Washington, Purna Warta – Sebuah laporan dari majalah Amerika Foreign Policy menyoroti dampak serius dan sulit dipulihkan dari perang berkepanjangan terhadap Israel. Menurut laporan tersebut, biaya militer, diplomatik, dan ekonomi sejak 7 Oktober 2023 hingga kini telah meningkat ke tingkat yang sangat berat.
Dalam analisisnya, penulis David Rosenberg menyatakan bahwa perkembangan beberapa tahun terakhir—terutama setelah Februari 2026 dan serangan terhadap Iran—menempatkan Israel dalam posisi yang kontradiktif. Sementara Benjamin Netanyahu mengklaim perang-perang tersebut sebagai kemenangan strategis, fakta di lapangan justru menunjukkan erosi mendalam pada pilar utama kekuatan Israel, yaitu militer, ekonomi, dan hubungan dengan Amerika Serikat.
Krisis militer: kelelahan dan kekurangan personel
Menurut laporan itu, meskipun militer Israel berhasil memberikan pukulan taktis kepada Iran dan sekutunya, keberhasilan tersebut diperoleh dengan biaya sangat mahal. Saat ini, militer Israel terlibat dalam “perang tanpa akhir” di berbagai front—Gaza, Lebanon selatan, Suriah, dan Tepi Barat—yang tidak sebanding dengan kapasitas sumber daya manusia yang dimiliki.
Pejabat militer senior memperingatkan bahwa tentara menghadapi kekurangan setidaknya 15.000 personel dan berada di ambang “keruntuhan dari dalam”. Tekanan pada pasukan cadangan telah mencapai batas maksimum, sementara penolakan untuk mencabut pengecualian militer bagi kelompok religius semakin memperparah krisis personel dan legitimasi. Selain itu, perang berkepanjangan menyebabkan keausan peralatan militer dan menurunnya cadangan sistem pertahanan rudal secara signifikan.
Krisis ekonomi: berakhirnya daya tahan
Ekonomi Israel, yang selama beberapa dekade dikenal tahan terhadap konflik, kini menghadapi ancaman struktural akibat kebijakan fiskal pemerintah Netanyahu. Sebelum perang dengan Iran saja, biaya militer langsung diperkirakan mencapai sekitar 116 miliar dolar, dan serangan terhadap Iran menambah miliaran dolar lagi.
Rasio utang terhadap PDB yang sebelumnya sekitar 60 persen kini melonjak menjadi lebih dari 70 persen. Rencana peningkatan anggaran militer sebesar 116 miliar dolar dalam satu dekade—yang akan membawa pengeluaran militer hingga 6 persen dari PDB—tanpa peningkatan pajak atau pengurangan layanan publik, dinilai akan mendorong ekonomi menuju resesi dan utang yang sulit dikendalikan.
Hubungan dengan Amerika Serikat: tanda-tanda keretakan
Salah satu dampak paling penting terlihat pada hubungan strategis dengan Amerika Serikat. Meskipun dukungan militer dan finansial masih berlangsung, terdapat indikasi kuat bahwa hubungan tersebut mulai memasuki fase penurunan.
Laporan menyebutkan adanya tuduhan bahwa Netanyahu telah menyeret Donald Trump ke dalam perang dengan Iran, yang memicu kritik di kalangan politik AS, termasuk di kubu Partai Republik dan gerakan MAGA. Hal ini berpotensi membuat Israel dipandang sebagai beban bagi kepentingan Amerika.
Survei opini publik juga menunjukkan penurunan tajam citra Israel di kalangan masyarakat AS, dengan sekitar 60 persen warga memiliki pandangan negatif—termasuk dari kalangan muda Partai Republik.
Kesimpulan: perang tanpa akhir membawa risiko besar
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa Netanyahu terus mengabaikan realitas ekonomi dan diplomatik dengan tetap mendorong kebijakan perang. Namun kenyataannya, keunggulan militer tidak lagi menjamin kemenangan.
Kelompok seperti Hamas dan Hizbullah tetap bertahan meskipun mengalami kerugian besar, sementara Iran masih memiliki kemampuan untuk mengancam kepentingan Israel. Dalam kondisi ini, Israel dinilai terjebak dalam situasi di mana sumber dayanya menipis, militernya kelelahan, dan dukungan internasionalnya mulai goyah.
Jika tren ini berlanjut, Israel berisiko menghadapi masa depan yang ditandai oleh perang berkepanjangan dan isolasi yang semakin dalam.


