Trump Disebut Bersembunyi di Truk Pengangkut Makanan karena Ancaman Pembalasan Iran

Ketakutan

Washington, Purna Warta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menggunakan cara pengamanan yang tidak biasa saat meninggalkan Turki di tengah kekhawatiran terhadap ancaman pembalasan Iran. Menurut laporan yang dikutip media terkait, Trump secara diam-diam dipindahkan dari pesawat kepresidenan ke sebuah pesawat militer yang lebih kecil dengan menggunakan truk katering/pengangkut makanan. Laporan tersebut menyebut operasi itu dilakukan secara rahasia karena adanya ancaman pembunuhan yang dinilai kredibel dari Iran.

Alireza Majidi, penanggung jawab desk regional kelompok Tafsir-e Jang (Analisis Perang) Tasnim, menanggapi pemberitaan mengenai Trump yang disebut bersembunyi di dalam truk pengangkut makanan di Turki. Ia menyatakan bahwa laporan yang dikaitkan dengan The Washington Post menunjukkan Trump, ketika berada di Turki, terpaksa menggunakan kendaraan tersebut untuk berpindah dari pesawatnya dan kemudian menaiki pesawat lain di bandara karena kekhawatiran terhadap kemungkinan aksi pembalasan Iran. Namun, perlu dicatat bahwa klaim mengenai detail operasi tersebut sebaiknya dipahami sebagai laporan media mengenai operasi keamanan, bukan sebagai pernyataan resmi bahwa Trump secara pribadi “bersembunyi” karena ketakutan.

Laporan yang terbit pada Agustus 2026 menyebut bahwa pada 8 Juli 2026, Trump dievakuasi secara rahasia dari Turki setelah muncul ancaman pembunuhan yang dinilai kredibel dari Iran. Alih-alih menggunakan Air Force One seperti biasa, ia disebut dipindahkan menggunakan kendaraan katering menuju pesawat C-32A yang kemudian membawanya ke Inggris. Operasi tersebut dilakukan tanpa diketahui oleh sebagian staf dan awak media yang berada dalam rombongan.

Peristiwa tersebut menjadi sorotan karena menunjukkan tingginya tingkat kewaspadaan keamanan terhadap Presiden AS di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran. Penggunaan kendaraan katering sebagai bagian dari operasi pemindahan rahasia pada dasarnya merupakan taktik untuk menyamarkan pergerakan presiden dan mengurangi kemungkinan pihak yang mengancam dapat mengetahui pesawat mana yang sebenarnya digunakan Trump.

Pengalaman Trump di Pangkalan Al-Asad

Dalam artikel sumber Iran tersebut, peristiwa di Turki dibandingkan dengan kunjungan Trump ke Pangkalan Udara Al-Asad, Irak, pada Desember 2018. Ketika itu, Trump memang mengungkapkan sendiri bahwa pesawat yang membawanya dan Melania Trump mendarat dalam kondisi sangat gelap, dengan lampu dan jendela pesawat dimatikan sebagai bagian dari pengamanan. Dalam keterangannya saat berada di Al-Asad, Trump mengatakan bahwa ia memiliki kekhawatiran mengenai keselamatan perjalanan tersebut, terutama karena tindakan pengamanan yang dilakukan selama penerbangan.

Kunjungan tersebut berlangsung pada 26 Desember 2018 dan merupakan kunjungan mendadak Trump ke pasukan AS di Irak. Arsip resmi Gedung Putih mencatat bahwa Trump datang ke Al-Asad untuk bertemu dengan personel militer AS dan menyampaikan penghargaan kepada mereka. Dengan demikian, bagian dari narasi mengenai pesawat yang melakukan pendaratan dalam kondisi gelap memang memiliki dasar dokumenter resmi, meskipun mengaitkannya secara langsung dengan “ketakutan terhadap Iran” memerlukan konteks tambahan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *