Purna Warta – Perang Iran melawan AS-Israel terhenti sejenak, namun pertempuran selama satu setengah bulan terakhir memberikan pelajaran penting. Bukan hanya tentang konflik itu sendiri tetapi juga tentang karakterstik peperangan modern.
Metode perang Iran mempersulit pihak yang akan berkonfrontasi langsung dengannya. Dengan luas daratan sekitar 1,64 juta km persegi dan populasi lebih dari 90 juta jiwa, negara ini jauh lebih besar dibandingkan negara-negara lain yang pernah dilanda perang belakangan ini.
Sebagai perbandingan, Irak yang diinvasi oleh AS pada tahun 2003 memiliki hanya sekitar seperempat luas daratan Iran dan setengah dari populasinya. Afghanistan dan Ukraina, meskipun cukup besar, masih jauh lebih kecil baik dari segi wilayah maupun jumlah penduduk.
Operasi militer dalam situasi semacam ini menjadi nonlinier. Wilayah yang lebih besar tidak hanya membutuhkan lebih banyak pasukan dan senjata; tetapi juga membutuhkan logistik lebih, jalur pasokan yang lebih panjang dan cakupan intelijen yang lebih luas. Hal itu tentu semakin merumitkan operasi militer.
Invasi AS ke Irak berhasil karena medan yang menguntungkan. Pasukan koalisi AS maju dengan cepat melalui gurun selatan dan lembah sungai yang relatif datar. Pasukan Rusia juga diuntungkan oleh alam Ukraina yang relatif datar.
Medan datar tetap memiliki masalahnya sendiri yaitu; pasukan menjadi rentan terhadap serangan musuh, karena pergerakan mereka dapat dengan mudah terdeteksi.
Afghanistan menghadirkan tantangan yang berbeda dengan medan pegunungan yang rumit membuat operasi konvensional tidak bisa dilakukan dan berujung pada ketergantungan pada angkatan udara, pasukan khusus dan sekutu lokal.
Iran dalam hal ini menggabungkan dari kedua lingkungan tersebut dalam skala yang jauh lebih besar.
Pegunungan Zagros membentang di sepanjang perbatasan barat Iran, membentuk penghalang alami. Pegunungan Alborz di utara melindungi daerah-daerah puat seperti Teheran. Dataran tinggi di bagian tengah menghadirkan hamparan gurun luas yang mempermudah pasukan Iran mendeteksi musuh. Sementara itu, garis pantai Iran di sepanjang Teluk Persia dan Teluk Oman menghadirkan pertahanan maritim.
Medan pegunungan Iran tak hanya membuat invasi darat hampir mustahil tetapi juga memberikan banyak peluang untuk menyembunyikan peluncur rudal, fasilitas produksi militer, dan bahkan pertahanan udara.
Anggapan bahwa keragaman populasi Iran berujung pada potensi perpecahan internal seringkali dilebih-lebihkan. Iran memiliki keragaman etnis, dengan etnis minoritas seperti Azerbaijan, Kurdi, Arab, Baloch dan lainnya. Namun, sejarah menunjukkan bahwa ancaman eksternal bukannya menciptakan perpecahan, itu justru memperkuat persatuan nasional.
Iran memiliki lebih dari 800.000 personel aktif, termasuk tentara reguler dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Iran juga memiliki sistem pertahanan berlapis yang dirancang untuk perang konvensional dan asimetris. Doktrin pertahanan mereka adalah penyebaran, bertahan hidup dan perlawanan jangka panjang.
Tidak seperti Irak pada 2003, yang militernya telah melemah akibat sanksi dan konflik, Iran mempertahankan aparatur negara yang berfungsi, struktur komando terintegrasi dan kemampuan rudal dan drone yang luas.
Ada juga pelajaran yang dapat dipetik terkait efektivitas senjata konvensional. Satu setengah bulan terakhir menunjukkan bahwa bahkan superioritas udara tidak selalu membuahkan hasil dalam melawan negara yang dirancang untuk bertahan.
