Purna Warta – Para warga di Kolombia bagian utara bersiap-siap menghadapi pertumpahan darah akibat konflik yang terjadi antara kelompok-kelompok bersenjata. Warga Kolombia mengatakan belum pernah terjadi kekerasan separah ini sejak tahun 1990an di masa Pablo Escobar.
Baca juga: Thailand Deportasi Puluhan Warga Uyghur ke Cina
Walikota kota Cucuta di Kolombia memberlakukan patroli 48 jam untuk kota dengan populasi mencapai 1 juta penduduk itu dengan harapan mampu mengambil kembali kendali kota. Sebelumnya salah satu kelompok bersenjata Kolombia ELN atau pasukan pembebasan nasional menyerang kantor polisi menggunakan senjata api dan granat serta menghancurkan gerbang tol menggunakan bom mobil.
Gelombang kekerasan ini adalah hantaman terbaru terhadap Presiden Gustavo Petro yang usahanya berdialog dengan kelompok bersenjata gagal membawa kedamaian. Kini, 122.000 warga di kota tersebut membutuhkan bantuan darurat, menurut Project Hope, organisasi kemanusiaan.
“Sangat menegangkan. Polisi dan militer ada di setiap sudut. Semua orang panik karena kita bertanya-tanya, dimana akan terjadi pengeboman berikutnya” ujar Beatriz Carvajal, seorang guru berusia 50 tahun. “Aku tidak ingat pernah melihat hal semacam ini sejak 1990an ketika Pablo Escobar meledakkan apapun yang ia mau”.
Kerusuhan dimulai di wilayah Catatumbo pada pertengahan Januari ketika ELN mulai bertempur dengan faksi-faksi lokal yang kini menjadi Farc atau pasukan revolusi bersenjata Kolombia, membunuh 80 orang, mengusir puluhan ribu orang dan memaksa Presiden Petro mengumumkan siaga nasional.
Baca juga: Pemimpin Kelompok Kurdi di Turki Menyeru Pengikutnya Untuk Letakkan Senjata, Potensi Perdamaian
Pertempuran juga terjadi di hutan Amazon dimana puluhan orang terbunuh.
Kerusuhan dan kekerasan yang terjadi di sejumlah kota sekaligus yang berjarak sangat jauh satu sama lain membuat pemerintah Kolombia kewalahan dan merasa kehilangan kendali atas negara yang belum pernah terjadi sejak puluhan tahun.


