Kigali, Purna Warta – Pemerintah Rwanda secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari Komunitas Ekonomi Negara-Negara Afrika Tengah (ECCAS). Langkah ini mempertegas ketegangan diplomatik yang kian memburuk akibat konflik bersenjata di wilayah timur Republik Demokratik Kongo (DRC).
Keputusan ini muncul setelah ECCAS, yang beranggotakan 11 negara, menolak menyerahkan jabatan kepemimpinan rotasi kepada Rwanda dalam pertemuan di Guinea Khatulistiwa. Sebaliknya, masa jabatan Guinea Khatulistiwa diperpanjang. Kigali menilai keputusan tersebut melanggar prinsip dasar organisasi dan menyebut ECCAS telah dimanipulasi oleh Kongo.
Baca Juga : Unjuk Rasa Meletus di Los Angeles Usai Razia Imigrasi dan Penahanan oleh ICE
Dalam pernyataan resminya, Rwanda menyatakan bahwa tak ada alasan untuk tetap menjadi bagian dari organisasi yang dinilai telah menyimpang dari tujuannya. Kigali juga menuduh DRC menggunakan ECCAS sebagai alat politik. Belum jelas apakah pengunduran ini berlaku segera atau perlu melalui prosedur tambahan.
Konflik di Wilayah Timur Kongo dan Keterlibatan M23
Kelompok bersenjata M23, yang dituding mendapat dukungan dari Rwanda, terus melancarkan serangan besar di timur Kongo. Pada awal tahun ini, kelompok tersebut merebut dua kota utama, menewaskan ribuan orang, dan memicu kekhawatiran akan perang regional yang lebih luas.
Pemerintah Kongo menyambut baik keputusan ECCAS untuk meminggirkan Rwanda, dan menyebut negara anggota telah mengakui adanya agresi dari Rwanda. Mereka juga menyerukan agar pasukan Rwanda segera angkat kaki dari wilayah Kongo.
Tuduhan Kejahatan Perang dan Reaksi Dunia
Amnesty International melaporkan bahwa M23 telah melakukan kejahatan perang, termasuk pembunuhan di luar hukum, penyiksaan, penghilangan paksa, serta penyanderaan warga sipil. Laporan tersebut didasarkan pada wawancara dengan 18 mantan tahanan yang ditahan antara Februari hingga April 2025.
Sebagian besar dari mereka mengaku disiksa dan melihat tahanan lain tewas akibat pemukulan brutal dan kondisi yang sangat buruk. Mereka ditahan di sel yang sempit, kotor, tanpa makanan, air bersih, atau perawatan medis yang layak. Beberapa bahkan menyaksikan eksekusi langsung terhadap tahanan lain.
Baca Juga : China Setuju Kembali Ekspor Mineral Langka ke AS Usai Pembicaraan Trump-Xi
Implikasi Regional dan Upaya Perdamaian
Konflik ini menarik perhatian dunia internasional, termasuk Uni Afrika, Amerika Serikat, dan Qatar, yang tengah berupaya menengahi perdamaian antara Rwanda dan Kongo. Wilayah ini memiliki kepentingan strategis karena menjadi sumber mineral penting seperti kobalt, tantalum, tembaga, dan litium.
Blok ECCAS sendiri telah lama dikritik karena dinilai gagal merespons konflik lintas batas seperti yang terjadi di timur Kongo. Pengunduran Rwanda memperlihatkan rapuhnya aliansi kawasan Afrika Tengah dan batas kemampuan organisasi regional dalam menghadapi konflik yang sudah berakar kuat.


