Mosul, Purna Warta – Ketua Partai Sosialis Demokrat Kurdistan Irak memuji mantan Panglima Brigade al-Quds Letnan Jenderal Qassem Soleimani dan mengatakan, Letjen Qasem Soleimani adalah orang pertama yang datang ke wilayah Kurdi, dan memerangi kelompok teroris Daesh (ISIS).
Mohammed Haji Mahmoud, Jumat (6/1) sebagaimana dilansir dari situs Al Malooma menuturkan, “Ketika kelompok teroris Daesh memasuki Wilayah Kurdistan Irak, Syahid Soleimani di antara seluruh negara kawasan dan dunia, adalah orang pertama yang datang ke wilayah ini, dan memerangi para teroris terutama Daesh.”
Baca Juga : Analis Lebanon: Soleimani Wakili Ideologi Perlawanan terhadap Imperialisme
Ketua Partai Sosialis Demokrat Kurdistan Irak tersebut kemudian menambahkan, “Ada 48 orang yang menyertai Syahid Soleimani kala itu, dan mereka adalah para ahli di bidang senjata serta bahan peledak.”
Menurut politisi Kurdi ini, Syahid Soleimani selama 3,5 tahun terlibat dalam puluhan pertempuran melawan Daesh, bersama para pejuang dari Wilayah Kurdistan Irak.
“Letjen Syahid Qassem Soleimani tidak pernah menunda bantuan, serta dukungannya terhadap kami,” imbuh Mohammed Haji Mahmoud.
Mohammed Haji Mahmoud adalah seorang politikus Kurdi Irak dan pemimpin Partai Demokrat Sosialis Kurdistan. Dia dikenal luas di Kurdistan sebagai ‘Kaka Hama’ dan memperoleh reputasi atas keberaniannya berperang melawan pasukan Saddam Hussein pada 1980-an. Baru-baru ini, dia memimpin pasukan Peshmerge dalam perang melawan ISIS.
Mahmoud secara politik bersekutu dengan pemimpin Partai Demokratik Kurdistan Massoud Barzani. Pada tahun 2014 putranya Atta Haji Mahmoud tewas di desa Tal Ward, sebelah selatan Kirkuk dalam pertempuran dengan kelompok militan ISIS.
Baca Juga : 9 Kejahatan Inggris terhadap India selama Era Kolonial
Mahmoud menyatakan dalam sebuah pembicaraan di Universitas Cambridge pada tahun 2016 bahwa dia berharap untuk melihat Kurdistan merdeka “bekerja sama” dengan negara Irak yang stabil.
Mahmoud mengatakan bahwa masalah antara partai Kurdi Irak dipengaruhi oleh perusahaan minyak yang mereka dirikan masing-masing. “Partai Demokrat Kurdistan, Persatuan Patriotik Kurdistan, Gerakan Perubahan, Persatuan Islam Kurdistan, dan Kelompok Islam Kurdistan mendirikan lima perusahaan minyak. Mereka juga pemegang saham minyak. Tapi masalah mereka adalah tentang jumlah yang dimiliki yang satu ini lebih sedikit dari yang lain.”


