Gaza, Purna Warta – Sepanjang sejarah, di setiap penjuru dunia di mana terdapat kezaliman dan pendudukan, di sana pula selalu muncul perlawanan dalam berbagai bentuk dan tingkatan. Namun di kawasan Asia Barat, akar perlawanan secara khusus terikat dengan Palestina. Setiap kali istilah perlawanan beserta dimensi dan maknanya dibahas, yang pertama kali terlintas adalah Palestina dan perjuangan rakyatnya.
Sejarah Perlawanan di Palestina
Sejak dekade 1940-an, ketika kaum Zionis dengan dukungan Barat dan Amerika Serikat secara resmi memulai pendudukan atas wilayah Palestina dan memperluasnya ke wilayah Arab lainnya, perlawanan di Palestina pun mulai muncul dengan berbagai metode.
Pada tahun-tahun awal pendudukan, berbagai kelompok rakyat dan partai politik terbentuk, masing-masing dengan ideologi dan pendekatan tersendiri. Perlawanan individu juga menjadi ciri menonjol perjuangan rakyat Palestina menghadapi pendudukan. Namun persoalan utama perlawanan Palestina pada masa itu adalah tidak adanya persatuan yang nyata di antara kelompok-kelompok perlawanan, sehingga mereka gagal merumuskan strategi tunggal dan terpadu untuk membebaskan tanah air mereka.
Di antara kelompok perlawanan paling menonjol yang muncul di Palestina adalah: Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Gerakan Fatah, Jihad Islam Palestina, Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina, Front Demokratik, Komite-komite Perlawanan Rakyat, dan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas).
Sebagian kelompok, seperti PLO, secara bertahap menyimpang dari pendekatan jihad dan perlawanan, sementara kelompok lain seperti Hamas dan Jihad Islam tetap setia pada cita-cita pembebasan Palestina.
Meskipun perlawanan Palestina—baik melalui gerakan terorganisir maupun aksi individu—terus berlangsung sejak 1948 seiring pendudukan Zionis dan menempuh jalan yang berliku, wujud paling menonjol dari perlawanan ini tampak dalam intifada-intifada yang dilancarkan oleh rakyat Palestina.
Akar Terbentuknya Intifada Palestina; dari Intifada Batu hingga Al-Aqsa
Intifada Palestina pertama, yang dikenal sebagai Intifada Batu, dimulai pada 8 Desember 1987 dan berlanjut hingga 1993, ketika PLO menandatangani perjanjian Oslo dengan kaum Zionis.
Intifada ini bermula dari insiden penabrakan sejumlah buruh Palestina oleh sebuah truk Israel yang menyebabkan gugurnya empat warga Palestina. Rakyat Palestina memandang kejadian itu sebagai pembunuhan disengaja. Keesokan harinya, saat prosesi pemakaman, massa Palestina melempari markas militer Zionis di Jabalia dengan batu. Tentara Zionis merespons dengan tembakan ke udara, yang dibalas rakyat Palestina dengan hujan batu dan bom molotov.
Inilah percikan awal Intifada pertama. Namun peristiwa tersebut dengan cepat meluas dari satu kota ke kota lain, dan dalam intifada ini sekitar 1.300 warga Palestina gugur sebagai syahid.
Kegagalan Perjuangan Sebelumnya dan Hilangnya Harapan kepada Dunia Arab
Sebagaimana disebutkan, perlawanan Palestina sebelumnya tidak dijalankan dengan pendekatan terpadu sehingga gagal membuahkan hasil signifikan. Selain itu, pada dua dekade pertama pendudukan Zionis, rakyat Palestina menaruh harapan besar pada negara-negara Arab. Namun setelah berbagai perkembangan di dunia Arab, kekalahan tentara-tentara Arab dari rezim Zionis, serta dimulainya gelombang normalisasi hubungan Arab dengan Israel, rakyat Palestina menyadari bahwa mereka tidak dapat menggantungkan harapan pada dukungan negara-negara tersebut.
Intifada pertama terjadi pada saat banyak negara Arab meyakini bahwa tidak ada jalan selain berdamai dengan Israel, dan para pemimpin Arab menyingkirkan isu Palestina dari pusat perhatian, menjadikannya persoalan sekunder.
Tekanan Berlipat Ganda Zionis terhadap Rakyat Palestina
Salah satu faktor utama munculnya intifada adalah penghinaan sistematis terhadap warga Palestina sebagai warga kelas dua di wilayah pendudukan. Arus besar imigrasi Yahudi dari seluruh dunia ke wilayah pendudukan, upaya Zionis mengubah struktur demografis demi kepentingan Yahudi, serta pencabutan hak dan fasilitas dari warga Arab Palestina, membuat rakyat Palestina merasakan penindasan yang semakin berat.
Inspirasi dari Revolusi Islam Iran
Dalam tahun-tahun penindasan dan penderitaan, rakyat Palestina menyadari bahwa rahasia ketahanan dan kemenangan perjuangan mereka terletak pada fondasi Islam, bukan yang lain. Dengan pendekatan Islam dan meneladani Revolusi Islam Iran, mereka memasuki arena perjuangan.
