Purna Warta – Kuil Anahita, bangunan batu megah kedua setelah Persepolis di Iran, dibangun di atas bukit alami dengan menggunakan metode panggung.
Anahita dalam ritual Persia kuno adalah Dewi Air, malaikat pelindung air mancur dan hujan, serta simbol kesuburan, cinta, dan persahabatan.
Pembangunan Kuil Anahita ini dikaitkan dengan tiga era Achaemenid, Parthia, dan Sassanid. Beberapa teori menghubungkan struktur tersebut dengan istana Khosrow II yang belum selesai dibangun pada akhir era Sassanid.
Denah bangunan ini berbentuk empat persegi, dan setiap sisinya seperti panggung yang dibangun dengan metode batu kering (bahan bangunan disusun di atas atau di samping satu sama lain secara teratur tanpa menggunakan mortar) dengan menggunakan batu puing dan plester serta fasad eksterior dihiasi dengan batu berukir.
Pintu masuk bangunan tertanam dalam tangga dua arah di bagian selatan dan juga tangga satu arah yang memberikan akses ke bangunan di bagian timur laut.
Rangkaian kolom paralel membentuk area di sekitar kuil dan di dalam kuil. Area luar yang luas juga dikelilingi oleh kolom batu.
Perbandingan tinggi kolom dengan diameternya adalah tiga banding satu yang membedakan kuil Anahita dari semua kuil di seluruh dunia.
Parit batu telah menyesuaikan air sungai dan mengalirkannya dengan luar biasa ke kolam tengah kuil. Selain itu, jenis aliran air di kuil ini merupakan salah satu keajaiban teknik pada masa itu.


