Mengapa Israel Tidak Menyukai Berakhirnya Ketegangan di Kawasan? Tel Aviv Dinilai Lebih Menginginkan Konflik Terbatas

Israel zz

Purna Warta – Untuk memahami perilaku Israel terhadap Iran dan kawasan, tidak cukup hanya melihat peristiwa-peristiwa harian. Yang lebih penting adalah memahami logika strategis yang mendasari kebijakan dan tindakan rezim tersebut.

Menurut artikel yang dimuat surat kabar Javan dan dikutip oleh Khabar Online, banyak analisis selama ini berfokus pada aspek keamanan dan militer. Namun kenyataannya, Israel tidak hanya menghadapi satu ancaman tertentu, melainkan sedang menjalankan proyek jangka panjang untuk mempertahankan dan memperkuat posisinya sebagai kekuatan dominan di Asia Barat. Dalam kerangka ini, berakhirnya seluruh ketegangan di kawasan belum tentu sejalan dengan kepentingan strategisnya.

Sejak awal berdirinya, Israel disebut tidak hanya berupaya untuk bertahan hidup. Kelangsungan hidup hanyalah titik awal, bukan tujuan akhir. Tujuan utamanya adalah menjadi kekuatan paling berpengaruh dan penentu di kawasan. Dalam proses tersebut, setiap kekuatan independen yang berpotensi menghalangi terbentuknya dominasi Israel dipandang sebagai tantangan strategis. Dari sudut pandang ini, persoalannya bukan hanya Iran, tetapi setiap aktor yang dapat menghambat monopoli kekuatan Israel di kawasan.

Dalam wacana politik kawasan, selama bertahun-tahun terdapat perdebatan mengenai konsep “Israel Raya” atau perluasan pengaruh dari “Nil hingga Efrat”. Terlepas dari perbedaan pandangan mengenai makna historis dan politik konsep tersebut, yang dianggap penting adalah perilaku strategis Israel yang secara konsisten berupaya memperluas pengaruh politik, keamanan, dan ekonominya sambil mengurangi atau menghilangkan kekuatan pesaing.

Dalam konteks ini, keberadaan negara-negara regional yang kuat, independen, dan berpengaruh dianggap bertentangan dengan tujuan tersebut. Iran menempati posisi khusus karena dinilai memiliki kombinasi kapasitas demografis, kedalaman peradaban, posisi geopolitik, kemampuan ilmiah, dan kekuatan pertahanan yang dapat menghalangi terbentuknya tatanan kawasan yang didominasi Israel. Karena itu, Iran dipandang bukan sekadar rival politik, melainkan hambatan strategis terhadap proyek supremasi regional Israel.

Dari perspektif ini, isu “ancaman Iran” bukan hanya masalah keamanan, tetapi telah menjadi salah satu pilar utama doktrin keamanan Israel. Selama bertahun-tahun Israel berupaya menggambarkan Iran sebagai ancaman terbesar di kawasan dan dunia. Gambaran tersebut dinilai memiliki beberapa tujuan sekaligus:

  1. Memberikan legitimasi bagi kebijakan keamanan dan militernya.
  2. Mendapatkan dukungan luas dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat.
  3. Menciptakan landasan untuk normalisasi hubungan dengan sebagian negara kawasan.
  4. Mengalihkan perhatian dari isu Palestina dan pendudukan wilayah Palestina.

Di samping itu, artikel tersebut menyoroti kondisi internal Israel yang menghadapi berbagai perpecahan politik, etnis, agama, dan sosial. Perselisihan tajam antar kelompok politik, krisis legitimasi, demonstrasi besar-besaran, serta persoalan identitas disebut menjadi bagian dari realitas politik Israel saat ini. Dalam situasi seperti itu, keberadaan ancaman eksternal dapat berfungsi sebagai “perekat politik” yang sementara waktu mengurangi konflik internal dan menyatukan masyarakat menghadapi musuh bersama.

Artikel tersebut juga menilai bahwa isu Iran merupakan salah satu fondasi penting hubungan strategis antara Israel dan Amerika Serikat. Sebagian besar bantuan militer, dukungan politik, dan kerja sama keamanan Washington dengan Tel Aviv dibenarkan dalam kerangka menghadapi ancaman regional. Karena itu, semakin besar ancaman Iran digambarkan, semakin besar pula alasan untuk mendukung Israel. Dengan demikian, Iran bukan hanya isu keamanan, tetapi juga bagian dari persamaan kekuatan Israel dalam hubungannya dengan Amerika Serikat.

Menurut artikel tersebut, Israel tidak selalu menginginkan perang besar dan menyeluruh karena konflik semacam itu dapat menimbulkan biaya yang sangat besar. Yang dianggap lebih sesuai dengan kepentingan strategisnya adalah mempertahankan ketegangan yang terus-menerus namun tetap terkendali. Ketegangan yang tidak berubah menjadi perang destruktif, tetapi juga tidak berujung pada perdamaian yang berkelanjutan, karena perdamaian permanen akan menghilangkan banyak alasan keamanan, politik, dan strategis yang selama ini digunakan.

Karena itu, strategi yang dinilai paling sesuai bagi Tel Aviv adalah “mengelola krisis”, bukan “menyelesaikan krisis.” Dalam strategi ini, ancaman harus tetap ada tetapi terkendali. Krisis harus terus berlangsung namun tidak keluar dari kendali. Lawan harus dilemahkan, tetapi tidak selalu harus dihancurkan sepenuhnya, karena keberadaan ancaman yang dapat dikelola terkadang dianggap lebih menguntungkan dibanding penghapusan ancaman secara total.

Berdasarkan pandangan tersebut, artikel menyimpulkan bahwa perilaku Israel tidak dapat dipahami tanpa memperhatikan tujuan-tujuan jangka panjangnya. Jika tujuan utamanya semata-mata keamanan, maka perdamaian yang berkelanjutan merupakan pilihan terbaik. Namun jika tujuannya adalah mempertahankan dominasi regional, memperluas pengaruh, menghilangkan pesaing, dan menjadi kekuatan yang tak tertandingi di Asia Barat, maka keberlanjutan ketegangan akan dipandang sebagai kebutuhan strategis. Dari sudut pandang ini, penolakan terhadap berakhirnya seluruh ketegangan bukan sekadar taktik sementara, melainkan bagian dari perhitungan strategis yang lebih luas untuk mempertahankan keunggulan dan mencegah muncul atau bertahannya kekuatan-kekuatan independen di kawasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *