Teheran, Purna Warta – Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran telah meratifikasi proposal untuk meningkatkan anggaran militer dan membangun kemampuan pertahanan negara untuk menghadapi kemungkinan konfrontasi dengan rezim Zionis, ujar juru bicaranya.
Baca juga: Sayyid Ammar al-Hakim: Iran Benteng Garis Depan Dunia Islam Melawan Rezim Zionis
Berbicara kepada Tasnim pada hari Minggu, Ebrahim Rezaei mengatakan proposal tersebut telah disusun selama perang agresi Israel selama 12 hari terhadap Iran pada bulan Juni dan kemudian ditinjau oleh komisi dengan partisipasi berbagai lembaga negara.
Ia menjelaskan bahwa rencana tersebut bertujuan untuk memperkuat kemampuan Angkatan Bersenjata Iran dalam menghadapi kejahatan dan tindakan agresi rezim Zionis.
Berdasarkan usulan tersebut, Badan Perencanaan dan Anggaran serta Kementerian Perminyakan diwajibkan untuk mengalokasikan sepenuhnya anggaran pertahanan 2025 serta sisa anggaran pertahanan 2024, ujarnya.
Badan Perencanaan dan Anggaran juga diwajibkan untuk menanggung alokasi tahunan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi untuk pendanaan pertahanan, baik melalui penghematan anggaran umum maupun melalui hasil penjualan minyak, tambah anggota parlemen tersebut.
Rezaei menyatakan bahwa Bank Sentral Iran harus menyediakan hingga €2 miliar dari sumber daya mata uang asing yang diblokir atau sumber daya lainnya sebagai pinjaman tanpa bunga kepada Staf Umum Angkatan Bersenjata untuk proyek-proyek pertahanan yang mendesak.
Lebih lanjut, Badan Perencanaan dan Anggaran, bekerja sama dengan Bank Sentral dan Kementerian Perekonomian, akan menyediakan tambahan €2 miliar bagi Kementerian Pertahanan untuk membeli barang-barang pertahanan utama dari luar negeri, berkoordinasi dengan Staf Umum, ujarnya.
Untuk mendukung kebutuhan pertahanan, Badan Perencanaan dan Anggaran serta Kementerian Perminyakan juga berwenang untuk mengalokasikan minyak senilai $1,5 miliar kepada Angkatan Bersenjata, tegas Rezaei.
Baca juga: Menlu Araqchi: Iran Sangat Dekat dengan Kerangka Kerja Baru untuk Kerja Sama dengan IAEA
Juru bicara tersebut mencatat bahwa proposal tersebut juga mengalokasikan 30 persen pendapatan dari penggunaan koridor udara Iran dan biaya transit udara kepada Angkatan Darat untuk memperkuat sistem pertahanan udara.
“Dengan diadopsinya rencana ini, kami berharap kekhawatiran mengenai penguatan kekuatan pertahanan negara akan berkurang, dan transformasi fundamental akan terjadi pada peralatan, kapabilitas, dan bahkan mata pencaharian Angkatan Bersenjata,” ujar Rezaei, seraya menambahkan bahwa proposal tersebut akan ditinjau dalam sidang terbuka Parlemen mendatang.


