Dubai, Purna Warta – Abu Dhabi selama bertahun-tahun berusaha menampilkan citra sebagai sebuah “ekonomi yang stabil” kepada dunia. Namun keterkaitan organiknya dengan badan-badan intelijen Israel telah merusak citra tersebut secara serius.
Ketika pada September 2020 Uni Emirat Arab dan rezim Zionis menandatangani Abraham Accords, banyak pihak menggambarkannya sebagai kesepakatan ekonomi dan diplomatik untuk menghadapi pengaruh Iran. Namun perkembangan lapangan dan laporan-laporan keamanan tiga tahun kemudian mengungkap wajah lain dari hubungan tersebut. Kini, UEA bukan lagi sekadar mitra dagang, melainkan telah berubah menjadi laboratorium bagi proyek-proyek keamanan dan intelijen Israel di jantung Teluk Persia.
Di antara enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Bahrain, Oman, dan UEA), tidak ada negara yang menempatkan dirinya dalam pelayanan strategi keamanan dan spionase Tel Aviv sebesar Abu Dhabi. Puncak ketundukan ini tidak tampak dalam kontrak dagang, melainkan di medan konflik dan dalam apa yang disebut sebagai “Perang Empat Puluh Hari”.
Kunjungan rahasia kepala Shin Bet ke Abu Dhabi
David Zini, kepala dinas intelijen domestik rezim Zionis (Shin Bet), yang bertanggung jawab menghadapi intifada dan operasi perlawanan di Tepi Barat, baru-baru ini melakukan kunjungan rahasia ke UEA. Tujuan perjalanan tersebut adalah bertemu dengan sosok kunci: Mohammed Dahlan.
Dahlan, yang dahulu merupakan salah satu komandan senior gerakan Fatah dan kepala keamanan preventif di Jalur Gaza, kini menjadi salah satu figur paling dibenci oleh generasi muda Palestina. Setelah berselisih dengan Mahmoud Abbas, ia pindah ke UEA dan kini bekerja sebagai “penasihat keamanan” Abu Dhabi.
Pertemuan kepala Shin Bet dengan Dahlan di wilayah UEA membentuk sebuah hubungan segitiga: UEA (tuan rumah dan pendukung finansial), Shin Bet (organisasi intelijen-keamanan Israel), dan Dahlan (alat pengaruh di Tepi Barat dan Gaza). Pertemuan ini berarti bahwa UEA membantu Israel secara langsung memengaruhi masa depan politik Palestina, terutama melalui upaya mengembalikan figur seperti Dahlan ke dalam persamaan politik.
Erosi posisi regional dan biaya politik
Abu Dhabi selama bertahun-tahun berusaha menunjukkan dirinya sebagai “ekonomi yang stabil” kepada dunia. Namun hubungan organik dengan badan-badan intelijen Israel telah merusak citra tersebut secara serius. Tiga konsekuensi utama dari ketundukan ini adalah:
Retaknya hubungan dengan opini publik Arab: Survei lembaga-lembaga Arab menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen warga negara-negara Arab menganggap segala bentuk kerja sama keamanan dengan Israel sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina. Kunjungan kepala Shin Bet ke Dubai mengubah perasaan ini menjadi kebencian.
Menurunnya kepercayaan dalam Dewan Kerja Sama Teluk: Arab Saudi, yang bergerak menuju normalisasi bertahap dengan Israel, merasa khawatir terhadap kecepatan dan kedalaman hubungan UEA-Israel. Riyadh tidak menginginkan keberadaan Israel yang dipersenjatai dan dipenuhi jaringan mata-mata di wilayah tetangga selatannya. Hal ini mengancam kohesi Dewan Kerja Sama Teluk.
Reaksi Poros Perlawanan: Kehadiran intelijen Israel secara terbuka di UEA menjadikan negara itu target sah bagi serangan siber, rudal, dan operasi lapangan.
Mohammed Dahlan; bidak catur keamanan Israel di Tepi Barat
Lapisan terdalam kerja sama ini tidak dapat diabaikan: proyek “Dahlan”.
Israel memahami dengan baik bahwa Otoritas Palestina di Tepi Barat sedang runtuh dan Mahmoud Abbas telah mendekati akhir kekuasaannya. Tel Aviv membutuhkan pengganti yang mampu menekan perlawanan bersenjata sekaligus menjamin keamanan Israel dengan sensitivitas internasional yang minimal.
Mohammed Dahlan, dengan rekam jejak membentuk “Batalion 14 dan 17” (pasukan keamanan khusus Fatah) dan sejarah kerja sama intelijen dengan Mossad pada dekade 1990-an, dianggap sebagai pilihan ideal.
UEA bukan hanya menjadi tempat tinggal Dahlan, tetapi juga pendukung finansial dan media bagi upayanya kembali ke Palestina. Abu Dhabi tampaknya meyakini bahwa jika Dahlan menggantikan Abbas, Tepi Barat akan berubah menjadi basis kedua Israel.
Namun ini dianggap sebagai kesalahan perhitungan besar. Gaza dan Tepi Barat telah membuktikan bahwa siapa pun yang datang kepada rakyat Palestina dengan “pakaian Israel” bukan hanya akan gagal, tetapi juga akan semakin menyulut kemarahan rakyat.
Mengapa UEA memilih jalan ini?
Jawabannya dapat diringkas dalam satu kata: ketakutan.
Para penguasa UEA sangat takut terhadap tiga hal:
Kemenangan gerakan demokrasi Arab (Musim Semi Arab),
Menguatnya arus Islam politik (Ikhwanul Muslimin),
Meluasnya pengaruh Iran.
Dalam situasi ini, Israel memperkenalkan dirinya sebagai “penjamin kelangsungan rezim-rezim Arab otoriter di Teluk Persia”.
Israel memberikan UEA sebuah “payung keamanan” sementara, tetapi sebagai gantinya memanfaatkan UEA sebagai “basis terdepan” melawan negara-negara tetangganya sendiri. Dengan kata lain, Abu Dhabi secara praktis telah menyerahkan sebagian demi sebagian “kedaulatan nasionalnya” kepada sebuah rezim luar kawasan.
Pengalaman Yordania, yang pada dekade 1970-an bekerja sama secara keamanan dengan Israel dan akhirnya berubah menjadi salah satu negara paling tidak aman di kawasan, menunjukkan bahwa jalan ini tidak akan menghasilkan apa-apa.
Kesimpulan
Pertemuan terbaru kepala Shin Bet dengan Mohammed Dahlan di UEA dianggap telah membatalkan klaim Abu Dhabi sebagai “mediator perdamaian”. UEA kini bukan lagi mediator, melainkan mitra langsung dalam kejahatan Israel terhadap rakyat Palestina.
Dengan berubah menjadi jembatan intelijen-keamanan Tel Aviv menuju Palestina pendudukan dan Tepi Barat, negara ini bukan hanya mempertaruhkan masa depan Palestina, tetapi juga keamanan nasionalnya sendiri.
Setiap negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk yang membayangkan dapat menjalin “kerja sama terbatas” dengan Israel dan tetap aman dari api konflik, dianggap berada dalam kekeliruan besar. Kawasan Teluk mengetahui sejarahnya: tidak ada pangkalan yang menerima tentara dan mata-mata Israel yang akan bertahan selamanya.
Jika UEA tidak segera memutus hubungan yang dianggap memalukan ini, negara tersebut bukan hanya akan kehilangan “posisi regionalnya”, tetapi juga dapat menjadi korban pertama dari sebuah “perdamaian” yang sebenarnya disebut sebagai “penyerahan kepada penjajah”.
Abu Dhabi harus memilih: menjadi bagian dari solusi regional bagi Palestina, atau menjadi bagian dari masalah keamanan bagi dirinya sendiri.


