Laporan: Pasukan Israel Dikerahkan ke Somaliland dalam Misi Rahasia

Somaliland

Hargeisa, Purna Warta – Rezim Israel secara rahasia mengerahkan sejumlah kecil pasukan ke Somaliland pada awal tahun ini setelah mengakui wilayah yang memisahkan diri tersebut, menurut seorang pejabat senior pemerintah Somalia.

Pejabat tersebut, yang dikutip oleh situs berita dan analisis Middle East Eye pada hari Senin, mengatakan bahwa rezim itu mengerahkan kelompok berjumlah 50 personel ke Somaliland segera setelah pengakuannya terhadap wilayah tersebut.

“Menurut laporan intelijen kami, militer Israel memilih tentara Israel yang memiliki keturunan Afrika, khususnya Ethiopia, agar tidak menarik perhatian dan lebih mudah berbaur dengan komunitas lokal,” ujar pejabat senior Somalia tersebut.

Penempatan yang dilaporkan ini terjadi beberapa bulan setelah rezim tersebut menjadi pihak pertama yang mengakui Somaliland sebagai “negara merdeka dan berdaulat” pada Desember 2025.

Pejabat Israel akui ‘kerja sama rahasia bertahun-tahun’

Pada 17 Juni, Menteri Urusan Militer Israel, Israel Katz, mengakui bahwa rezim tersebut dan Somaliland telah menjalin “kerja sama keamanan” secara rahasia selama bertahun-tahun.

Dalam pertemuan tingkat tinggi di Tel Aviv dengan Presiden Somaliland yang berkunjung, Abdirahman Mohamed Abdullahi, pejabat Israel mengonfirmasi bahwa rezim tersebut kini terlibat langsung dalam “pelatihan” pasukan militer dan kepolisian Somaliland.

“Selama bertahun-tahun, kami bekerja sama secara diam-diam dalam serangkaian operasi yang akan tetap dirahasiakan. Sekarang, kami bertekad membawa kerja sama keamanan ini ke tingkat yang lebih tinggi,” kata Katz.

Pengakuan publik atas kerja sama ini muncul setelah serangkaian laporan yang menunjukkan meningkatnya hubungan militer antara kedua pihak.

Sebuah laporan yang diterbitkan surat kabar Israel Maariv pada 26 Mei menyebutkan bahwa 50 pasukan khusus Somaliland baru-baru ini telah menyelesaikan pelatihan militer intensif di Tel Aviv.

Sebelumnya, pada 2 Mei, saluran Channel 12 Israel melaporkan bahwa seorang pejabat senior Somaliland menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dengan rezim tersebut melawan apa yang disebut sebagai “ancaman” dari angkatan bersenjata Yaman terhadap Selat Bab al-Mandab.

Menurut laporan itu, pejabat tersebut mengatakan bahwa setiap “gangguan terhadap keamanan maritim” akan mendorong Somaliland untuk memperdalam hubungan dengan rezim Israel, termasuk melalui kemungkinan aliansi.

Laporan tersebut muncul di tengah peringatan Yaman mengenai potensi gangguan jalur pelayaran di selat itu sebagai respons terhadap agresi tanpa provokasi terhadap Iran oleh Israel dan Amerika Serikat.

Pejabat itu juga mengatakan bahwa Somaliland sudah bekerja sama dengan mitra termasuk Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab, yang keduanya memiliki kehadiran di Pelabuhan Berbera, dan menambahkan bahwa kemitraan serupa juga dapat dibangun dengan Tel Aviv.

Pada awal Juni, CNN melaporkan bahwa Somaliland telah memberikan posisi militer tambahan kepada rezim tersebut di Tanduk Afrika, yang berpotensi memungkinkan pesawat Israel berhenti selama penerbangan jarak jauh menuju Republik Islam.

Laporan terpisah juga menyebutkan bahwa rezim tersebut tengah mempertimbangkan penggunaan Pelabuhan Berbera untuk pengerahan kapal selam kelas Dolphin guna memantau aktivitas di Laut Merah dan Teluk Aden.

Somaliland mendeklarasikan kemerdekaannya dari Somalia pada tahun 1991.

Rezim Israel mengakui Somaliland pada Desember 2025 dan kemudian menunjuk Michael Lotem sebagai apa yang disebut sebagai duta besar pertamanya untuk wilayah yang memisahkan diri tersebut pada bulan April.

Langkah itu menuai kecaman internasional.

Pada bulan Mei, Mesir, Arab Saudi, Turki, dan 12 negara lainnya mengecam rencana Somaliland untuk membuka kedutaan di kota suci Yerusalem yang diduduki, menyebut langkah tersebut ilegal.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *