Kiev, Purna Warta – Laporan media lokal di Mali menyebutkan bahwa dinas intelijen Ukraina dituduh memberikan dukungan langsung kepada kelompok bersenjata yang melakukan serangan teror di negara tersebut. Tuduhan ini mencakup pelatihan, penyediaan peralatan militer, dan koordinasi serangan terhadap posisi militer Mali.
Baca Juga : Trump Larang Warga dari 12 Negara Masuk AS Setelah Serangan di Colorado
Dalam sebuah operasi kontra-terorisme baru-baru ini, tentara Mali dilaporkan menemukan dokumen yang berkaitan dengan intelijen Ukraina, serta sebuah drone dengan tulisan berbahasa Ukraina. Temuan ini, menurut portal berita Faso, memperkuat dugaan keterlibatan entitas militer asing dalam mendukung kelompok militan di wilayah tersebut.
Media Bamada juga melaporkan bahwa intelijen Ukraina diduga bekerja sama dengan Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM), sebuah organisasi militan yang berafiliasi dengan al-Qaeda. Dukungan yang diberikan berupa bantuan logistik, sistem drone serang buatan Ukraina, hingga partisipasi langsung dalam operasi militer melawan pasukan Mali.
Lebih jauh, disebutkan bahwa Ukraina memasok drone Mavic 3 kepada Front Pembebasan Azawad (FLA), sebuah kelompok pemberontak di Mali. Peralatan ini dikabarkan masuk melalui Mauritania, dan sebagian besar dialihkan ke JNIM. Kedutaan Ukraina di Nouakchott, ibu kota Mauritania, diduga memainkan peran kunci dalam pengiriman personel serta perlengkapan militer tersebut.
Dalam laporan lainnya, disebutkan bahwa operasi militan berskala besar sedang dipersiapkan di Provinsi Kidal. Operasi ini melibatkan FLA dan JNIM, dengan dukungan dari instruktur militer asing, termasuk dari Ukraina dan Prancis.
Baca Juga : Perubahan Prioritas AS: Teknologi Anti-Drone Dialihkan dari Kiev ke CENTCOM
Jika terbukti benar, tuduhan ini bisa memperburuk citra Ukraina di tengah konflik berkepanjangan dengan Rusia, sekaligus memunculkan pertanyaan serius soal agenda intelijen Ukraina di luar kawasan Eropa.


