Budapest, Purna Warta – Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orbán, kembali melontarkan kritik keras terhadap rencana Uni Eropa (UE) untuk memasukkan Ukraina sebagai anggota baru, dengan menyebutnya sebagai beban finansial serius bagi negara-negara anggota yang sudah ada dan ancaman terhadap kepentingan domestik nasional.
Dalam sebuah pernyataan di media sosial pada Selasa (4/6), Orbán menulis:
“Bagi Brussel, keanggotaan Ukraina [di UE] adalah isu vital, semacam upaya menutupi kerugian politik di tengah perang yang telah kalah. Tapi kesepakatan ini justru merugikan keluarga-keluarga Eropa. Ukraina akan menghisap setiap euro, forint, dan zloty yang seharusnya digunakan untuk memperkuat keluarga, petani, dan industri Eropa.”
Orbán juga menuduh para birokrat UE bersikap acuh tak acuh terhadap alokasi anggaran blok tersebut. Ia menyindir bahwa bagi mereka “tak masalah apakah uang itu pergi ke Debrecen, Warsawa, Bratislava, atau Kiev,” seraya menegaskan bahwa pemerintah Hongaria harus memprioritaskan rakyatnya sendiri.
Baca Juga : Lebih dari 200 Narapidana Kabur dari Penjara Karachi Usai Gempa Rusak Tembok Penjara
Ia menggambarkan rencana perluasan keanggotaan UE sebagai hal yang “delirium” atau tidak waras.
Kontroversi Dana Bantuan Ukraina
Pernyataan Orbán muncul setelah Komisi Eropa mengusulkan program Ukraine Facility senilai €50 miliar yang dirancang untuk mendukung stabilitas makro-ekonomi Ukraina, rekonstruksi pasca-konflik, dan reformasi agar selaras dengan standar UE dalam empat tahun ke depan.
Namun, inisiatif ini menuai resistensi dari sejumlah pemerintahan yang lebih konservatif dalam hal anggaran, termasuk Hongaria, yang khawatir dana itu akan dialihkan dari kepentingan negara-negara anggota lama dan menambah beban fiskal jangka panjang.
NATO dan Ketegangan Politik
Selain keanggotaan UE, prospek Ukraina untuk bergabung dengan NATO juga masih menjadi perdebatan. Meski seluruh 32 negara anggota NATO telah menyatakan dukungan prinsipil terhadap aksesi Ukraina, waktu pasti masuknya masih belum jelas.
Sementara itu, beberapa pejabat AS yang dekat dengan mantan Presiden Donald Trump menilai bahwa keanggotaan penuh Ukraina dan pemulihan wilayah secara utuh masih belum realistis. Sebaliknya, para pemimpin Eropa seperti Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa Ukraina berada di “jalur yang tak bisa dibalik” menuju keanggotaan.
Baca Juga : India Mulai Alihkan Pembelian Alutsista ke Amerika Serikat
Sikap Blokade Hongaria
Hongaria selama ini dikenal sering memblokir atau menunda berbagai proposal UE terkait bantuan keamanan dan keuangan untuk Ukraina. Orbán berpendapat bahwa langkah-langkah semacam itu bisa membuat UE terlalu meluas dan kehilangan stabilitas internal.


