Washington, Purna Warta – Menurut laporan pemberitaan, seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada situs berita Amerika Semafor bahwa Tel Aviv telah memberi tahu Washington bahwa persediaan rudal pencegatnya—yang dirancang untuk menghadapi rudal balistik—mulai menipis.
Pejabat Amerika tersebut pada Minggu menyatakan bahwa pemerintah Amerika Serikat sebenarnya telah mengetahui selama beberapa bulan terakhir bahwa kemampuan pertahanan rudal rezim Israel mengalami penurunan.
Ia menambahkan bahwa masih belum jelas apakah Washington akan memutuskan untuk memindahkan persediaan rudal pencegat miliknya sendiri ke wilayah pendudukan atau tidak.
Dalam konteks yang sama, Bloomberg mengutip Marion Messmer, Direktur Program Keamanan Internasional di lembaga riset Chatham House, yang menyatakan bahwa Iran secara sengaja berupaya menguras sistem pertahanan udara serta cadangan rudal milik Amerika Serikat dan Israel melalui serangan yang berkelanjutan.
Messmer menambahkan bahwa Amerika Serikat setiap tahun hanya membeli jumlah terbatas rudal pencegat, yang dapat menjadi kerentanan potensial dalam sistem pertahanan udara.
Laporan Media Internasional Terkait Tekanan terhadap Sistem Pertahanan Israel
Sejumlah media internasional juga melaporkan meningkatnya tekanan terhadap sistem pertahanan udara Israel di tengah meningkatnya intensitas serangan rudal di kawasan.
Menurut laporan Reuters, sistem pertahanan udara Israel—yang terdiri dari beberapa lapisan seperti Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow—dirancang untuk menghadapi berbagai jenis ancaman, mulai dari roket jarak pendek hingga rudal balistik jarak jauh. Namun meningkatnya frekuensi serangan dalam konflik terbaru telah meningkatkan kebutuhan penggunaan rudal pencegat dalam jumlah besar.
Sementara itu, The Wall Street Journal melaporkan bahwa penggunaan sistem pertahanan udara secara intensif dapat menguras persediaan rudal pencegat dengan cepat, terutama jika serangan terjadi secara simultan dari berbagai arah.
Media Financial Times juga mencatat bahwa setiap rudal pencegat dalam sistem pertahanan udara Israel memiliki biaya yang sangat tinggi. Hal ini membuat penggunaan dalam jumlah besar selama konflik berkepanjangan dapat menimbulkan tekanan finansial dan logistik yang signifikan.
Menurut Associated Press (AP), militer Israel telah meningkatkan koordinasi dengan Amerika Serikat untuk memastikan keberlanjutan pasokan sistem pertahanan udara dan amunisi pencegat. Washington selama ini merupakan pemasok utama teknologi pertahanan udara bagi Israel.
Di sisi lain, laporan Al Jazeera menyebutkan bahwa meningkatnya serangan rudal dari berbagai kelompok di kawasan—termasuk dari Lebanon, Gaza, dan wilayah lain—telah membuat sistem pertahanan udara Israel harus beroperasi hampir tanpa henti.
Sementara itu, BBC melaporkan bahwa meningkatnya ketegangan regional membuat sejumlah analis keamanan memperingatkan kemungkinan tekanan yang lebih besar terhadap sistem pertahanan udara Israel jika konflik terus berlanjut dalam jangka waktu lama.
Menurut The New York Times, sistem pertahanan udara Israel selama ini dikenal sebagai salah satu yang paling canggih di dunia. Namun para ahli militer menyatakan bahwa tidak ada sistem pertahanan udara yang mampu menghadapi serangan dalam jumlah besar secara terus-menerus tanpa menghadapi keterbatasan logistik.
Kekhawatiran Akan Eskalasi Konflik
Para pengamat keamanan internasional menilai bahwa jika intensitas serangan rudal di kawasan terus meningkat, tekanan terhadap sistem pertahanan udara Israel dan sekutunya kemungkinan akan semakin besar.
Beberapa analis juga memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan dapat menyebabkan perlombaan teknologi militer baru di kawasan Timur Tengah, sekaligus meningkatkan risiko eskalasi konflik regional yang lebih luas.


