Washington, Purna Warta – Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) dilaporkan memiliki keraguan serius terhadap informasi intelijen Israel yang menyebut bahwa Iran berencana membunuh Presiden AS Donald Trump saat kunjungannya ke Turki pada Juli lalu.
Menurut laporan The Washington Post pada Rabu, para analis CIA menilai informasi intelijen dari Israel tersebut tidak cukup meyakinkan dan telah menyampaikan keraguan mereka kepada pemerintahan Trump.
Seorang pejabat AS menggambarkan peringatan tersebut sebagai informasi yang “bersumber dari Israel, bukan dihasilkan oleh AS, dan dinilai memiliki tingkat keyakinan rendah.” Pejabat lainnya mengatakan bahwa sejumlah aparat intelijen meyakini informasi tersebut dimaksudkan untuk memengaruhi keputusan Trump, bukan semata-mata memperingatkannya mengenai ancaman yang akan segera terjadi.
Menurut laporan itu, Israel sangat mengkhawatirkan membaiknya hubungan antara Washington dan Ankara. Trump dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan diketahui membahas kemungkinan kembalinya Turki ke program pesawat tempur F-35 Amerika Serikat.
Para pejabat Israel menentang kemungkinan penjualan pesawat tempur canggih tersebut kepada Turki dengan alasan bahwa langkah itu dapat melemahkan apa yang disebut Israel sebagai keunggulan militer negaranya di kawasan.
Seorang mantan pejabat menggambarkan insiden tersebut sebagai bagian dari pola yang lebih luas, yakni upaya pihak Israel untuk “membentuk arah pengambilan keputusan presiden.”
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menerima peringatan tersebut. Namun, menurut laporan itu, ia tidak menganggapnya cukup serius untuk mencegah dirinya menaiki Air Force One dalam perjalanan kembali.
Senator Demokrat Christopher Van Hollen juga mempertanyakan informasi intelijen tersebut dan menanyakan apakah informasi yang diberikan Israel itu “dapat diverifikasi secara independen.”
“Saya tidak meragukan bahwa Iran ingin melihat presiden itu pergi, tetapi semua ini tampaknya agak fantastis,” ujar Van Hollen.
Meski demikian, peringatan intelijen tersebut memicu operasi keamanan yang sangat tidak biasa ketika Trump meninggalkan Turki pada 8 Juli. Setelah menghadiri KTT NATO, Secret Service memindahkan Trump dari Air Force One.
Trump kemudian dibawa menggunakan kendaraan katering bandara menuju pesawat Air Force C-32A, yang selanjutnya menerbangkannya ke Inggris dengan pengawalan dua jet tempur F-16.
Sementara itu, Air Force One tetap melanjutkan penerbangan dengan membawa para pejabat Gedung Putih, personel keamanan, staf pendukung, dan wartawan. Dengan demikian, pesawat tersebut secara efektif berfungsi sebagai pesawat pengalih perhatian, sementara Trump bepergian menggunakan pesawat yang lebih kecil.
Trump kemudian mengklaim bahwa dirinya tidak merasa takut dengan ancaman yang dilaporkan tersebut. Ia mengatakan bahwa dirinya hanya mengikuti instruksi Secret Service untuk menaiki “penerbangan yang berbeda, pesawat yang berbeda.”


