Media Iran: Israel Secara Cerdik Menjauhkan Diri dari Ketegangan di Selat Hormuz dan Mengalihkan Bebannya kepada Amerika Serikat

Israel hormuz

Tehran, Purna Warta – Setelah tercapainya gencatan senjata pada bulan  Mei dan penandatanganan Nota Kesepahaman Islamabad pada bulan Khordad 1405 (sekitar Mei–Juni 2026), hubungan antara Teheran dan Washington sempat memasuki periode yang relatif tenang. Namun pada bulan Tir (sekitar Juni–Juli 2026), menurut laporan ini, pelanggaran terhadap nota kesepahaman oleh pihak Amerika Serikat terkait isu Selat Hormuz memicu respons dan tindakan militer dari Iran.

Surat kabar Quds menulis bahwa, berbeda dengan konflik yang berlangsung selama 12 hari maupun 40 hari sebelumnya, Israel menjadi pihak yang hampir tidak terlibat dalam ketegangan kali ini.

Menurut laporan tersebut, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi sikap pasif Tel Aviv.

Pertama, masyarakat Israel dinilai mengalami kelelahan akibat berbulan-bulan menghadapi perang yang mahal. Artikel tersebut mengutip hasil survei yang disebut berasal dari The Times of Israel, yang menyatakan bahwa hanya 38 persen warga Israel yang menilai kondisi keamanan negara mereka lebih baik dibandingkan sebelum perang.

Kedua, meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia dinilai tidak hanya berkaitan dengan jalur pelayaran internasional dan ekonomi global, tetapi juga membawa ancaman langsung terhadap Israel. Namun, menurut artikel tersebut, dampak media dan opini publik internasional membuat isu tersebut tidak banyak diungkap secara terbuka.

Ketiga, biaya finansial dan dampak media dari dua putaran konflik sebelumnya juga disebut menjadi pertimbangan penting bagi Israel. Meski demikian, penulis artikel mengakui bahwa penilaian tersebut merupakan analisis yang didasarkan pada pernyataan pejabat dan laporan media, bukan berdasarkan dokumen resmi.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa berbagai media berbahasa Ibrani dan media Barat berulang kali menyoroti bahwa kemampuan Iran untuk mengendalikan Selat Hormuz kini tidak lagi dipandang sekadar ancaman atau slogan politik, melainkan sebagai instrumen strategis yang memiliki daya tangkal sangat besar.

Artikel itu kemudian mengutip pernyataan JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat, yang disebut menyatakan bahwa tidak ada solusi militer yang efektif untuk membuka kembali Selat Hormuz apabila jalur tersebut ditutup, serta bahwa Iran dapat mempertahankan penutupan selat tersebut dengan menggunakan pesawat nirawak (drone) berbiaya rendah.

Menurut penulis artikel, pernyataan tersebut menunjukkan besarnya kemampuan pencegahan (deterrence) yang dimiliki Iran dalam persamaan keamanan kawasan.

Sebagai kesimpulan, artikel tersebut berpendapat bahwa Israel berhasil mengalihkan beban konfrontasi dengan Iran kepada Amerika Serikat dan negara-negara di kawasan Teluk Persia, sementara Iran, dengan menegaskan hak kedaulatannya atas Selat Hormuz, menunjukkan bahwa kemampuan pencegahan yang bersumber dari kekuatan nasional dapat lebih efektif dibandingkan berbagai upaya diplomatik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *