Media Inggris: Sebuah Rencana Telah Dimulai yang Dapat Berujung pada Kejatuhan Donald Trump

Tarahi

London, Purna Warta – Sebuah media Inggris mengungkap adanya perpecahan mendalam dan belum pernah terjadi sebelumnya di dalam gerakan sayap kanan yang berafiliasi dengan Trump, terkait kelanjutan dukungan terhadap presiden tersebut, menyusul munculnya keraguan atas kapasitas mental dan kinerjanya.

Menurut laporan media Inggris tersebut, Sarah Baxter, direktur Pusat Pelaporan Internasional Marie Colvin, menyoroti meningkatnya kekacauan politik di Amerika Serikat, dengan ketegangan yang kian besar terkait masa depan Trump serta perpecahan terbuka dalam kubu politiknya yang dikenal sebagai gerakan MAGA.

Dalam artikelnya di situs The i Paper, ia menegaskan bahwa perdebatan mengenai kemungkinan penggunaan Amandemen ke-25 Konstitusi Amerika Serikat untuk mencopot presiden karena alasan kesehatan mental atau fisik kini bukan lagi sekadar teori, melainkan telah menjadi bagian dari wacana politik di Washington, meskipun pelaksanaannya dianggap sangat sulit dan menyerupai kudeta politik.

Media tersebut juga melaporkan adanya upaya serius untuk menyingkirkan Trump. Menurut Baxter, ancaman terbaru Trump yang dianggap berlebihan dan tidak rasional dalam konteks konflik dengan Iran—termasuk pernyataan tentang “menghancurkan peradaban”—tidak hanya mengejutkan Washington, tetapi juga memperdalam perpecahan internal.

Amandemen ke-25; alat baru untuk menyingkirkan presiden

The i Paper menulis bahwa diskusi di balik layar di Pentagon dan Kongres mengenai aktivasi Amandemen ke-25—yang memungkinkan wakil presiden mengambil alih kekuasaan jika presiden dianggap tidak mampu secara fisik atau mental—kini bukan lagi sekadar permainan politik. Sementara Partai Demokrat secara terbuka menyerukan pencopotan Trump, gelombang kritik terbaru justru datang dari dalam kubu pendukungnya sendiri, yaitu gerakan MAGA (“Make America Great Again”).

Tokoh-tokoh MAGA berbalik arah

Menurut laporan tersebut, sejumlah tokoh berpengaruh seperti Tucker Carlson, Candace Owens, Megyn Kelly, dan Alex Jones kini bergabung dengan barisan pengkritik Trump. Alex Jones bahkan menyatakan dalam programnya: “Trump yang sekarang hanyalah bayangan usang dari Trump yang lama,” serta mempertanyakan bagaimana Amandemen ke-25 dapat digunakan untuk menyingkirkannya.

Disebutkan bahwa para tokoh ini—yang memiliki lebih dari 10 juta pengikut di YouTube—menilai bahwa mengkritik Trump kini lebih menguntungkan secara media dibandingkan mendukungnya. Menurut laporan tersebut, audiens MAGA tidak lagi tertarik pada pujian terhadap Trump.

Baxter menilai perubahan ini sebagai awal runtuhnya koalisi media dan publik yang selama ini menjadi salah satu sumber kekuatan politik utama Trump. Hal ini terjadi saat Trump berupaya mempertahankan citranya sebagai pemimpin yang kuat dan tegas, serta menanggapi para pengkritiknya dengan menyebut mereka lemah dan gagal, demi menghindari label “lame duck”.

Data mengkhawatirkan dan menjauhnya sekutu

Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa konflik terbuka ini, bersama ketegangan di dalam institusi pemerintahan, mencerminkan meningkatnya isolasi politik Trump, bahkan di dalam pemerintahannya sendiri. Perbedaan pandangan di kalangan pejabat militer dan politik, khususnya terkait Iran, semakin memperuncing situasi.

Sebuah jajak pendapat oleh YouGov dan The Economist menunjukkan bahwa 56 persen pemilih Amerika tidak puas terhadap kinerja Trump, sementara hanya 37 persen yang menyetujuinya.

Selain itu, laporan The New York Times mengungkap bahwa dalam pertemuan penting di Gedung Putih terkait Iran, hampir semua pejabat senior menentang posisi Trump. Bahkan pejabat seperti kepala CIA dan Menteri Luar Negeri disebut mengkritik penilaian Israel sebagai “dangkal” dan “tidak relevan”.

Isu lain dan tekanan tambahan

Di sisi lain, langkah Melania Trump yang kembali memunculkan kontroversi terkait hubungannya dengan Jeffrey Epstein juga dianggap sebagai tanda meningkatnya isolasi Trump.

Sementara itu, JD Vance dikirim ke Pakistan untuk menjalankan negosiasi sulit dengan Iran, yang oleh sebagian pihak dinilai sebagai upaya untuk mengalihkan tanggung jawab jika negosiasi tersebut gagal.

Kesimpulan

Baxter menyimpulkan bahwa meskipun peluang penerapan Amandemen ke-25 masih kecil, wacana politik di Amerika Serikat mulai bergeser ke arah “era pasca-Trump” dan kemungkinan mundurnya Trump akibat penurunan kondisi fisik dan mentalnya—bahkan sebelum masa jabatannya berakhir pada 2028.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *