HomeAnalisaPertarungan Kepentingan Sumber Krisis Diplomatik Qatar

Pertarungan Kepentingan Sumber Krisis Diplomatik Qatar

Purna Warta – 4 Desember 2020 Menteri Luar Negeri Kuwait menyebarkan kabar pendekatan 4 negara Arab, Emirat, Bahrain, Mesir dan Saudi ke Qatar untuk mengakhiri krisis diplomatik Doha yang menginjak umur 3 tahun. Namun media politik dunia Arab, tidak menaruh prasangka baik akan hal ini.

Website Al Khaleej Al Jadeed dalam laporannya menganalisa langkah ini dan menulis, pertama harus dikatakan bahwa kesuksesan dalam hal ini harus ditujukan ke upaya Kuwait murni. Adapun pendapat beberapa pihak yang mencantum peran Jared Kushner dalam permasalahan ini, tidaklah benar sama sekali.

“Sangat jauh dari kenyataan,” cetusnya.

Analis Al Khaleej Al Jadeed menuding Amerika dan Jared Kushner hanya berlari-lari di atas kobaran api perseteruan bersaudara ini dan menambahkan, “Sebagaimana dikatakan mantan Menlu AS, Rex Tillerson bahwa percikan api pertama dari krisis Teluk Persia dipetik oleh Gedung Putih. Kerja Donald Trump tidak lain hanyalah mengobar api pertikaian ini. Untuk hal ini, cukup melihat tweet-tweet sang Presiden.”

Al Khaleej Al Jadeed menambahkan, “Wacana akhir krisis dan keberhasilan tidak bisa dibahas sekarang. Para pihak belum melahirkan satu kata akan 13 syarat yang ditujukan kepada Qatar. Mereka hanya menyetujui pondasi perundingan, tapi keempat negara tidak memiliki satu pandangan mengenai Doha. Begitu pula sebaliknya, yaitu pihak Qatar tidak pernah melihat mereka dengan satu mata.”

Jelas bahwa Saudi memiliki hasrat lebih dari yang lain untuk membuka hubungan dengan Qatar. Untuk mendukung pandangan ini, cukup lihat impian mereka di masa pemerintahan Joe Biden nanti.

Menurut analisa Al Khaleej Al Jadeed, “Joe Biden akan mengakhiri bulan madu Saudi-Donald Trump, akan tetapi tidak akan berakhir di situ saja, karena Joe Biden memiliki rencana untuk kembali ke perundingan dengan Iran, yang  tentu sangat dikhawatirkan oleh Istana Riyadh.”

Al Khaleej Al Jadeed melanjutkan, “Kekhawatiran akan akhir krisis ekonomi Tehran dan pelonggaran boikot telah memaksa para petinggi pemerintah Riyadh agar kembali menganalisa politik luar negeri. Dalam hal ini, bukan hanya sanksi Qatar yang harus berakhir, tetapi juga perkelahian mereka dengan Turki harus segera diselesaikan. Dan beberapa kali, kita semua melihat Riyadh yang pergi berunding dengan Ankara. Serta media juga membicarakan normalisasi kedua negara dalam waktu dekat.”

Oleh sebab ini, Saudi sangat siap bekerjasama dengan Qatar. Sementara Emirat tidak sama sekali, setidaknya sampai Doha merealisasikan 13 syarat.

Kemustahilan

13 syarat tersebut dilandaskan pada satu fakta, yaitu kemustahilan. Dan 4 negara Arab itu juga sadar bahwa tidak akan ada satupun negara yang bersedia untuk menerima syarat-syarat itu.

Kata pakar politik, Emirat dan Mesir mendesak Doha untuk merealisasikan dua syarat, yaitu memutus kerjasama dengan Ikhwan al-Muslimin dan menurunkan hubungan dengan  Iran. Sementara dua negara ini, Iran-Qatar memiliki jalur sumber daya alam gas yang sama. Jadi tidak mungkin ditepati.

