Situasi Kritis Pasien Kanker di Gaza: 11.000 Pasien Terancam Meninggal secara Perlahan

Hospital Gaza

Gaza, Purna Warta – Sumber-sumber kesehatan di Gaza memperingatkan kondisi yang sangat memprihatinkan yang dialami lebih dari 11.000 pasien kanker di tengah berlanjutnya blokade. Meskipun telah satu tahun berlalu sejak kesepakatan gencatan senjata di Gaza berdasarkan rencana Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, serta setelah diumumkannya peta jalan untuk menyelesaikan gencatan senjata tersebut dalam beberapa pekan terakhir, Israel tidak mematuhi satu pun ketentuannya. Selain terus melakukan serangan terhadap rakyat Gaza, Israel juga melanjutkan blokade ketat terhadap wilayah tersebut. Sumber-sumber medis di Jalur Gaza pun melaporkan memburuknya bencana kesehatan dan lingkungan di sana.

Kondisi Kritis 11.000 Pasien Kanker di Gaza

Pasien kanker dan penderita penyakit berat merupakan salah satu kelompok yang paling rentan. Dengan terus memberlakukan blokade terhadap Jalur Gaza, rezim pendudukan Israel menghambat masuknya obat-obatan dan peralatan khusus yang diperlukan untuk perawatan mereka.

Sumber-sumber kesehatan di Gaza melaporkan bahwa akibat kerusakan parah yang ditimbulkan perang terhadap rumah sakit dan pusat-pusat kesehatan, sejumlah besar fasilitas medis yang menangani pasien kanker masih tidak beroperasi. Kondisi ini semakin mengurangi kapasitas Jalur Gaza dalam memberikan layanan onkologi kepada sekitar 11.000 pasien kanker.

Dr. Essam Youssef, Ketua Komite Internasional Rakyat untuk Mendukung Gaza, mengatakan bahwa selain itu, rezim pendudukan Israel masih menghambat keluarnya pasien secara teratur untuk memperoleh perawatan di luar Gaza. Banyak pasien kanker di Gaza memerlukan perawatan di rumah sakit khusus di luar wilayah tersebut, termasuk rumah sakit di Al-Quds atau Tepi Barat, yang memiliki fasilitas radioterapi dan peralatan medis khusus.

Ia menambahkan bahwa terdapat 4.000 pasien yang telah dirujuk untuk menjalani pengobatan di luar Gaza selama lebih dari dua tahun dan masih menunggu pembukaan perlintasan agar dapat melakukan perjalanan untuk memperoleh perawatan.

Pada awal tahun ini, Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (OCHA) menyatakan bahwa lebih dari 1.200 pasien yang menunggu untuk keluar dari Jalur Gaza telah meninggal dunia.

Kepala Departemen Onkologi Gaza, mengenai kondisi pasien kanker di wilayah tersebut di tengah berlanjutnya blokade, mengatakan bahwa pihaknya terpaksa memberikan kepada pasien yang membutuhkan kemoterapi hanya “dosis toleransi sementara” agar mereka dapat menahan rasa sakit. Mereka masih menunggu izin agar pasien dapat keluar dari Gaza untuk menyelesaikan imunoterapi dan radioterapi yang ditargetkan.

Kebutuhan Mendesak akan Dukungan Internasional untuk Menyelamatkan Pasien Kanker Gaza

Dr. Essam Youssef selanjutnya menegaskan bahwa dalam menghadapi kondisi pasien kanker di Jalur Gaza yang sangat memprihatinkan, tanggung jawab yang harus dijalankan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meliputi:

  • Memfasilitasi keluarnya secara cepat pasien yang membutuhkan perawatan di luar Gaza.
  • Menyediakan mekanisme yang cepat dan transparan untuk memindahkan pasien, terutama pasien dengan kondisi lanjut dan anak-anak, ke rumah sakit khusus di luar Jalur Gaza.
  • Memastikan proses rujukan pasien tidak mengalami keterlambatan, karena keterlambatan dalam pengobatan kanker dapat menyebabkan kondisi kesehatan memburuk secara serius.
  • Menyediakan obat-obatan kemoterapi, obat-obatan pendukung, obat pereda nyeri, serta perlengkapan medis bagi pasien kanker secara cepat.
  • Membangun persediaan strategis obat-obatan di Gaza untuk mencegah terputusnya pengobatan.
  • Mengaktifkan kembali dan mendukung unit-unit onkologi di Gaza.
  • Mendukung rumah sakit dengan peralatan yang diperlukan untuk diagnosis dan pengobatan.
  • Menyediakan perangkat radioterapi, peralatan pemeriksaan khusus, serta fasilitas laboratorium yang diperlukan untuk menentukan jenis tumor dan stadium penyakit.
  • Mengirim dokter spesialis onkologi dan perawat terlatih untuk bekerja di Gaza atau memberikan dukungan jarak jauh kepada tim medis setempat.
  • Memberikan dukungan psikologis dan sosial kepada pasien serta keluarga mereka.
  • “Kami menyerukan kepada semua pihak untuk menghormati hukum humaniter internasional, melindungi rumah sakit dan tim medis di Gaza, serta menjamin akses tanpa hambatan terhadap bantuan medis.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *