi harus terus dilanjutkan. Namun, Israel harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencapai kondisi di mana penghentian bantuan tersebut tidak menyebabkan kelumpuhan (padahal saat ini, penghentian bantuan tersebut justru akan menyebabkan kelumpuhan Israel).
Sebab, jika suatu sekutu memutuskan untuk mundur dari medan perang (melarikan diri dari perang dengan Iran), Israel harus mampu melanjutkan jalannya sendiri (mempertahankan kelangsungan hidupnya). Menurut analis tersebut, kemampuan untuk bertahan secara mandiri merupakan salah satu syarat utama bagi kelangsungan hidup Israel.