Kemampuan rudal balistik dan drone Iran merupakan inti dari dinamika ini. Alih-alih mengandalkan aset bernilai tinggi yang terkonsentrasi, Iran mengembangkan sistem yang tersebar dan berlapis. Peluncur rudal, fasilitas penyimpanan dan lokasi produksi tertanam di medan pegunungan atau infrastruktur bawah tanah, sehingga sulit untuk dideteksi. Ini memperkuat poin yang lebih luas: geografi bukan hanya tempat terjadinya konflik; geografi secara aktif diintegrasikan dalam strategi pertahanan Iran.
Pada saat yang sama, peningkatan ketergantungan Iran pada drone dan sistem rudal yang relatif murah menghadirkan tantangan yang berbeda. Sistem ini tidak perlu mencapai presisi atau dominasi; mereka hanya perlu bertahan dan mempertahankan tekanan dari waktu ke waktu.
Hal ini menciptakan ketidakseimbangan struktural. Platform militer yang sangat canggih dan mahal digunakan untuk melawan senjata yang jauh lebih murah dan mudah diproduksi ulang. Dinamika ini tidak selalu menghasilkan kemenangan, tetapi mengikis kemampuan musuh untuk mencapai hasil final.
Hasilnya adalah pergeseran dalam fungsi kekuatan militer secara praktis. Keunggulan konvensional tetap penting, tetapi perannya menjadi lebih terbatas. Kekuatan konvensional dapat mengganggu, melemahkan dan menahan, tetapi kesulitan untuk mengalahkan musuh yang kokoh pada posisinya, tersebar secara operasional dan siap secara strategis untuk konfrontasi berkepanjangan.
Iran bukanlah Afghanistan tahun 2001, Irak pada tahun 2003, atau Ukraina pada tahun 2022. Iran adalah gabungan dari ketiganya, menggabungkan skala, kompleksitas dan ketahanan.
Secara keseluruhan, faktor-faktor ini memperkuat kesimpulan utama konflik ini: Iran bukan hanya target yang sulit; ia secara fundamental mengubah perhitungan strategis perang.
Kombinasi skala, geografi dan ketahanan berarti bahwa setiap konflik cenderung menjadi berkepanjangan, mahal dan tidak memiliki hasil pasti. Ini menjelaskan mengapa, meskipun adanya tekanan militer, perang tersebut tidak menghasilkan perubahan di lapangan. Sebaliknya, perang tersebut hanya berujung pada penangguhan, yang mencerminkan kesulitan dalam mentransformasi aksi militer menjadi keuntungan strategis.
Ini tidak berarti bahwa perang di masa depan tidak mungkin terjadi. Sebaliknya, ini menunjukkan bahwa karakteristik peperangan tersebut bisa berbeda dari apa yang kita lihat dalam satu setengah bulan ini. Konfrontasi langsung berskala besar menjadi kurang menarik ketika mengetahui kecilnya probabilitas kemenangan dalam waktu cepat dan biaya eskalasi yang tak sedikit. Sebaliknya, yang muncul adalah pola keterlibatan terbatas, respons terukur dan pemberian sinyal strategis.
Bagi AS dan kekuatan besar lainnya, implikasinya sama pentingnya. Harapan akan aksi militer singkat dan tepat sasaran seperti di Irak pada tahun 2003 menjadi kurang relevan. Keunggulan militer masih dapat membentuk medan perang, tetapi tidak dapat dengan mudah mempersingkat waktu atau menjamin hasil. Memulai perang dengan berbagai keunggulan masih bisa dilakukan, namun apa arti memulai perang jika tak bisa menemukan hasil dalam waktu singkat, terlebih jika perang menjadi berkepanjangan.
Pada akhirnya, konflik ini menunjukkan pergeseran yang lebih luas dalam karakteristik peperangan modern. Kemenangan tidak lagi didefinisikan oleh kecepatan atau dominasi di awal, tetapi oleh daya tahan, kemampuan beradaptasi dan kemampuan untuk beroperasi secara efektif dalam lingkungan yang kompleks.


