Venezuela Gagalkan Rencana Sabotase Pemilu dan Fasilitas Minyak

Venezuela Gagalkan Rencana Sabotase Pemilu dan Fasilitas Minyak

Caracas, Purna Warta Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengumumkan bahwa pemerintahnya berhasil menggagalkan rencana sabotase dan teror yang didalangi oleh kelompok ekstremis terkait tokoh oposisi, termasuk Maria Corina Machado dan Juan Pablo Guanipa.

Rencana tersebut bertujuan untuk mengganggu pemilu regional dan legislatif Venezuela pada 25 Mei melalui aksi kekerasan dan destabilisasi.

Maduro Tuduh Oposisi Dalangi Rencana Teror

Dalam pernyataannya, Maduro mengecam rencana ini sebagai tindakan amoral yang didukung oleh kepentingan asing. Dia menyebut bahwa plot ini didanai oleh jaringan internasional, termasuk yang terkait dengan Presiden El Salvador Nayib Bukele dan pemimpin oposisi Venezuela Leopoldo López.

Maduro menekankan bahwa pasukan keamanan Venezuela telah menangkap lebih dari 70 orang yang terlibat, sehingga mengamankan proses pemilu. Dia menyebut Machado sebagai “setan jahat”, menegaskan pandangan pemerintah tentang perannya dalam upaya destabilisasi.

Penyitaan Senjata & Pencegahan Sabotase

Wakil Presiden Diosdado Cabello memperkuat pernyataan Maduro dengan mengungkap penyitaan lebih dari 400 senjata militer, banyak di antaranya berasal dari AS. Senjata-senjata ini rencananya akan digunakan untuk menyerang misi diplomatik dan infrastruktur penting.

“Kami menemukan orang-orang di Zulia, Caracas, Carabobo, dan Los Teques dengan persenjataan yang ditujukan untuk mengganggu perdamaian,” kata Cabello. Dia menyebut para tersangka terhubung dengan organisasi teroris sayap kanan dan merencanakan serangan terhadap kedutaan serta kantor internasional di Venezuela.

LSM Dituding Dukung Ekstremisme

Investigasi lebih lanjut, termasuk penangkapan Juan Pablo Guanipa, mengungkap komunikasinya dengan LSM seperti Médicos Unidos de Venezuela, PROVEA, dan Foro Penal. Pemerintah menuduh organisasi ini memberikan perlindungan bagi operasi teror dengan kedok advokasi HAM.

Cabello juga menyebut adanya pertemuan perencanaan di Kolombia yang melibatkan Machado dan Iván Simonovis. Senjata, misil, dan bahan peledak disita, bersama buku catatan milik Guanipa.

Pemerintah Venezuela lebih lanjut menuduh mantan presiden Kolombia Juan Manuel Santos, Iván Duque, dan Álvaro Uribe mendanai rencana teror ini, menunjukkan keterlibatan internasional yang luas.

Langkah Keamanan Pemerintah

Sebagai respons, pemerintah menghentikan sementara penerbangan dari Kolombia untuk mencegah infiltrasi pasukan bayaran.

Cabello melaporkan bahwa lebih dari 60 serangan terhadap fasilitas minyak digagalkan dalam 10 hari menjelang pemilu 25 Mei.

“Tidak ada aktivis HAM yang bisa membenarkan penanaman bom di rumah sakit,” tegasnya, menolak klaim oposisi bahwa aksi mereka damai.

Dia juga mengecam kampanye media yang didukung asing terhadap pejabat Venezuela, menyebutnya sebagai bagian dari agenda ekstrem kanan transnasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *