London, Purna Warta – Amnesty International, menyambut baik keputusan Uni Eropa untuk meninjau kembali hubungannya dengan Israel, menyebut keputusan tersebut sebagai “terlambat tetapi perlu,” dan menyerukan penghentian segera semua bentuk kerja sama ekonomi dan militer dengan rezim pendudukan ini.
Menurut Pars Today yang mengutip dari IRNA, Eve Geddie, Kepala Lembaga Eropa Amnesty International, menyambut baik keputusan Uni Eropa untuk meninjau ulang hubungannya dengan rezim Zionis, dan mengatakan, “Penderitaan kemanusiaan rakyat Palestina tak terlukiskan selama 19 bulan terakhir, dan rezim Israel, dengan kekebalan penuh, tengah melakukan genosida di Jalur Gaza.”
Geddie menambahkan, “Penundaan Uni Eropa, bahkan dukungan beberapa negara anggotanya terhadap rezim pendudukan, telah membuat para pejabat Israel berbicara secara terang-terangan mengenai tujuan genosida mereka.”
Pejabat Amnesty International ini memperingatkan bahwa membuang-buang waktu hanya akan mengakibatkan lebih banyak korban jiwa, dan dengan tegas menyatakan, “Uni Eropa dan negara-negara anggotanya harus segera menghentikan perdagangan dan investasi yang berkontribusi terhadap pelaksanaan genosida dan pelanggaran hukum internasional lainnya secara terang-terangan.”
Gelombang kritik internasional, khususnya dari negara-negara Eropa, semakin mengisolasi rezim Zionis dalam beberapa hari terakhir.
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean Noel Barrot, menyebut serangan Israel ke Gaza sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional” dan menyerukan peninjauan ulang perjanjian partisipasi Uni Eropa dengan rezim Zionis.
Barrot juga mendukung pendekatan beberapa negara seperti Belanda dan Spanyol yang meninjau ulang perjanjian tersebut dengan alasan hak asasi manusia.
Parlemen Spanyol sebelumnya telah menyetujui rancangan undang-undang tidak mengikat yang menyerukan pemerintah untuk menghentikan ekspor peralatan militer ke rezim Zionis.
Inggris juga telah menangguhkan negosiasi perdagangan bebas dengan rezim Zionis dan memanggil duta besar Israel ke London.
Menurut surat kabar Israel Yedioth Ahronoth, pejabat kementerian luar negeri rezim Zionis berbicara tentang “tsunami isolasi global” dan menekankan bahwa rezim ini berada dalam situasi internasional terburuk sepanjang sejarahnya.


