Purna Warta – Sejak dimulainya agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, bukan saja tujuan-tujuan yang diumumkan dari operasi tersebut belum tercapai, tetapi semakin banyak indikasi yang menunjukkan munculnya kebuntuan strategis serta kegagalan militer dan politik bagi pihak-pihak penyerang.
Perang yang dimulai dengan serangan berskala besar dan menelan korban sipil, termasuk para pelajar yang tidak bersalah, dengan cepat berkembang menjadi krisis yang memiliki dimensi kemanusiaan, keamanan, dan ekonomi yang luas serta memicu beragam reaksi di media internasional.
Meskipun telah tercapai gencatan senjata selama dua minggu yang kemudian diperpanjang oleh Donald Trump, jalan menuju berakhirnya konflik secara nyata masih dinilai panjang dan penuh kompleksitas.
Media-media dunia, masing-masing dengan pendekatan dan perspektifnya sendiri, berupaya membentuk narasi mengenai perang ini. Menelaah berbagai pemberitaan tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi sebenarnya di lapangan dan prospek perkembangan konflik ke depan.
Media Barat
Associated Press: Trump Terjebak dalam Kebuntuan Perang Iran
Kantor berita Associated Press dalam laporannya dari Washington menulis bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini menghadapi peringatan dari kawan maupun lawan mengenai risiko terjebak dalam konflik Iran—sebuah perang yang sebelumnya ia janjikan sebagai operasi militer jangka pendek, namun kini berubah menjadi situasi yang penuh kebuntuan dan ketidakpastian.
Menurut laporan tersebut, satu pekan telah berlalu sejak para perunding Amerika dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan memulai putaran baru pembicaraan mengenai program nuklir Iran. Kesepakatan itu masih memerlukan persetujuan akhir Trump.
Namun, Trump dikabarkan menginginkan sejumlah perubahan yang belum dijelaskan secara rinci. Sementara itu, para pejabat Iran yang kemungkinan menilai bahwa Presiden AS tidak berminat melanjutkan pemboman setelah berkurangnya persediaan persenjataan strategis, tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengalah terhadap tuntutan baru tersebut.
Associated Press menambahkan bahwa serangkaian serangan balasan antara Iran dan Amerika Serikat dalam pekan yang sama menimbulkan kekhawatiran baru mengenai kemungkinan runtuhnya gencatan senjata.
Meski demikian, Trump kembali menegaskan bahwa pemerintahannya berada di jalur yang tepat untuk mengakhiri konflik tersebut. Laporan itu juga menyoroti bahwa tanpa adanya kesepakatan sementara untuk membuka kembali Selat Hormuz, harga energi global tetap tinggi dan meningkatkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap harga pangan, bahan bakar, dan berbagai komoditas lainnya.
Menanggapi laporan mengenai terhentinya negosiasi, Trump bahkan mengatakan kepada CNBC bahwa dirinya “sama sekali tidak peduli” dan menyebut proses perundingan sebagai sesuatu yang “membosankan”.
The New Yorker: Berakhirnya Mimpi “Timur Tengah Baru”
Majalah The New Yorker dalam sebuah analisis menulis bahwa perang Iran dan perkembangan setelahnya telah mengakhiri impian Benjamin Netanyahu dan Donald Trump mengenai “Timur Tengah Baru”.
Menurut media tersebut, berbeda dengan peta koridor perdagangan dan normalisasi hubungan yang pernah dipresentasikan Netanyahu di Perserikatan Bangsa-Bangsa, kini Teluk Persia telah berubah menjadi garis patahan geopolitik, sementara Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali Republik Islam Iran.
Laporan itu menyatakan bahwa Iran memandang kemampuannya bertahan menghadapi militer paling kuat di dunia sebagai sebuah kemenangan dan menggunakan kendali atas Selat Hormuz sebagai instrumen baru dalam menghadapi tekanan lawan-lawannya.
Pada saat yang sama, terhentinya proyek normalisasi hubungan negara-negara Arab dengan Israel disebut telah menciptakan perpecahan mendalam di antara sekutu-sekutu Arab Amerika Serikat.
