Beirut, Purna Warta – Menurut laporan Kantor Berita Al Mayadeen, militer Israel dalam 24 jam terakhir terus melancarkan serangan ke berbagai kawasan di Jalur Gaza, yang mengakibatkan sejumlah warga Palestina tewas dan lainnya mengalami luka-luka.
Berdasarkan laporan tersebut, pasukan Israel melancarkan serangan intensif ke kawasan al-Tuffah di timur Kota Gaza. Selain itu, pasukan pendudukan juga dilaporkan menghancurkan sejumlah rumah warga Palestina di tengah berlanjutnya serangan darat serta tembakan langsung ke arah warga sipil.
Serangan artileri Israel juga terus menghantam wilayah timur Kamp Pengungsi Jabalia di Gaza utara. Pada Sabtu pagi, pesawat tempur Israel melancarkan tiga serangan udara yang menyasar wilayah timur Deir al-Balah di bagian tengah Jalur Gaza.
Pelanggaran Gencatan Senjata dan Dampak Kemanusiaan
Serangan terbaru ini terjadi di tengah tuduhan pelanggaran berulang terhadap gencatan senjata yang sebelumnya disepakati antara Israel dan Hamas. Sumber-sumber Palestina menyebutkan bahwa eskalasi militer tersebut semakin mempersempit ruang gerak warga sipil yang masih bertahan di wilayah-wilayah padat penduduk.
Lembaga medis di Gaza melaporkan bahwa rumah sakit yang masih beroperasi mengalami kekurangan parah obat-obatan, bahan bakar, dan peralatan medis, sementara jumlah korban terus bertambah. Banyak korban luka dilaporkan merupakan perempuan dan anak-anak.
Organisasi kemanusiaan internasional memperingatkan bahwa serangan berkelanjutan ini dapat mempercepat runtuhnya sistem kesehatan Gaza yang telah lumpuh akibat perang berkepanjangan dan blokade ketat.
Konteks Lebih Luas Genosida Gaza
Genosida di Gaza yang dimulai pada Oktober 2023 berlangsung hampir dua tahun sebelum diumumkannya gencatan senjata. Konflik tersebut menewaskan sedikitnya 71.657 warga Palestina dan melukai lebih dari 171.000 orang. Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat bahwa sekitar 90 persen infrastruktur sipil Gaza rusak atau hancur, termasuk rumah tinggal, sekolah, rumah sakit, serta jaringan air dan listrik.
PBB juga memperkirakan bahwa biaya rekonstruksi Gaza dapat mencapai sekitar 70 miliar dolar AS, sementara lebih dari 1,5 juta warga Palestina masih hidup sebagai pengungsi internal dengan akses terbatas terhadap kebutuhan dasar.
Reaksi Regional dan Internasional
Sejumlah negara dan organisasi internasional menyuarakan keprihatinan mendalam atas berlanjutnya serangan Israel pascagencatan senjata. Beberapa pihak menyerukan perlunya mekanisme pemantauan internasional untuk memastikan kepatuhan terhadap kesepakatan gencatan senjata dan perlindungan warga sipil.
Hamas menuduh Israel secara sistematis melanggar kesepakatan dan menegaskan bahwa rakyat Palestina memiliki hak untuk membela diri dari agresi yang berkelanjutan. Sementara itu, Israel mengklaim bahwa operasi militernya ditujukan untuk menghadapi ancaman keamanan, klaim yang dibantah oleh berbagai lembaga HAM internasional.
Situasi di Jalur Gaza hingga kini tetap rapuh, dengan kekhawatiran luas bahwa eskalasi baru dapat menggagalkan upaya diplomatik yang tengah dilakukan untuk mempertahankan gencatan senjata dan memulai proses rekonstruksi.


