Al-Quds, Purna Warta – Pusat Informasi Palestina melaporkan tercatat 17 aksi perlawanan dan operasi yang bersifat khusus di Tepi Barat dan Al-Quds (Yerusalem) dalam 48 jam terakhir.
Pusat Informasi Palestina (Ma‘ta) pada Selasa menyatakan bahwa Tepi Barat dan Al-Quds yang diduduki mengalami 17 aksi perlawanan rakyat dan operasi khusus terhadap Israel selama 48 jam terakhir.
Berdasarkan laporan statistik pusat tersebut, aksi-aksi itu terdiri atas penembakan, upaya menabrak dengan kendaraan, tiga aksi menghadapi pemukim Israel, satu aksi pembakaran kendaraan, serta 11 insiden bentrokan dan pelemparan batu.
Laporan tersebut menyebut bahwa berbagai aksi itu terjadi di wilayah Al-Quds, Ramallah, Nablus, Jenin, Jericho, Bethlehem, dan Hebron.
Salah satu operasi yang disebut bersifat khusus adalah tewasnya seorang pemukim Israel dalam aksi penembakan di dekat permukiman Halamish, Ramallah. Menurut laporan tersebut, aksi itu dilakukan oleh seorang pemuda Palestina dari desa Biddu di kawasan Al-Quds.
Sementara itu, warga di desa Abu Falah, Ramallah, dan kawasan Wadi al-Sya‘ir, Nablus, dilaporkan menghadapi serangan para pemukim Israel. Di Jenin, pos pemeriksaan Ganim menjadi lokasi dugaan upaya menabrak dengan kendaraan, sedangkan di Burqin terjadi bentrokan yang disertai pelemparan batu.
Perkembangan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan di Tepi Barat. Pasukan Israel dan para pemukim Israel terus melakukan operasi, serangan dan pembatasan terhadap warga Palestina di wilayah Tepi Barat yang diduduki. Dalam laporan ini, istilah “operasi perlawanan” merupakan istilah yang digunakan oleh Pusat Informasi Palestina (Ma‘ta) untuk mengategorikan berbagai insiden tersebut.
Kekerasan di Tepi Barat Meningkat
Laporan PBB melalui Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menunjukkan bahwa serangan pemukim Israel di Tepi Barat mengalami peningkatan frekuensi dan penyebaran geografis. Hingga 14 September 2026, OCHA telah mencatat lebih dari 1.600 serangan pemukim yang menyebabkan korban Palestina, kerusakan properti, atau keduanya sejak awal tahun. Rata-ratanya mencapai sekitar 6,7 serangan per hari, dibandingkan sekitar lima serangan per hari pada 2025. Sebanyak 275 komunitas Palestina telah terdampak sepanjang 2026, hampir menyamai 279 komunitas yang terdampak sepanjang 2025.
OCHA juga mencatat bahwa dampaknya tidak terbatas pada korban luka atau kerusakan harta benda. Serangan dan pembatasan akses telah mengganggu kehidupan sehari-hari warga Palestina, termasuk akses menuju rumah, lahan pertanian, fasilitas kesehatan, pendidikan, air dan layanan dasar lainnya.
Serangan Pemukim dan Pengungsian Warga Palestina
OCHA sebelumnya melaporkan bahwa sejak awal 2026, kekerasan pemukim telah menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan warga Palestina kehilangan tempat tinggal. Dalam laporan 4 September, OCHA menyebut lebih dari 3.960 warga Palestina telah mengungsi pada 2026 akibat pembongkaran rumah, pengusiran, serangan pemukim dan pembatasan akses. Lebih dari 2.500 orang di antaranya mengungsi dalam konteks serangan pemukim dan pembatasan akses.
OCHA juga mencatat bahwa pada periode sebelumnya terdapat serangkaian serangan pemukim yang menyebabkan korban luka dan kerusakan terhadap rumah, kendaraan, pepohonan, jaringan air dan infrastruktur lainnya. Di beberapa wilayah, pembatasan akses dan serangan berulang membuat keluarga Palestina meninggalkan komunitas tempat mereka telah tinggal selama bertahun-tahun.
Dengan demikian, 17 operasi yang dilaporkan Pusat Informasi Palestina dalam 48 jam tersebut merupakan bagian dari eskalasi kekerasan yang lebih luas di Tepi Barat, yang melibatkan aksi bersenjata dan bentrokan dari pihak Palestina sekaligus operasi militer Israel, serangan pemukim, pembatasan pergerakan, serta konflik terkait tanah dan permukiman. Data OCHA memberikan gambaran bahwa kekerasan dan dampak kemanusiaan di kawasan tersebut telah meningkat sepanjang 2026.


