Beda Kemenangan Al-Khumaini dan Al-Julaini

oleh: Ismail Amin*

Sebelumnya saya minta maaf lancang hendak membandingkan Imam Khumaini dengan Julaini, sebab Julaini tidak ekuivalen dengan Imam Khumaini untuk kemudian dibandingkan, bedanya, bak langit dengan palung mariana. Tapi untuk menunjukkan absurditas pendukung Julaini di Indonesia, yang efouria menyebut kejatuhan Assad dan kemenangan Julaini di Suriah adalah kemenangan Islam dan jalan pembebasan untuk Palestina maka saya ‘terpaksa’ untuk mengkomparasikan kemenangan revolusi Iran dan ‘revolusi’ Suriah.

Kemenangan Revolusi Islam Iran pada 1979 yang menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlevi dan keberhasilan Hay’at Tahrir al-Sham (HTS) di Suriah yang menggulingkan Bashar al-Assad memiliki perbedaan mendasar, terutama dalam konteks pembelaan terhadap Palestina.

Berikut saya sampaikan perbedaan mencoloknya.

Pertama, Imam Khumaini memimpin gerakan revolusi di Iran berbasis pada kekuatan massa rakyat dengan pendekatan anti-imperialisme dan anti-Zionisme. Shah Pahlevi dijatuhkan karena dianggap menjatuhkan Iran pada kubangan kolonialisme dan ideologi Shah yang pro Barat dan Zionisme membuat Imam Khumaini gerah. Karena itu gerakan revolusi Islam di Iran memiliki visi politik yang jelas, menekankan pembelaan terhadap kaum tertindas, termasuk Palestina. Iran menjadi pendukung utama kelompok perlawanan (saat itu PLO/Fatah) untuk melawan pendudukan Israel.

Karena itu, pasca mencapai kemenangan pada 11 Februari 1979, tokoh politik luar negeri pertama yang diundang Imam Khumaini ke Iran adalah Yasser Arafat, pemimpin PLO saat itu. 17-18 Februari 1979 Yasser Arafat di Iran, dan secara simbolis mendapatkan kunci kantor kedutaan besar Palestina di Teheran yang diserahkan Sayid Ahmad Khumaini. So, kantor kedutaan besar Palestina pertama di dunia itu ada di Teheran, ibukota Iran, disaat justru Palestina belum resmi berdiri menjadi sebuah negara mandiri. Tahu kantor kedutaan Palestina itu sebelumnya gedung apa? Gedung itu sebelumnya difungsikan sebagai kantor konsulat Israel, yang sehari sebelumnya aktivitasnya secara resmi dihentikan dan para diplomat Israel diusir secara terhina.

Iran di zaman Shah adalah satu-satunya negara di Timur Tengah yang mendukung Israel. Iran menjadi negara mayoritas muslim kedua  setelah Turki yang mengakui kedaulatan Israel. Saat pecah Perang Arab-Israel, Iran malah sibuk sendiri mengamankan Jalur Pipa Eilat-Ashkelon untuk tetap bisa menyuplai minyak ke Israel. Loyalitas Iran pada Israel ini diganjar investasi besar-besaran AS dan Eropa dengan membangun instalasi nuklir. Iran mendapat suplai 5 megawatt rekator senilai satu juta dolar AS untuk fasilitas nuklir di Universitas Tehran. Kemudian menyusul perusahaan AS lainnya, general Dynamics yang menyediakan 5,15 kg uranium. Sampai akhirnya Iran resmi menjadi anggota IAEA.

Iran yang diproyeksi AS menjadi negara satelit di Timur Tengah, malah berbalik haluan menjadi negara yang paling memusuhi AS dan Israel di bawah kepemimpinan Imam Khumaini. Sejak itu Iran mendapat sanksi, embargo bahkan defamasi yang luar biasa, disebut negara terorislah, punya ambisi menyebarkan revolusi Syiahlah, sampai disebut ingin menjajah negara-negara Arab. Hasil dari defamasi itu, Saddam Husain terpancing. Satu juta tentara ia gerakkan untuk menginvasi Iran. 

Yasser Arafat  (Ketua PLO) di Teheran dalam kunjungan diplomatik pertamanya ke Iran tahun 1979, diapit Sayid Ahmad Khumani (putra Imam Khumaini) dan Bani Shadr (kemudian menjadi Presiden Pertama Iran)

Sekarang kita beralih ke Julaini. Apa ideologinya? meski sebenarnya tidak jelas, sebab sedemikian seringnya Julaini berganti wajah, kita sebut saja ideologinya berbasis pada Islam Sunni Salafi dengan kecenderungan jihadisme. Apa visi politiknya? Melihat sepak terjang HTS yang dikomandoinya (sebelumnya Jabha an-Nusra) fokus Julaini adalah pada pendirian negara Islam di Suriah. Meski kadang beretorika menyebutkan dukungan terhadap Palestina, namun Julaini belum juga menunjukkan langkah perjuangan yang nyata untuk Palestina.

