Washington, Purna Warta – Para ahli strategi Partai Republik AS dilaporkan khawatir terhadap kinerja partai mereka dalam pemilu paruh waktu (midterm) pada November mendatang, di tengah kegagalan Presiden Donald Trump memenuhi janji kampanyenya untuk mengendalikan inflasi dan menjauhkan Amerika Serikat dari perang di luar negeri.
Bloomberg melaporkan pada Sabtu bahwa sejumlah ahli strategi mengatakan partai mereka berisiko kehilangan kendali atas kedua kamar Kongres, sementara berbagai jajak pendapat menunjukkan meningkatnya kekecewaan para pemilih terhadap perang ilegal di Iran, serta tingginya harga bahan bakar dan inflasi yang terus bertahan.
Amy Walter, editor Cook Political Report yang bersifat nonpartisan, membandingkan pemilu paruh waktu mendatang dengan pemilu 2006, ketika perang di Irak yang semakin tidak populer menyebabkan Partai Republik mengalami kekalahan besar dalam pemilu paruh waktu.
“Ini merupakan isu yang sangat merugikan bagi Partai Republik karena secara langsung bertentangan dengan kekuatan Trump—dia adalah sosok yang berjanji akan menurunkan harga-harga dan menjauhkan kita dari perang tanpa akhir di Timur Tengah,” tambahnya.
“Bagi banyak orang yang memilihnya, ada perasaan kebingungan dan kekecewaan.”
Pemilu paruh waktu AS 2026 akan digelar pada 3 November, dengan seluruh 435 kursi DPR dan 35 dari 100 kursi Senat diperebutkan.
Menjelang pemilu, berbagai jajak pendapat menunjukkan bahwa tingkat persetujuan terhadap Trump telah merosot ke level terendah sepanjang masa kepresidenannya.
Sebuah survei terbaru Ipsos-Reuters menemukan bahwa 63 persen warga Amerika tidak menyetujui cara presiden menangani agresi terhadap Iran, sementara hanya 25 persen yang menyetujuinya.
“Rakyat Amerika tidak pernah mendukung perang ini, dan tidak ada alasan untuk berpikir bahwa opini publik akan berubah,” kata Whit Ayres, seorang pengamat jajak pendapat dari Partai Republik.
Laporan tersebut menambahkan bahwa kini Partai Demokrat memanfaatkan ketidakpuasan publik terhadap serangan militer AS terhadap Iran untuk menyerang lawan-lawan mereka dari Partai Republik.
“Perang di Iran telah membuat harga bahan bakar di Ohio menjadi salah satu yang tertinggi di negara ini, sementara para petani semakin tertekan oleh biaya bahan bakar diesel dan pupuk,” kata Sherrod Brown, kandidat Senat dari Partai Demokrat, dalam sebuah iklan televisi terbaru.
Awal bulan ini, Tavern Research, sebuah perusahaan konsultan politik Demokrat yang bekerja dengan sejumlah kandidat dalam pemilu paruh waktu, melakukan survei terbaru mengenai perang di Iran untuk para kliennya.
Jajak pendapat terhadap 834 pemilih yang kemungkinan besar akan memberikan suara menemukan bahwa pemilih Demokrat hampir secara bulat menentang perang tersebut. Sebanyak 96 persen tidak menyetujui cara Trump menangani konflik, sementara 65 persen mengatakan perang tersebut “sangat penting” dalam menentukan pilihan mereka dalam pemilu.
Survei tersebut juga menemukan bahwa 71 persen pemilih meyakini perang telah memberikan dampak negatif terhadap kondisi dalam negeri AS.
“Bagi para pemilih, perang ini menunjukkan bahwa Trump telah salah menempatkan prioritasnya,” kata Jessica Reiss, kepala penelitian dan strategi Tavern.
“Perang ini telah menjadi kaca pembesar yang memperkuat berbagai persoalan yang paling dikhawatirkan masyarakat: kenaikan harga serta biaya layanan kesehatan dan perumahan.”
AS dan Israel melancarkan perang agresi ilegal terhadap Iran pada 28 Februari dengan membunuh Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan senior militer.
Empat puluh hari kemudian, pada 8 April, pihak-pihak yang berperang tersebut terpaksa menerima gencatan senjata di tengah perlawanan Iran, keberhasilan operasi pembalasan, serta cengkeraman kuat Iran atas Selat Hormuz.
Pada bulan Juli, AS melancarkan serangkaian serangan udara mematikan terhadap Iran dan memberlakukan blokade laut terhadap negara tersebut, yang disebut sebagai pelanggaran terhadap Memorandum of Understanding (MoU) Islamabad dengan Republik Islam Iran, yang ditandatangani pada 17 Juni untuk mengakhiri perang.
Sebagai tanggapan, angkatan bersenjata Iran melancarkan serangan dahsyat terhadap sasaran-sasaran strategis Amerika di seluruh Asia Barat dan menyatakan Selat Hormuz ditutup untuk seluruh lalu lintas pelayaran.