Uni Emirat Arab disebut memperdalam hubungan dengan Israel dan India, sedangkan Arab Saudi memilih memperkuat kerja sama pertahanan dengan Pakistan dan meningkatkan koordinasi dengan Turki serta Mesir untuk menciptakan keseimbangan strategis yang lebih mandiri.
Mengutip analis senior Mohammad Soliman, laporan tersebut menyebut bahwa kerangka analisis tradisional mengenai “Timur Tengah” sudah tidak lagi memadai dan perlu digantikan dengan konsep “Asia Barat” yang lebih mencerminkan keterkaitan kawasan tersebut dengan ekonomi dan politik Asia.
The Guardian: DPR AS Setujui Resolusi Pembatasan Keterlibatan Militer
Surat kabar The Guardian melaporkan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mengesahkan sebuah resolusi yang mewajibkan Presiden untuk menarik pasukan militer dari konflik dengan Iran.
Resolusi itu disetujui dengan perbandingan suara 215 berbanding 208 dan menjadi langkah pertama dari salah satu kamar Kongres sejak dimulainya Operasi “Epic Wrath” pada 28 Februari.
Empat anggota Partai Republik bergabung dengan kubu Demokrat, termasuk Thomas Massie dari Kentucky, Warren Davidson dari Ohio, Brian Fitzpatrick dari Pennsylvania, dan Tom Barrett dari Michigan.
Trump mengecam pemungutan suara tersebut sebagai tindakan yang “tidak patriotik” dan mengaitkannya dengan apa yang disebutnya sebagai “Trump Derangement Syndrome”.
The Guardian juga menyoroti inkonsistensi dalam pernyataan pemerintah AS. Di satu sisi, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan bahwa operasi militer telah berakhir, sementara di sisi lain Trump masih berbicara mengenai “negosiasi akhir untuk mengakhiri perang”.
Laporan itu menambahkan bahwa harga bensin telah mencapai 4,24 dolar AS per galon, Selat Hormuz masih tertutup, dan survei menunjukkan 59 persen warga Amerika tidak menyetujui cara Trump menangani konflik dengan Iran.
Media Arab dan Regional
Al Mayadeen: Washington Gagal Mencapai Tujuannya
Jaringan berita Al Mayadeen menilai Washington gagal mencapai tujuan-tujuannya dalam perang melawan Iran.
Menurut laporan tersebut, apabila Amerika Serikat benar-benar memiliki kemampuan militer untuk memaksa pembukaan kembali Selat Hormuz dan menghilangkan kartu truf utama Iran, maka langkah tersebut pasti sudah dilakukan. Namun kenyataannya, hal itu tidak terjadi.
Laporan itu menyatakan bahwa Timur Tengah sedang mendekati momen yang menentukan, di mana Donald Trump harus memilih antara mengakhiri perang yang gagal mencapai tujuannya atau melanjutkan konflik yang berisiko berubah menjadi perang berkepanjangan dan bahkan kekalahan strategis besar bagi Amerika Serikat.
Sebelum menghadiri rapat Situation Room di Gedung Putih, Trump menulis di media sosial bahwa dirinya hanya akan menerima kesepakatan yang mencakup dua komitmen eksplisit dari Iran:
Tidak mengembangkan senjata nuklir secara penuh.
Membuka Selat Hormuz tanpa syarat bagi pelayaran internasional.
Ia juga menegaskan bahwa untuk sementara waktu tidak akan ada pembayaran apa pun kepada Iran.
Namun rapat Dewan Keamanan Nasional AS pada 29 Mei 2026 yang berlangsung lebih dari dua jam berakhir tanpa keputusan yang jelas.
Arabi 21: Daya Tangkal Iran terhadap Israel
Situs berita Arabi 21 menyoroti kemampuan Iran dalam menciptakan efek penangkalan terhadap Israel dan mencegah perluasan operasi militer Israel di Lebanon.
Menurut artikel tersebut, 1 Juni 2026 diperkirakan akan menjadi hari yang menentukan dalam perang Israel melawan Lebanon, yang disebut sebagai bagian dari konflik yang lebih luas antara Trump-Netanyahu melawan Iran.
Laporan itu menyebut bahwa Netanyahu membatasi cakupan gencatan senjata hanya pada pinggiran selatan Beirut, sementara operasi militer di Lebanon Selatan terus berlangsung.
Akibatnya, Lebanon Selatan berubah menjadi pusat konfrontasi utama antara Hizbullah dan militer Israel.
Arabi 21 juga menyoroti penggunaan drone “Ababil” yang disebut berhasil menyerang tank, kelompok militer, dan perwira Israel dengan tingkat akurasi tinggi, sehingga menyebabkan kesulitan besar bagi komando militer Israel dalam mengendalikan situasi.
Al Jazeera: Iran Tetap Teguh pada Posisinya
Al Jazeera dalam sebuah analisis menulis bahwa Iran tetap mempertahankan posisi negosiasinya dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat.
Menurut laporan tersebut, Teheran masih mengkaji secara rinci proposal terbaru yang diajukan pemerintahan Trump sebelum mengambil sikap resmi.
Terdapat tiga isu utama yang masih menjadi sumber perbedaan:
- Pengelolaan Selat Hormuz.
- Pembebasan aset-aset Iran yang dibekukan.
- Kompleksitas situasi di Lebanon.
Sumber-sumber Iran disebut menegaskan bahwa penyelesaian konflik dengan Amerika Serikat berkaitan langsung dengan tercapainya kesepakatan yang menjamin keamanan dan penghentian konflik di Lebanon.
Media Rusia dan China
Interfax: Putin Dukung Solusi Politik
Kantor berita Rusia Interfax melaporkan pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin di sela-sela Forum Ekonomi St. Petersburg.
Putin menegaskan dukungan Moskow terhadap penghentian cepat konflik dan pencarian solusi politik.
Ia menyatakan bahwa Rusia sejak awal krisis mendorong Iran untuk menahan diri dan menghindari tindakan militer terhadap negara-negara Islam lainnya.
Putin juga menyampaikan keyakinannya bahwa baik pemerintahan Trump maupun kepemimpinan Iran sama-sama berupaya mempertahankan kepentingan nasional mereka sambil mencari solusi kompromi.
Menurutnya, terdapat tanda-tanda yang menunjukkan kedua pihak masih berusaha mencapai kesepakatan.
Ia juga membantah tuduhan bahwa Rusia memperoleh keuntungan besar dari perang tersebut, meskipun mengakui kenaikan harga energi memang memberikan manfaat ekonomi jangka pendek bagi perusahaan-perusahaan Rusia.
Xinhua: Peluang Kesepakatan Masih Terbuka
Kantor berita Xinhua menerbitkan laporan berjudul “Sinyal Bertentangan dalam Perundingan AS-Iran; Perbedaan Mendalam Tetap Ada Namun Peluang Kesepakatan Masih Terbuka.”
Menurut laporan tersebut, meskipun harapan terhadap tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang meningkat, pesan-pesan yang saling bertentangan dari kedua pihak menimbulkan keraguan baru mengenai masa depan proses diplomatik.
Media-media Iran melaporkan bahwa Teheran menghentikan sementara pembicaraan dan pertukaran rancangan kesepakatan dengan Washington hingga operasi Israel di Gaza dan Lebanon dihentikan.
Beberapa sumber juga menyebut bahwa opsi seperti penutupan penuh Selat Hormuz dan aktivasi front baru di Bab al-Mandab sedang dipertimbangkan.
Di sisi lain, Trump menyatakan bahwa perundingan terus berlangsung dengan cepat dan menyampaikan harapan bahwa dalam waktu satu minggu dapat dicapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata serta membuka kembali Selat Hormuz.
Para analis yang dikutip Xinhua menilai bahwa perbedaan saat ini tidak lagi terbatas pada isu nuklir semata, tetapi telah meluas ke berbagai persoalan seperti arsitektur keamanan regional, peran Iran, tingkat pengaruh Amerika Serikat, pencabutan sanksi, dan mekanisme pengawasan.
Meskipun demikian, banyak pengamat berpendapat bahwa kedua pihak memiliki kepentingan untuk mempertahankan gencatan senjata mengingat tingginya biaya yang harus ditanggung jika perang kembali meluas. Oleh karena itu, sinyal-sinyal yang tampak bertentangan saat ini dinilai sebagai bagian dari upaya masing-masing pihak untuk memperkuat posisi tawar dalam perundingan yang sedang berlangsung.


