Tehran, Purna Warta – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan pelaksanaan gelombang ke-66 dari operasi balasan yang sedang berlangsung, Operasi Janji Sejati 4, yang melibatkan serangan balasan berskala besar dengan berbagai sistem rudal yang menargetkan lokasi-lokasi di wilayah pendudukan serta posisi militer Amerika Serikat di kawasan.
Dalam pernyataan yang dirilis pada Jumat, Kantor Hubungan Masyarakat IRGC menyatakan bahwa fase terbaru tersebut dilaksanakan “dengan sukses”, dengan menghantam sejumlah target di jantung dan wilayah selatan tanah pendudukan, termasuk kota Tel Aviv, serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan.
Pernyataan tersebut merinci penggunaan kombinasi sistem rudal berbahan bakar padat dan cair, termasuk rudal Qadr berkepala ledak ganda berpresisi tinggi dan berkategori super berat, serta rudal Khorramshahr, Kheibar Shekan, dan rudal jarak menengah Qiam.
Pada gelombang ke-66 ini juga digunakan rudal Zolfaqar serta drone serang.
“Mimpi buruk sirene ke sirene” di wilayah pendudukan
Pernyataan itu menambahkan bahwa otoritas Israel, dalam upaya mengatasi kegagalan sebelumnya, krisis internal, serta dampak dari skandal Jeffrey Epstein, telah memasuki “perang yang tidak adil terhadap Iran” yang sejak awal sudah ditakdirkan gagal.
Menurut IRGC, serangan balasan Republik Islam terhadap agresi tersebut telah membuat kehidupan di wilayah pendudukan berubah menjadi “keadaan dari sirene ke sirene”, serta memaksa para pemukim ilegal di wilayah pendudukan untuk berlindung dalam bunker dalam waktu yang lama.
Pernyataan itu diakhiri dengan peringatan:
“Kami tidak akan membiarkan kalian; pembalasan ini akan terus berlanjut…”
Operasi Janji Sejati 4 dimulai segera setelah Tel Aviv dan Washington melancarkan gelombang terbaru agresi ilegal terhadap Republik Islam Iran pada akhir bulan lalu.
Serangan balasan tersebut telah menghantam target-target sensitif dan strategis di jantung wilayah pendudukan, termasuk yang berada di kota Tel Aviv, kota suci yang diduduki Jerusalem (al-Quds), pelabuhan yang diduduki Haifa, Beersheba yang menjadi pusat teknologi rezim tersebut, serta kawasan Negev Desert.
Pos-pos militer Amerika di berbagai wilayah kawasan—termasuk yang berada di Qatar, Bahrain, United Arab Emirates, Kuwait, dan Saudi Arabia—juga menghadapi serangan balasan yang intens.


