Peringatan tentang Lonjakan Tajam Utang Amerika Serikat Jika Selat Hormuz Tetap Tertutup

Selat HUzmus

Washington, Purna Warta – Menurut Mamdouh Salameh, profesor ekonomi energi, dalam wawancara dengan situs Arabi21 memperingatkan bahwa berlanjutnya penutupan Selat Hormuz akan menyebabkan peningkatan signifikan pada defisit anggaran Amerika Serikat. Hal ini bahkan dapat mendorong pemerintah federal untuk memperluas pencetakan dolar guna menutup defisit tersebut, yang selain meningkatkan inflasi keuangan juga akan memberikan tekanan besar terhadap perekonomian global.

Dalam analisanya mengenai situasi saat ini, Salameh menyatakan bahwa meskipun Amerika Serikat merupakan produsen minyak terbesar di dunia, negara tersebut tetap akan menjadi salah satu pihak yang paling dirugikan jika Selat Hormuz ditutup. Ia menambahkan bahwa dengan impor sekitar 8 juta barel minyak per hari, Amerika Serikat tidak dapat menghindari dampak kenaikan harga di pasar global.

Salameh juga menambahkan bahwa Donald Trump sebelumnya secara terus-menerus menekan OPEC Plus agar meningkatkan produksi, dengan tujuan menjaga harga minyak di kisaran 49 hingga 60 dolar per barel. Namun saat ini harga minyak telah meningkat menjadi dua hingga dua setengah kali lipat dari kisaran tersebut.

Ia menambahkan bahwa jika Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk membuka kembali Selat Hormuz dengan kekuatan militer, maka langkah tersebut sudah akan dilakukan sejak awal. Namun Washington menyadari bahwa pengiriman kapal perang untuk mengawal kapal tanker minyak akan menempatkan mereka pada risiko serangan rudal Iran.

Ancaman Resesi Ekonomi Global

Pakar minyak dan energi internasional tersebut menegaskan bahwa berlanjutnya penutupan Selat Hormuz dan terhentinya pasokan minyak akan menyebabkan perlambatan signifikan dalam pertumbuhan ekonomi global.

Ia menjelaskan bahwa konflik ini akan menimbulkan biaya besar bagi perekonomian dunia, termasuk peningkatan biaya produksi industri, kenaikan biaya produksi pangan, serta melonjaknya harga barang impor. Faktor-faktor tersebut secara keseluruhan dapat menimbulkan kerugian besar yang diperkirakan dapat mencapai sekitar 5 triliun dolar jika Selat Hormuz tetap tertutup selama dua bulan.

Pakar energi itu juga menambahkan bahwa jika kondisi ini berlanjut, negara-negara besar konsumen minyak kemungkinan akan dipaksa untuk melepaskan cadangan minyak strategis mereka. Meskipun langkah tersebut hanya akan memberikan dampak yang sangat terbatas terhadap penurunan harga, tindakan itu pada saat yang sama akan melemahkan keamanan energi negara-negara tersebut.

Terlebih lagi, dalam situasi global saat ini yang ditandai oleh meningkatnya perselisihan internasional dan ketegangan geopolitik, kondisi tersebut berpotensi membuka jalan bagi munculnya konflik atau bahkan perang-perang baru di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *