Harga Pupuk Melonjak Akibat Perang Iran, Para Petani Di Amerika Merana

petani Amerika

Purna Warta – Perang Amerika terhadap Iran yang berujung pada tertutupnya Selat Hormuz mengakibatkan pengiriman pupuk dari selat tersebut terhenti dan lonjakan harga pupuk yang beredar merugikan banyak petani di Amerika.

Data baru dari American Farm Bureau Federation (AFBF), sebuah firma lobi pertanian, memperingatkan bahwa sekitar 70% petani Amerika mungkin tidak mampu membeli pupuk-pupuk yang dibutuhkan ladang mereka.

Ini adalah hambatan ekonomi yang menyebabkan kebangkrutan pertanian melonjak 46% dari tahun 2024 hingga 2025. AFBF melaporkan bahwa tahun ini 58% anggotanya mengatakan bahwa situasi keuangan mereka memburuk sejak awal 2025.

“Banyak pertanian secara umum berada dalam situasi margin negatif, di mana mereka merugi, dan ini hanya memperparah masalah,” kata Shawn Arita, wakil direktur Pusat Kebijakan Risiko Pertanian Universitas Negeri North Dakota. “Sebelum 1 Maret situasinya sangat sulit dan sekarang tentu jauh lebih sulit.”

Kekurangan tersebut menyebabkan harga pupuk melonjak dari sekitar 400  dolar per ton pada bulan Januari menjadi lebih dari 600 dolar per ton minggu ini, menurut Departemen Pertanian AS. Dampak dari harga tinggi tersebut tidak merata dengan 19% petani di Selatan Amerika terkena dampaknya, dibandingkan dengan 30% di Timur Laut, 31% di Barat dan 67% di Midwest, menurut AFBF.

Para pejabat pemerintahan Trump, termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertanian Brooke Rollins, justru meremehkan dampak inflasi ini.

Rollins mengatakan kepada Fox Business bahwa “Amerika memiliki banyak pupuk” untuk para petaninya. Wakil Presiden Vance mengakui adanya kekurangan tetapi menganggap konflik di balik timbulnya inflasi sebagai gangguan kecil di Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Rubio mengulangi klaim Rollins, mengatakan bahwa hanya pupuk Iran yang terperangkap di Teluk Persia, bukan pupuk Amerika Serikat.

Meskipun AS merupakan salah satu pengekspor pupuk utama secara global, negara ini masih hanya memproduksi sekitar 9% dari pasokan global dan tetap menjadi importir barang tersebut, menurut USDA..

Itulah mungkin alasan mengapa Rollins sekarang mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali inisiatif era Biden yang menjanjikan 900 juta dolar untuk mendanai pembangunan pabrik pupuk baru di AS.

Seandainya inisiatif tersebut dihidupkan kembali atau Selat Hormuz dibuka kembali, para petani akan tetap membayar harga tinggi untuk keperluan pertanian hingga tahun 2027, bahkan hingga tahun 2028, kata Arita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *