Amnesty International Tuntut Pembebasan Segera Dokter Palestina Setelah 500 Hari Penahanan Sewenang-Wenang Oleh Israel

Amnesti Internasional

London, Purna Warta – Seorang pejabat senior Amnesty International mengecam rezim Israel atas terus dipenjarakannya Dr. Hussam Abu Safiya sebagai “500 hari penahanan sewenang-wenang” dan “500 hari ketidakadilan.”

Baca juga: Israel Sahkan Undang-Undang Hukuman Mati Bagi Warga Palestina Terkait Operasi Topan Al-Aqsa

Erika Guevara Rosas, Direktur Senior untuk Riset, Advokasi, Kebijakan, dan Kampanye di Amnesty International, menulis di platform X pada hari Senin untuk menyoroti penderitaan para tenaga kesehatan Palestina yang terus dihukum hanya karena menyelamatkan nyawa di tengah pemboman Israel yang tanpa henti.

“Tenaga kesehatan dihukum karena menyelamatkan nyawa,” tulis Rosas, seraya menyerukan kepada rezim Tel Aviv agar “segera dan tanpa syarat membebaskan” Dr. Abu Safiya dan seluruh tenaga medis Palestina lainnya yang ditahan secara sewenang-wenang.

Dr. Abu Safiya telah mendekam di penjara Israel sejak 27 Desember 2024, ketika pasukan pendudukan menculiknya selama serangan brutal mereka terhadap Rumah Sakit Kamal Adwan, fasilitas medis terakhir yang masih berfungsi di Gaza utara saat itu.

Bahkan setelah serangan udara Israel menewaskan putranya sendiri, dokter yang berdedikasi itu menolak meninggalkan para pasiennya, mencerminkan semangat pantang menyerah para tenaga medis Gaza di tengah kebrutalan Zionis.

Laporan kredibel yang diterima oleh Pelapor Khusus PBB, Tlaleng Mofokeng dan Ben Saul, pada bulan Maret mengonfirmasi bahwa Dr. Abu Safiya telah mengalami penyiksaan serta penolakan sistematis terhadap layanan medis, dan kini nyawanya berada dalam bahaya besar.

Namun, Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Baratnya tetap bungkam, serta menolak mengambil langkah untuk menghentikan kampanye teror rezim Tel Aviv.

Sebuah organisasi hak asasi manusia yang berbasis di Inggris menyatakan bahwa penculikan tersebut merupakan bagian dari kebijakan Israel yang secara sistematis menargetkan tenaga kesehatan Palestina dan menghancurkan sistem layanan kesehatan Gaza, tindakan yang dinilai sengaja menciptakan kondisi bagi kehancuran fisik rakyat Palestina.

Baca juga: Utusan AS Akui Israel Diam-Diam Mengirim Iron Dome ke UEA Selama Perang Melawan Iran

Sejak rezim Zionis melancarkan perang yang disebut sebagai genosida terhadap Gaza pada Oktober 2023, sedikitnya 737 tenaga medis Palestina telah ditahan secara sewenang-wenang. Dalam periode yang sama, lebih dari 1.722 lainnya gugur syahid, dengan rata-rata lebih dari dua orang per hari.

World Health Organization telah mendokumentasikan lebih dari 930 serangan terhadap infrastruktur kesehatan Gaza, yang menyebabkan seluruh 36 rumah sakit mengalami kerusakan atau hancur total, dengan hanya separuh yang masih berfungsi sebagian.

Kekejaman ini disebut sebagai bagian yang jelas dan integral dari kampanye genosida Israel yang bertujuan menghancurkan sistem kesehatan Gaza dan, bersamaan dengan itu, kemampuan rakyat Palestina untuk bertahan hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *