Analisa: Rudal Jarak Jauh Yaman Mengguncang Pemukim dan Entitas Zionis

yaman rudal

Washington, Purna Warta – Rezim Israel tengah menghadapi kesulitan besar akibat kerugian manusia dan materi yang diakibatkan oleh serangan rudal Yaman, yang menurut laporan The New York Times pada Minggu, telah membuat para pemukim di wilayah pendudukan tidak bisa tidur di malam hari.

Serangan Rudal Yaman terhadap Israel

Dalam 10 hari terakhir, setidaknya 13 operasi telah menargetkan situs militer Israel sebagai dukungan untuk rakyat Palestina di Gaza di tengah perang genosida yang sedang berlangsung di wilayah terkepung tersebut.
Juru bicara militer Yaman, Brigadir Jenderal Yahya Saree, menyatakan pada Minggu bahwa sebagian besar serangan ini terkonsentrasi di wilayah tengah wilayah pendudukan Palestina.

Meski telah mengalami perang dan pengepungan selama satu dekade, Yaman berhasil mengembangkan persenjataan jarak jauh yang mampu meluncurkan serangan presisi terhadap target musuh. Dalam beberapa pekan terakhir, kemampuan ini semakin terlihat saat militer Yaman meningkatkan operasinya melawan rezim Israel dan sekutu Baratnya dengan menggunakan rudal balistik hipersonik.

Sejak Oktober tahun lalu, Yaman telah menjadi ujung tombak dukungan pro-Palestina, sering menargetkan kapal yang terkait dengan Israel di perairan regional dan instalasi militer di wilayah pendudukan Palestina. Dengan menggunakan rudal dan drone yang sepenuhnya diproduksi di dalam negeri, Yaman menunjukkan kemajuan luar biasa dalam teknologi militer.

Pengembangan Rudal Balistik Yaman

Meskipun media Barat sering menyoroti bantuan dari Iran, kenyataannya Yaman telah terisolasi oleh darat dan laut selama perang yang didukung Barat dan dipimpin Saudi sejak 2014. Akibatnya, transfer rudal besar dan peluncurnya hampir mustahil.

Pengembangan teknologi balistik yang sukses ini mengandalkan sumber daya domestik, persenjataan rudal impor sebelumnya, dan kebutuhan mendesak untuk menciptakan kapasitas balasan terhadap serangan udara koalisi pimpinan Saudi. Sebelum perang, Yaman tidak memiliki sistem rudal Iran, tetapi memiliki rudal balistik jarak pendek (SRBM) Soviet, rudal darat ke udara (SAM), serta SRBM Korea Utara.

Pada Mei 2015, Yaman membentuk kekuatan rudal baru dengan pusat penelitian rudal, yang salah satu tugas pertamanya adalah mengubah rudal SAM usang menjadi rudal darat ke darat (SSM) yang disebut Qaher-1. Versi baru, Qaher-2, diperkenalkan pada 2017 dengan jangkauan 400 km dan muatan 350 kg.

Seiring waktu, Yaman memperkenalkan lebih dari selusin sistem rudal baru, termasuk Burkan (Volcano) yang memiliki jangkauan hingga 1.800 km, dan Hatem-1 yang diperkenalkan pada 2022 dengan jangkauan 1.450 km. Pada 2023, rudal Tufan dengan jangkauan 1.950 km dan muatan 800 kg diresmikan, yang menempatkan wilayah Israel dalam jangkauan rudal Yaman.

Masuk ke Era Rudal Hipersonik

Pada Maret 2024, Yaman mengejutkan dunia dengan mengumumkan bahwa mereka telah bergabung dengan lima negara yang memiliki rudal balistik hipersonik. Rudal hipersonik Yaman, yang dinamai Palestine, diluncurkan pertama kali pada Juni 2024 dengan kecepatan hingga Mach 8 (9.900 km/jam), mampu mencapai target sejauh 1.900 km.

Pada Desember 2024, rudal hipersonik Palestine-2 dengan kecepatan Mach 16 menargetkan Tel Aviv dan pangkalan udara Nevatim, melukai puluhan pemukim ilegal dan menunjukkan kegagalan sistem pertahanan udara Israel.

Kesimpulan

Pemimpin Ansarullah, Abdul-Malik al-Houthi, menyebut peluncuran rudal hipersonik Yaman ke target Israel sebagai pencapaian penting, yang mengejutkan musuh dan melemahkan moral rezim Zionis serta Amerika Serikat. Yaman menegaskan akan terus mendukung perjuangan Palestina hingga agresi berakhir dan pengepungan Gaza dicabut.

Oleh Ivan Kesic

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *