Perang Iran Membongkar Ketergantungan Asimetris Negara-Negara Teluk Kepada AS

Negara Teluk Perang Iran

Purna WartaNegara-negara Teluk kendati tidak terlibat secara langsung dalam perang antara AS-Israel melawan Iran, akan tetapi merekalah yang menjadi salah satu sasaran utama Iran dalam perang ini. Hal ini tidak Iran lakukan tanpa sebab, AS memiliki banyak pangkalan di negara-negara Teluk yang kemudian digunakan dalam perang terhadap Iran.

Negara-negara Teluk semestinya mampu mencegah digunakannya pangkalan-pangkalan tersebut, namun tidak mereka lakukan dan Iran tak memiliki pilihan kecuali menyerang ke pangkalan-pangkalan AS yang ada di dalam negara-negara tersebut berikut infrastruktur-infrastruktur pendukung.

Negara-negara Teluk menghadapi serangan-serangan karena menampung fasilitas militer yang mereka tidak akui. Istilah untuk pengaturan semacam itu, di mana satu pihak menanggung risiko sementara pihak lain mendapat pujian, adalah ketergantungan asimetris. Perang Iran ini membuktikan adanya hubungan ketergantungan tersebut.

Negara-negara Teluk tak ubahnya seperti penumpang yang terseret bahaya akibat ulah seorang pemimpin ceroboh yang mereka percaya sepenuhnya.

Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Qatar dengan tepat memperhitungkan bahwa tidak ada negara yang mampu memberikan pertahanan terhadap ancaman Iran sekuat AS. Pengaruh Washington itu nyata. Yang tidak dihasilkan adalah kepuasan dan bukti lapangan.

Arsitektur ketergantungan asimetris memiliki dua celah yang cukup fatal.

Secara militer, tantangannya adalah interoperabilitas di bawah tekanan nyata. Pertahanan udara negara-negara Teluk, sistem peringatan dini Israel dan sistem komando AS tidak memiliki rencana operasional gabungan standar dalam situasi darurat. Dalam menghadapi serangan Iran yang terkoordinasi melibatkan rudal balistik, drone dan ranjau, celah ini menjadi sangat fatal kendati bisa ditangani dengan adanya latihan militer gabungan rutin.

Secara politik, tantangannya menjadi lebih berat. Negara-negara Teluk berada di garis terdepan menerima serangan dan hantaman tetapi tidak memiliki suara dalam keputusan perang. Teheran melihat kelemahan ini sejak dini dan memanfaatkannya. Celah ini sangatlah fatal meskipun hal ini, seperti celah sebelumnya, bisa ditangani dengan adanya formalisasi aliansi, kesepakatan komitmen, komando terpadu dan konsultasi ketimbang pengarahan sepihak yang tidak tepat sasaran dan tidak tepat waktu.

Selain itu, kebiasaan Washington untuk mengusulkan kemitraan sambil mempertahankan otoritas puncak dalam pengambilan keputusan sepihak memperkeruh masalah. Menawarkan aliansi tanpa substansinya berarti menawarkan manajemen, bukan aliansi. Pemerintah negara-negara Teluk banyak menanggung kerugian akibat serangan balasan Iran untuk memahami perbedaan tersebut dan sudah semestinya bagi mereka untuk mengambil pelajaran.

China memahami geometri ini lebih baik daripada banyak negara lain. Mereka membeli 90 persen minyak mentah Iran sebelum perang dan secara terbuka mendorong upaya mediasi Pakistan. Lebih penting lagi, Beijing sedang mempelajari preseden berkenaan dengan Selat Hormuz untuk kemudian menimbang penerapannya di Selat Taiwan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *