Cape Town, Purna Warta – Lebih dari 3.000 orang turun ke jalan di kota pesisir barat daya Cape Town, Afrika Selatan, menuntut pemerintah memutuskan hubungan dengan Israel sebagai respons terhadap perang genosida rezim tersebut di Jalur Gaza.
Baca juga: Bentrok dengan Polisi, Sejumlah Pengunjuk Rasa Pro-Palestina di Italia Terluka
Aksi pada Sabtu itu menyatukan berbagai organisasi pro-Palestina, partai politik, serta kelompok Muslim dan Kristen, menjadikannya salah satu demonstrasi terbesar dalam beberapa bulan terakhir.
Para pengunjuk rasa melambaikan bendera Palestina dan meneriakkan slogan seperti: “Jangan hanya merasa prihatin, lakukan sesuatu.” Massa kemudian menyerahkan petisi berisi tuntutan kepada parlemen.
Afrika Selatan harus “melakukan boikot, divestasi, dan sanksi terhadap Israel, sebagaimana dunia melakukannya terhadap rezim apartheid kami dahulu,” ujar Usuf Chikte, koordinator Palestine Solidarity Campaign, merujuk pada langkah-langkah internasional yang dahulu menekan Afrika Selatan di era apartheid.
Ia menegaskan pemerintah harus segera mengusir Adi Cohen-Hazanov, kuasa usaha Israel, beserta staf kedutaan dari Afrika Selatan. Chikte juga menekankan bahwa rezim Israel seharusnya dikeluarkan dari organisasi olahraga internasional seperti FIFA.
Petisi tersebut juga menyerukan agar pemerintah menghentikan ekspor batu bara ke wilayah pendudukan Israel serta mengambil tindakan hukum terhadap warga Afrika Selatan yang bergabung dengan militer Israel.
Pretoria selama ini mengambil sikap tegas terhadap agresi Israel di Gaza, termasuk dengan mengajukan kasus ke Mahkamah Internasional (ICJ) pada Desember 2023 yang menuduh perang rezim itu di wilayah Palestina sebagai bentuk genosida.
Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan menteri urusan militer Yoav Gallant, atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Sejak 7 Oktober 2023, sedikitnya 65.926 warga Palestina — sebagian besar perempuan dan anak-anak — terbunuh dan 167.783 lainnya terluka akibat serangan brutal Israel di Jalur Gaza, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.


