Purna Warta – Reputasi Amerika Serikat memburuk di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump dan reputasi negara tersebut kini tertinggal di belakang China dan Rusia, demikian indikasi sebuah studi tahunan Alliance of Democracies Foundation.
Lembaga nirlaba yang berbasis di Denmark ini didirikan oleh mantan Sekretaris Jenderal NATO Anders Fogh Rasmussen pada tahun 2017 sebagai respons terhadap dugaan kemunduran Washington dari panggung global di tengah masa jabatan pertama Trump. Selama enam tahun terakhir, yayasan ini merilis laporan Indeks Persepsi Demokrasi yang menilai “situasi demokrasi” di berbagai negara di seluruh dunia.
Kembalinya Trump ke tampuk kekuasaan menyebabkan reputasi dan nilai peringkat Amerika anjlok menjadi -16% dari +22% dua tahun lalu. Indikator saat ini lebih rendah daripada China (+7%) dan Rusia (-11%), menurut survei tersebut.
Negara-negara Nordik seperti Swedia, Norwegia dan negara tuan rumah organisasi nirlaba tersebut, Denmark, terdaftar sebagai tiga negara teratas dalam indeks terbaru. Ukraina termasuk di antara lima negara terbawah, menempati peringkat ke-95 dengan nilai -23%.
Survei tersebut dilakukan oleh perusahaan jajak pendapat Nira Data antara 19 Maret dan 21 April, menjangkau lebih dari 94.000 responden di 98 negara. Namun, studi tersebut tidak memberikan banyak detail tentang kriteria yang digunakan dalam penyusunan indeks tersebut.
Kinerja buruk AS “menyedihkan tetapi tidak mengejutkan,” kata Rasmussen ketika laporan itu dirilis. Mantan kepala NATO itu secara tegas menyalahkan Trump atas situasi tersebut, dengan menyebutkan tindakan pemerintahan AS, termasuk perselisihan dengan sekutu Eropa atas berbagai masalah mulai dari kebijakan perdagangan agresif hingga niat terbuka untuk merebut Greenland dari Denmark.
“Kebijakan luar negeri AS selama 18 bulan terakhir, antara lain, mempertanyakan hubungan transatlantik, memberlakukan tarif yang meluas dan mengancam untuk menyerang wilayah sekutu NATO,” kata Rasmussen.
Hubungan transatlantik yang panas semakin diperparah oleh perang AS-Israel melawan Iran, yang tidak disukai banyak sekutu NATO Eropa. Konflik tersebut menyebabkan kelangkaan minyak global dan Eropa menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak.


