Madrid, Purna Warta – Spanyol melalui Kementerian Luar Negeri telah memanggil chargé d’affaires kedutaan Israel di Madrid untuk memprotes serangan terhadap armada bantuan menuju Gaza di perairan internasional serta penangkapan para aktivis pro-Palestina.
Kementerian Luar Negeri Spanyol dalam pernyataannya pada Kamis menyebut telah memanggil Dana Erlich untuk menyampaikan “kecaman terkeras” atas pencegatan konvoi bantuan “Sumud 2”.
Pasukan angkatan laut Israel dilaporkan menargetkan kapal-kapal dari misi Global Sumud Flotilla edisi musim semi 2026 yang bertujuan menembus blokade Gaza dan mengirim bantuan kemanusiaan penting, di lepas pantai Yunani di Laut Mediterania.
Penyelenggara armada bantuan terbesar yang berupaya mencapai Gaza menyatakan bahwa 211 aktivis telah “diculik” dalam operasi tersebut.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez juga mengecam keras serangan Israel terhadap konvoi sipil “Sumud 2” sebagai pelanggaran lain terhadap hukum internasional. Ia menekankan bahwa Uni Eropa seharusnya segera menangguhkan perjanjian kemitraan dengan Israel serta meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghormati kebebasan navigasi sesuai hukum internasional.
Sebelumnya, juru bicara Komisi Eropa Komisi Eropa, Anouar El Anouni, juga mengecam Israel atas dugaan pelanggaran hukum internasional dan serangan terhadap armada tersebut.
Italia turut mengecam tindakan Israel, menyebutnya sebagai “pembajakan laut” terhadap kapal-kapal Sumud yang membawa bantuan ke Gaza, serta menuntut pembebasan segera seluruh aktivis yang ditahan.
Pelapor Khusus PBB untuk wilayah Palestina, Francesca Albanese, menyerukan respons cepat dari Eropa, menilai pencegatan kapal di perairan internasional dekat Yunani sebagai perkembangan berbahaya yang mengancam kepatuhan terhadap hukum internasional.
Secara terpisah, 11 negara termasuk Pakistan, Brasil, Turki, dan beberapa negara lain juga mengecam keras operasi Israel terhadap armada tersebut, serta meminta pembebasan segera para aktivis.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, sebelumnya menyebut tindakan tersebut sebagai “pembajakan laut” dan “aksi terorisme”.
Armada bantuan tersebut merupakan bagian dari upaya internasional untuk menembus blokade Gaza di tengah konflik yang terus berlangsung. Dalam beberapa laporan, operasi sebelumnya juga menunjukkan pola penahanan ratusan aktivis oleh pasukan Israel, yang kemudian sebagian dideportasi setelah penahanan.


