Stockholm, Purna Warta – Aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg, menyatakan dukungannya terhadap Global Sumud Flotilla yang dijadwalkan berlayar menuju Gaza pada akhir Agustus, sebagai bagian dari upaya global untuk mematahkan blokade ilegal Israel atas wilayah yang terkepung itu serta membuka jalur kemanusiaan.
Thunberg menyampaikan hal tersebut dalam sebuah wawancara dengan Press TV pada Sabtu, hanya sehari sebelum armada kebebasan terbesar yang membawa bantuan kemanusiaan dan aktivis dijadwalkan berangkat dari Barcelona menuju Gaza.
Ia menekankan bahwa proyek ini mencerminkan kebangkitan global masyarakat yang bangkit untuk menghancurkan pengepungan Israel terhadap Gaza, khususnya di tengah ketiadaan tindakan nyata dari pemerintah.
“Ketika pemerintah kita gagal untuk bertindak, maka rakyatlah yang akan mengambil alih. Kekejaman mereka dan keterlibatan mereka dalam genosida di Gaza adalah sesuatu yang tidak bisa kita biarkan,” ujar aktivis muda tersebut.
Thunberg menambahkan, sekitar 26.000 pendukung telah mendaftar untuk bergabung dalam misi menuju Gaza ini, yang merupakan upaya ke-38 untuk menembus pengepungan ilegal Israel lewat jalur laut, disertai dengan inisiatif lain melalui darat dan cara lainnya.
Ia juga menekankan bahwa upaya ini merupakan bagian dari kebangkitan global masyarakat yang bersatu dalam menolak genosida yang terus berlangsung di Gaza.
Thunberg menegaskan bahwa fokus dari misi ini bukan pada para peserta, melainkan pada situasi di Gaza. Ia menyerukan agar perhatian tidak lagi diarahkan pada risiko yang dihadapi para aktivis, tetapi pada urgensi aksi tersebut serta alasan di balik pengepungan dan rezim apartheid.
Ia mengecam tindakan Israel—termasuk pendudukan, pengepungan, dan genosida—sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional yang “benar-benar tidak dapat diterima.”
Thunberg juga mengkritik Israel karena telah menghalangi bantuan kemanusiaan pada misi-misi sebelumnya, secara sengaja menyebabkan kelaparan jutaan orang, dan menekankan bahwa misi kali ini digerakkan oleh solidaritas untuk mengakhiri pendudukan dan pengepungan, bukan sekadar mengantarkan makanan.
Menurutnya, rakyat Palestina tidak meminta untuk diselamatkan, melainkan menginginkan akhir dari pendudukan dan pengepungan, dan misi ini merupakan jawaban atas seruan mereka untuk aksi global guna menghentikan keterlibatan dalam genosida.
Ia menambahkan bahwa misi ini adalah salah satu dari berbagai upaya aktivis dan penyelenggara untuk memenuhi janji kepada rakyat Palestina dan mengatasi situasi di Gaza.
Pada 31 Agustus, Thunberg akan berlayar menuju Gaza dari Barcelona bersama Global Sumud Flotilla, bergabung dengan ribuan aktivis dalam misi maritim terbesar yang pernah diadakan untuk mematahkan pengepungan Israel.
Puluhan kapal yang membawa ratusan aktivis dari 44 negara dijadwalkan ikut serta dalam Global Sumud Flotilla.
Misi ini merupakan yang terbaru sekaligus terbesar dari Freedom Flotilla Coalition (FFC) untuk berlayar menuju Gaza dalam upaya mematahkan pengepungan genosida Israel yang didukung Amerika Serikat.
Sumud berarti keteguhan/perlawanan dalam bahasa Arab—mewakili tekad untuk mengakhiri blokade laut Israel dan mengirimkan bantuan kemanusiaan mendesak, termasuk makanan, obat-obatan, dan susu formula bayi bagi rakyat Gaza yang dilanda kelaparan.
Sejak 2 Maret, ketika Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan gerakan perlawanan Palestina Hamas, rezim tersebut menutup seluruh perbatasan dan menghentikan masuknya bantuan kemanusiaan, semakin memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza.
Awal bulan ini, Integrated Food Security Phase Classification (IPC) mengonfirmasi bahwa kelaparan telah terjadi di wilayah Gaza per 15 Agustus.
Saat ini, lebih dari 500.000 warga Palestina menghadapi ancaman kelaparan; pada bulan depan, jumlah itu bisa melampaui 640.000 orang.