Emirat, menurut analisa Al Khaleej Al Jadeed, akan berusaha mencegah mediator Kuwait, bahkan mencegah pihak-pihak lain untuk normalisasi dengan Qatar.

“Arab Saudi tidak pernah memandang Qatar sebagai lawannya di dunia Islam dan Arab. Tapi tidak dengan kacamata Abu Dhabi. Sebelum normalisasi dengan Israel, Saudi juga harus merajut hubungan dengan Turki dan Qatar,” prediksi Al Khaleej Al Jadeed.

Adapun Qatar juga memiliki kepentingan besar untuk merajut hubungan dengan Saudi, lebih dari 3 negara Arab lainnya. Petinggi Qatar tahu bahwa luka mereka dengan Emirat tidak akan pernah sembuh.

Berkaitan dengan Mesir, juga harus dikatakan bahwa Qatar memiliki nilai jual lebih. Baik dari sisi eksistensi pekerja Kairo di Doha, juga dari kekuatan teknologi yang lebih canggih.

Mengenai Bahrain, Qatar memandang sebelah mata negara ini. Dalam banyak kesempatan, Manama hanya bayangan politik Saudi dan lainnya. Oleh karena inilah, para analis yakin bahwa Bahrain akan ikut Saudi ketika Riyadh sudah memulai normalisasi.

Meskipun tidak ingin menantang politik Saudi, tapi Bahrain tidak akan memiliki hubungan baik dengan Qatar, kata Al Khaleej Al Jadeed.

Hubungan Doha dengan Manama memanas karena konflik di perbatasan perairan. Beberapa waktu lalu, militer Qatar menyita dua kapal Bahrain. Sampai petinggi Bahrain menyebut langkah ini sebagai arogansi-provokasi militer Doha.

Al Khaleej Al Jadeed menambahkan, hasrat Saudi kembali kerjasama dengan Qatar lebih dari penduduk Doha. Dalam pertemuan dengan delegasi Kuwait dan AS, Istana menekankan keinginannya ini. Demikian juga dengan Doha, di mata Qatar, ketika Saudi sudah merapat, yang lain juga akan ikut merapat.

Tantangan

Untuk merajut kembali hubungan ini, ada beberapa tantangan yang harus ditundukkan. Secara terang-terangan dan implisit, Bahrain, Mesir dan Emirat mengatakan bahwa untuk merintis normalisasi, kepentingan bersama harus disorot.

Dengan demikian maka setiap kebijakan sepihak Saudi terkait Qatar, akan berakibat buruk pada kedudukan Riyadh di Timteng. Inilah yang ingin dihindari oleh Saudi dengan segenap tenaga, dan tentu upaya Kuwait akan semakin kompleks.

Kompleksitas urusan juga dihadapi pemerintah Donald Trump, yang hanya menyisakan beberapa minggu. AS begitu menyadari kepentingan dari akhir krisis diplomatik Qatar demi menyatukan pihak-pihak anti-Iran dalam tubuh Arab Teluk Persia.

Akan tetapi para pihak Arab tidak begitu berhasrat memberikan hadiah di akhir periode kepemimpinan Donald Trump. Mereka lebih memilih sorot tajam ke politik pemerintahan Joe Biden.

Di akhir analisanya, Al Khaleej Al Jadeed menjelaskan, tanpa diragukan lagi langkah lebar telah diangkat dalam upaya normalisasi negara-negara Arab Teluk Persia. Kuwait berhak untuk berbangga diri. Namun ini hanyalah langkah kecil di hadapan kepentingan kontroversial.

Selain itu, sangatlah tidak mungkin perdamaian ini bisa mengembalikan Teluk Persia ke masa jayanya dahulu. Dewan kerjasama Teluk Persia memiliki 3 poros, Riyadh, Doha dan Abu Dhabi. Tapi hanya Saudi yang memegang kata kunci.

Baca juga: Oman-Qatar Tolak Keras Permohonan AS untuk Normalisasi

Must Read

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × 1 =