Berdirinya Republik Islam Iran sebagai kekuatan besar di kawasan secara nyata mengubah keseimbangan kekuatan demi kepentingan umat Islam dan menjadi sumber inspirasi kuat bagi rakyat Palestina. Dengan menyesuaikan diri pada kondisi politik, ekonomi, dan sosial mereka, rakyat Palestina mengeluarkan perjuangan dari kerangka kalkulasi politik Arab.
Perbedaan mendasar antara intifada dan gerakan-gerakan sebelumnya menunjukkan bahwa dengan meneladani perjuangan sah rakyat Iran dan kepemimpinannya, rakyat Palestina menyadari bahwa Amerika Serikat dan Israel bukanlah kekuatan yang tak terkalahkan dan dapat dihadapi.
Intifada Kedua Palestina; Intifada Al-Aqsa
Pada 28 September 2000, menyusul masuknya Ariel Sharon, perdana menteri rezim pendudukan saat itu, ke Masjid Al-Aqsa dengan pengawalan besar tentara Zionis, Intifada kedua Palestina—yang dikenal sebagai Intifada Al-Aqsa—meletus.
Tindakan Sharon memicu kemarahan rakyat Palestina dan bentrokan antara jamaah Muslim dan tentara Zionis. Akibatnya, tujuh warga Palestina gugur dan lebih dari 250 orang terluka, sementara 13 tentara Zionis juga mengalami luka-luka.
Bentrok segera meluas ke seluruh Tepi Barat dan Jalur Gaza. Muhammad al-Durrah, bocah Palestina berusia 11 tahun yang gugur pada hari kedua intifada, menjadi simbol Intifada Al-Aqsa. Rekaman video yang disiarkan televisi Prancis pada 30 September 2000 memperlihatkan secara jelas pembunuhan anak tersebut saat berlindung bersama ayahnya di balik penghalang beton di Gaza.
Intifada kedua menyaksikan eskalasi konflik dan operasi militer. Berdasarkan statistik resmi kedua pihak, 4.412 warga Palestina gugur dan 48.322 lainnya terluka, sementara di pihak Zionis 1.069 orang tewas dan sekitar 4.500 lainnya terluka.
Salah satu peristiwa paling menonjol dalam periode ini adalah pembunuhan Rehavam Ze’evi, menteri pariwisata Israel, oleh pejuang Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina.
Jalur Perjuangan Hamas
Hamas, sebagai gerakan perlawanan terbesar dan paling dikenal di Palestina serta pelaku utama epos Badai Al-Aqsa, memiliki sejarah panjang dalam perjuangan rakyat Palestina. Tahun ini menandai ulang tahun ke-38 berdirinya Hamas.
“Hamas” adalah singkatan dari Gerakan Perlawanan Islam Palestina, sebuah gerakan rakyat yang bertujuan membebaskan Palestina dari penindasan dan agresi Zionis. Hamas berdiri pada 15 Desember 1987, meskipun akar pembentukannya bermula sejak dekade 1940-an.
Pendiri Hamas, Syekh Ahmad Yasin, setelah bertahun-tahun perjuangan heroik melawan pendudukan, akhirnya dibunuh oleh Israel pada 22 Maret 2004 melalui serangan helikopter saat beliau pulang dari salat Subuh di Gaza.
Perlawanan Palestina; dari Intifada Batu hingga Pedang Al-Quds dan Badai Al-Aqsa
Hamas selalu berada di garis depan perlawanan Palestina. Salah satu tonggak terpenting adalah Perang Pedang Al-Quds pada Mei 2021, yang berlangsung selama 11 hari dan memaksa Israel meminta gencatan senjata.
Banyak pengamat menilai bahwa Pedang Al-Quds menjadi landasan langsung bagi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023—sebuah operasi yang tidak hanya mengguncang fondasi rezim Zionis, tetapi juga dunia internasional.
Meskipun didukung persenjataan dan intelijen paling canggih oleh Amerika Serikat dan Barat, Israel gagal mencegah serangan tersebut. Bahkan sejumlah jenderal Israel menyebut operasi Badai Al-Aqsa sebagai serangan komando terbaik dalam sejarah.
Dengan segala keterbatasan, Hamas dan kelompok perlawanan Palestina berhasil menyeret Israel ke dalam perang berkepanjangan. Seorang penulis Zionis, Yair Asulin, mengakui: “Bahkan jika kita menduduki seluruh Timur Tengah, kita tetap tidak akan menang dalam perang melawan Gaza.”
Dengan demikian, Hamas dan perlawanan Palestina—meskipun menempuh jalan yang panjang dan penuh tantangan—hingga hari ini tetap berdiri menghadapi mesin pembunuh paling brutal yang didukung kekuatan besar dunia, dan terus melanjutkan perjuangan demi pembebasan tanah Palestina dan peneguhan keadilan bagi rakyatnya.