Berbeda dengan Shah yang pro Zionis yang dijatuhkan Imam Khumaini, Assad yang dijatuhkan Julaini justru diantara pemimpin Arab yang anti Zionis yang tersisa. Dimasa kekuasaan Assad (Dari Hafiz sampai Bashar) Suriah tidak pernah mengakui Israel. Bukan hanya tidak punya hubungan diplomatik dan dagang sama sekali dengan Israel, Suriah malah kerap berkonfrontasi langsung dengan Israel di perbatasan. Suriah juga sangat aktif mendukung perjuangan pembebasan Palestina, tidak hanya melalui diplomasi dengan acap mengecam Israel di forum-forum internasional, Assad juga menyediakan Suriah sebagai tempat pelatihan militer kelompok-kelompok perlawanan Palestina dan menjadi jalur penyaluran logistik dan senjata dari Iran untuk Hizbullah dan Hamas.

Jadi di sini, Iran di bawah Imam Khumaini tampil secara aktif mendukung kelompok-kelompok perlawanan Palestina, baik secara finansial, militer, maupun politik. Iran juga memposisikan dirinya sebagai musuh utama Israel dan mengutuk normalisasi hubungan negara-negara Arab dengan Israel.

Sementara Julaini?  Selain tidak memiliki hubungan kuat dengan kelompok perlawanan Palestina seperti Hamas atau Jihad Islam dalam beberapa pernyataan, Julaini justru menegaskan Suriah Baru di bawah kontrolnya tidak akan berbahaya bagi Israel malah mengulurkan tangan perdamaian. Meski baru berkuasa, namun tidak ada indikasi dari Julaini untuk memainkan peran geopolitik besar yang mendukung Palestina. Dengan membangun relasi kuat dengan negara-negara yang tidak pernah dengan serius membela Palestina seperti Turki, AS dan Eropa malah membuat julukan Julaini pembebas al-Quds menjadi makin absurd.

Kedua, perbedaan dalam prioritas perjuangan. Imam Khumaini menjadikan pembebasan Palestina sebagai simbol perlawanan terhadap penindasan global. Hari Quds Internasional adalah contoh nyata komitmen Imam Khumaini terhadap Palestina. Ia membantu Hizbullah, Hamas bahkan memerintahkan dibentuknya Brigade Al-Quds yang berisi pasukan elit IRGC dengan tugas khusus membuka jalan untuk pembebasan Palestina. Pasca Intifada 1987, meski ekonomi negeri sendiri dalam keadaan sulit, Iran secara konsisten mendanai perjuangan Hamas 30 juta dollar setiap tahun serta komitmen melatih para pejuang Hamas di bawah pengawasan IRGC. Itu secara simultan berlangsung sampai pecah operasi Badai al-Aqsa.

Sementara Julaini? Sekali lagi, tidak tampak memiliki program nyata atau strategi khusus untuk mendukung Palestina. Pendukungnya di Indonesia memberi pemakluman, Julaini lagi blank moment, namanya juga baru berkuasa. Lha, Imam Khumaini belum berkuasa seminggu, sudah mengundang Yasser Arafat sekedar untuk mengumumkan ke seluruh dunia, bahwa Iran baru yang berdasarkan pada syariat Islam adalah pendukung utama pembebasan Palestina.

Boro-boro mengundang pimpinan kelompok perlawanan Palestina, yang berdatangan diundang  Julaini adalah delegasi-delegasi dari Turki, AS, Uni Eropa dan negara-negara Arab pro AS yang membawa proposal bisnis mereka masing-masing. Kalau Imam Khumaini memprioritaskan pembebasan Palestina, meski dengan itu Iran harus diembargo bahkan diperangi, Julaini lebih memprioritaskan agenda domestik Suriah dan pada realnya lebih condong untuk memperkuat legitimasi kekuasaannya dengan memasang wajah ramah penuh senyum pada kekuatan arogansi dunia.

Ketiga, perbedaan berikutnya adalah legitimasi rakyat. Meski mendapat dukungan penuh rakyat sejak awal revolusi, Imam Khumaini tidak serta merta secara arogan menyusun struktur negara sendiri. Ia menggelar referedum dan rangkaian pemilu agar Iran baru mendapat legitimiasi kuat dari rakyat sebagai pemilik sah. Berbanding terbalik dengan yang dilakukan Julaini. Julaini secara sepihak mengangkat diri sendiri sebagai kepala otoritas tertinggi dan menunjuk langsung kepala pemerintahan sementara dengan rencana Muktamar Nasional yang pelaksanaannya tertunda entah sampai kapan. Julaini sampai sekarang masih sibuk mencari dukungan internasional dibanding mendapat legitimasi kuat dari rakyat Suriah. Jika Imam Khumaini menjatuhkan Shah dengan perjuangan massa rakyat tanpa senjata, Julaini memulai ‘revolusi’nya dengan menebar teror bersenjata dengan milisi militan multinasionalnya.

Masih sangat banyak perbedaan lainnya, namanya juga bak langit dan dasar palung mariana, tapi cukup ini saja dulu yang saya tuliskan. Tetap memuja-muja Julaini sebagai pahlawan yang akan membebaskan Palestina hanya karena dia Sunni, silakan ucapkan selamat tinggal pada akal sehat.

*WNI sementara menetap di Iran 

One thought on “Beda Kemenangan Al-Khumaini dan Al-Julaini

  1. Eman Rachman says:

    Julaini hanya pecundang America dan Israel. Tanpa America dan Israe julaini bukanlah siapa2 karena tidak memiliki basis massa yang mengakar. Rakyat Suriah telah terjebak karena tidak tahan perut lapar sebagaimana rakyat Palestina dan Iran. Kefahaman seseorang dalam Islam ukuran nya
    apakah mencintai atau membenci . keluarga RasulALLAH SAW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *