Abu Dhabi, Purna Warta – Terungkapnya informasi mengenai perjalanan Perdana Menteri rezim Zionis ke Abu Dhabi telah memicu kemarahan pihak Uni Emirat Arab (UEA).
Menurut laporan kantor berita Al Mayadeen, jaringan televisi “i24” melaporkan bahwa setelah kabar kunjungan Benjamin Netanyahu, perdana menteri rezim Zionis, ke Abu Dhabi dikonfirmasi, pemerintah UEA mengirimkan pesan protes keras kepada rezim tersebut.
Berdasarkan laporan itu, para pejabat Emirat disebut sangat marah atas bocornya informasi mengenai kunjungan tersebut.
Kantor Perdana Menteri rezim Zionis pada Rabu malam mengungkapkan bahwa di tengah perang Israel dan Amerika Serikat melawan Iran, Netanyahu melakukan perjalanan rahasia ke UEA dan bertemu secara tertutup dengan Mohammed bin Zayed, Presiden UEA.
Namun demikian, Kementerian Luar Negeri UEA membantah laporan yang beredar mengenai kunjungan Netanyahu ke negara tersebut maupun penerimaan delegasi militer rezim Zionis di wilayah Emirat.
Meski telah ada bantahan resmi, Zimo Aghon, kepala staf Netanyahu yang baru-baru ini mengundurkan diri dan ikut mendampingi Netanyahu dalam perjalanan tersebut, menolak narasi pemerintah Abu Dhabi.
Ia mengatakan bahwa sebagai orang yang mendampingi Netanyahu dalam “perjalanan bersejarah” itu, dirinya dapat memastikan bahwa Netanyahu disambut layaknya seorang raja.
Mantan pejabat rezim Zionis tersebut juga menyatakan bahwa Mohammed bin Zayed secara pribadi menjemput Netanyahu dari bandara dan membawanya menuju istana.
Dalam perkembangan terkait, hubungan antara Israel dan Uni Emirat Arab kembali menjadi sorotan sejak normalisasi hubungan kedua pihak melalui Kesepakatan Abraham pada tahun 2020. Meski kerja sama ekonomi dan keamanan terus berlangsung, sejumlah laporan menyebutkan bahwa UEA berupaya menjaga jarak dari langkah-langkah kontroversial Israel, terutama di tengah meningkatnya ketegangan regional dan perang di Gaza.
Di sisi lain, kebocoran informasi mengenai kunjungan rahasia pejabat tinggi Israel ke negara-negara Arab kerap memicu sensitivitas politik di kawasan Teluk. Beberapa analis menilai bahwa Abu Dhabi berusaha menghindari tekanan publik dan kritik regional terkait hubungan dekatnya dengan Israel, khususnya ketika sentimen masyarakat Arab terhadap kebijakan militer Israel sedang meningkat tajam.
Sementara itu, media-media Israel melaporkan bahwa koordinasi keamanan dan diplomatik antara Tel Aviv dan sejumlah negara Arab masih terus berlangsung secara intensif, terutama terkait dinamika konflik regional, Iran, serta keamanan jalur perdagangan dan energi di Timur Tengah.


