Caracas, Purna Warta – Ribuan warga Venezuela turun ke jalan-jalan di ibu kota Caracas dan sejumlah kota besar pada Kamis, dalam demonstrasi nasional pertama kelompok oposisi selama hampir dua tahun terakhir. Mereka memprotes memburuknya kondisi ekonomi dan krisis nilai tukar, sekaligus menuntut agar pemilu bebas segera diselenggarakan dan lebih dari 320 tahanan politik dibebaskan.
Aksi demonstrasi yang berlangsung dengan semangat tinggi ini terjadi pada masa setelah penangkapan Nicolás Maduro. Situasi tersebut berlangsung ketika Gedung Putih menjalin kerja sama erat dengan pemerintahan sementara yang dipimpin Delcy Rodríguez untuk menarik investor Amerika Serikat. Sementara itu, meskipun María Corina Machado, tokoh oposisi terkemuka, menetapkan Juli 2027 sebagai batas waktu penyelenggaraan pemilu nasional, Washington menilai kepulangan Machado ke tanah air dan pelaksanaan pemilu nasional masih terlalu dini sehingga menundanya.
Menurut laporan kantor berita Reuters, ribuan warga Venezuela turun ke jalan dalam demonstrasi terkoordinasi berskala nasional pertama yang digelar oposisi setelah hampir dua tahun. Mereka menuntut perubahan politik mendasar serta penyelenggaraan pemilihan presiden dan parlemen yang bebas.
Sejak penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan Amerika Serikat pada Januari lalu, Washington mulai menjalin kerja sama yang intensif dan erat dengan pemerintahan sementara di bawah kepemimpinan Delcy Rodríguez, presiden sementara Venezuela.
Meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Rodríguez—yang sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden pertama Maduro—telah berjanji bahwa pemilu akan diselenggarakan di negara tersebut, hingga kini belum ada tanggal pasti untuk pemilihan anggota parlemen maupun pemilihan presiden.
Menanggapi situasi ini, María Corina Machado, pemimpin oposisi Venezuela sekaligus penerima Hadiah Nobel Perdamaian, menegaskan bahwa pemilu nasional harus dilaksanakan paling lambat Juli 2027. Setelah perselisihan pemilu 2024 dan menjalani kehidupan secara sembunyi-sembunyi selama berbulan-bulan, Machado kini telah berada di luar negeri selama hampir satu tahun.
Gerakan politik Vente Venezuela yang dipimpin Machado mengorganisasi demonstrasi besar tersebut. Selain di Caracas, aksi juga berlangsung di Valencia, Maracay, San Cristóbal, dan Maracaibo.
Kemarahan atas Anjloknya Nilai Mata Uang Berujung pada Aksi Jalanan di Caracas
Jalan-jalan di berbagai kota Venezuela dipenuhi kaum muda dan mahasiswa yang membawa bendera nasional serta meneriakkan slogan-slogan untuk mengakhiri krisis ekonomi dan kesulitan hidup yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Para demonstran menyoroti inflasi yang sangat tinggi, kemerosotan tajam nilai mata uang nasional terhadap dolar, serta krisis layanan publik dan kesejahteraan. Mereka menegaskan bahwa tidak lagi takut terhadap ancaman keamanan dan menuntut perubahan mendasar dalam struktur kepemimpinan negara, termasuk naiknya Machado ke tampuk kekuasaan.
Partai Sosialis yang berkuasa sejak 1999, pada masa mendiang Hugo Chávez dan kemudian Nicolás Maduro, selama ini kerap menggunakan pasukan antihuru-hara untuk membubarkan aksi-aksi protes sipil.
Pada Kamis, para pemimpin kubu sosialis juga menyerukan kepada pendukung mereka untuk bergerak dari Lapangan Venezuela di Caracas—lokasi yang hendak dijadikan tempat berkumpul oleh kelompok oposisi—menuju istana kepresidenan. Langkah tersebut dilakukan untuk mengimbangi mobilisasi massa oposisi.
Televisi pemerintah menayangkan gambar Diosdado Cabello, Menteri Dalam Negeri Venezuela yang memiliki hubungan erat dengan lembaga keamanan dan intelijen, saat mengikuti aksi tersebut. Sementara itu, para demonstran pendukung Machado memindahkan titik kumpul mereka ke lokasi yang berdekatan untuk menghindari bentrokan fisik.
Kesepakatan Trump dengan Mantan Wakil Maduro dan Hambatan Washington terhadap Kepulangan Machado
Pada saat yang sama, perundingan politik yang dimediasi Washington masih berlangsung antara sebagian kelompok oposisi moderat dan pemerintahan sementara Rodríguez. Perundingan itu bertujuan menyusun kembali komposisi Mahkamah Agung dan Dewan Pemilihan Nasional, tetapi tidak melibatkan gerakan utama yang dipimpin Machado.
Meskipun pengamat pemilu dan dokumen resmi dari tempat-tempat pemungutan suara menunjukkan bahwa kandidat yang didukung Machado menang telak dalam pemilu 2024, lembaga-lembaga negara dan peradilan yang loyal kepada Maduro menghalangi peralihan kekuasaan. Setelah sempat ditahan dalam waktu singkat pada awal 2025, Machado terpaksa meninggalkan negara tersebut.
Selama bertahun-tahun, Machado menyelaraskan langkah politiknya dengan kelompok garis keras dan kalangan hawkish di Partai Republik yang berada di lingkaran Trump. Ia menggambarkan Maduro sebagai ancaman keamanan. Kini, mantan presiden Venezuela tersebut menghadapi perkara hukum terkait dugaan perdagangan narkoba di Amerika Serikat.
Namun, dalam beberapa bulan terakhir, Trump berulang kali memuji cara Rodríguez menjalankan pemerintahan serta sikapnya yang terbuka terhadap investor Wall Street dan perusahaan-perusahaan Amerika. Bulan lalu, Trump secara terbuka menyatakan bahwa penyelenggaraan pemilu di Venezuela masih “terlalu dini”.
Sejumlah sumber yang mengetahui perkembangan tersebut mengungkapkan bahwa keinginan kuat Machado untuk segera kembali ke Venezuela, terutama setelah dua gempa bumi dahsyat pada Juni, telah memicu kemarahan dan ketegangan serius di Washington. Para pejabat Amerika Serikat dilaporkan berulang kali memintanya menunda perjalanan pulang.
Di jalan-jalan, para demonstran juga menyerukan pembebasan segera seluruh tahanan politik. Organisasi hukum Foro Penal menegaskan bahwa meskipun undang-undang amnesti umum telah disahkan pada awal tahun ini, lebih dari 320 aktivis politik masih ditahan di penjara-penjara di bawah pemerintahan sementara. Mereka menghadapi berbagai tuduhan, termasuk pengkhianatan terhadap negara.


