Kekhawatiran Intelijen Lebanon atas Potensi Tindakan Penguasa Baru Suriah terhadap Hizbullah dengan Koordinasi Tel Aviv

Julani

Beirut, Purna Warta – Menurut laporan Al-Akhbar, sumber-sumber intelijen resmi Lebanon khawatir terhadap keterlibatan pemerintah Damaskus di pihak Israel dalam menarget Lebanon, terutama setelah Ahmad Al-Shar‘, yang dikenal sebagai Abu Muhammad Al-Joulani, Kepala Pemerintahan Sementara dan Transisi Suriah, menghasut para pendukungnya dengan mengatakan bahwa “saatnya membalas dendam terhadap Hizbullah telah tiba.”

Sumber intelijen Lebanon semakin khawatir akan potensi eskalasi konflik di perbatasan Suriah-Lebanon dari timur hingga utara, terutama jika terjadi perang antara Amerika Serikat dan Iran. Kekhawatiran ini meningkat signifikan setelah informasi diterima bahwa Ahmad Al-Shar‘ beberapa hari lalu dalam sebuah pertemuan rahasia dengan pejabat kelompok militan Hay’at Tahrir al-Sham menyatakan: “Sekarang giliran Hizbullah, dan kami tidak akan melupakan balas dendam kami.”

Laporan tambahan menunjukkan adanya konsentrasi pejuang asing di dekat perbatasan Lebanon, serta dimulainya kampanye propaganda yang ditujukan untuk melawan perlawanan Lebanon.

Sumber intelijen juga mencatat bahwa penempatan unit militer dan pejuang dari Chechnya, Uzbekistan, Uighur, dan kelompok sejenis di perbatasan Suriah-Lebanon telah menimbulkan kekhawatiran serius. Unit dan pejuang ini dikenal memiliki catatan kekerasan dan pembantaian.

Sumber tersebut bahkan memperingatkan bahwa persiapan ini dilakukan dengan koordinasi tidak langsung dengan Israel, dan keterlibatan kelompok-kelompok spesialis pembantaian bukanlah hal sepele atau sementara, melainkan indikator sangat berbahaya.

Dalam konteks ini, pengumuman militer Suriah mengenai latihan militer dengan amunisi hidup pada 10 Februari di wilayah Al-Qalamoun, perbatasan dengan Lebanon, dianggap sebagai tanda tambahan bahwa persiapan lapangan telah hampir selesai.

Sumber intelijen Lebanon menilai latihan ini, jika terjadi konfrontasi regional, dapat dijadikan alasan untuk membuka front baru di perbatasan timur Lebanon.

Sumber-sumber tersebut menambahkan bahwa pernyataan Kementerian Dalam Negeri Suriah terhadap Hizbullah Lebanon merupakan langkah awal dari strategi ini. Kementerian Dalam Negeri Suriah pada Minggu lalu menuding “Inti Al-Mazzeh” di Suriah, dan menuduh Hizbullah menyediakan rudal dan drone untuk kelompok tersebut.

Penguasa baru Suriah disebut sedang membangun dasar politik dan media untuk tahap baru, dengan dalih seperti “campur tangan Hizbullah dalam urusan Suriah” atau “keberadaan sisa rezim Suriah sebelumnya” di Lebanon, guna meningkatkan ketegangan terhadap negara tersebut.

Sumber intelijen Lebanon menilai dua dalih tersebut tidak berdasar dan lemah, serta merupakan bagian dari proyek yang lebih luas untuk melayani kepentingan Israel, karena secara faktual Hizbullah tidak berada dalam posisi untuk campur tangan dalam urusan internal Suriah. Hizbullah pun secara tegas membantah setiap hubungan dengan inti yang dituduhkan.

Selain itu, penyelidikan yang dilakukan militer Lebanon dan unit intelijen militer dari Direktorat Keamanan Umum Lebanon menunjukkan bahwa beberapa perwira rezim Suriah sebelumnya yang menetap di Lebanon berada pada tingkat pangkat rendah, beberapa di antaranya menikah dengan warga Lebanon, tanpa ada perintah penahanan atau aktivitas militer/keamanan terhadap mereka, serta keberadaan mereka sepenuhnya sesuai hukum Lebanon. Damaskus juga belum menyerahkan daftar perwira yang diklaim sedang dicari dan tinggal di Lebanon.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *